11. HARGA YANG HARUS DIBAYAR

HIDUP INI BUKAN sesuatu yang gratis, semua juga ada harganya. Ketika Adam dan Hawa diciptakan, mereka harus mengelola bumi dan menaklukkan semua rintangan kehidupan, di dalamnya termasuk Lusifer yang jatuh. Demikian pula hidup kita. Ada yang harus dibayar. Pertanggung jawaban harus kita berikan di akhir kehidupan ini.1 Banyak orang Kristen berpikir bahwa kematian Tuhan Yesus di kayu salib menghindarkan manusia dari tanggung jawab, seakan-akan anugerah mengubah kehidupan ini menjadi serba gratis. Padahal justru sebaliknya, anugerah menempatkan manusia pada tanggung jawab yang berat, sebab siapa yang diberi banyak dituntut banyak.2 Anugerah menempatkan orang percaya untuk hidup sebagai anak-anak Allah yang sempurna seperti Bapa di surga. Hal ini membuat hidup orang percaya menjadi berat. Orang percaya dinyatakan sebagai orang-orang yang berhutang untuk hidup menurut roh bukan menurut daging.3

Hidup menurut roh artinya segala sesuatu yang dilakukan sesuai dengan kehendak Bapa. Tentu saja Tuhan memberikan kesempatan kepada masing-masing individu untuk dapat melakukannya atau menghasilkan buah. Kalau beberapa tahun lampau seseorang belum bisa menghasilkan buah, sekarang diharapkan sudah bisa menghasilkan buah. Kalau sekarang belum bisa menghasilkan buah, maka di waktu-waktu yang akan datang diharapkan sudah bisa menghasilkan buah. Bila kesempatan yang diberikan oleh Tuhan tidak digunakan dengan sebaik-baiknya, maka tidak ada lagi kesempatan untuk menjadi anak-anak Allah. Ini berarti ibarat pohon buah dapat tercabut dari ladang Tuhan.4 Perumpamaan tersebut memberikan indikasi bahwa seorang anak Allah diberi tanggung jawab untuk sungguh-sungguh berkeadaan sebagai anak Tuhan. Berkeadaan sebagai anak Tuhan artinya menghasilkan buah “kodrat Ilahi” dalam kehidupannya. Kodrat Ilahi ditandai dengan kehidupan yang tidak dicemari oleh perbuatan yang bertentangan dengan keinginan Bapa, tidak memandang dunia sebagai suatu keindahan dan membela pekerjaan Tuhan tanpa batas. Jika tidak bertanggung jawab, ia tidak akan diakui sebagai anak Allah.5 Dalam hal ini hendaknya kita tidak berpikir bahwa status anak Allah dapat melekat selamanya tanpa bisa ada perubahan. Anugerah untuk menjadi anak-anak Allah disediakan oleh Allah Bapa, tetapi respon seseorang juga menentukan apakah ia menerima anugerah tersebut atau menolaknya. Menyadari hal ini betapa mahal kesempatan yang diberikan Tuhan kepada kita. Kesempatan itu ada dalam perjalanan waktu yang terus bergulir. Oleh sebab itu betapa berharganya waktu yang Tuhan sediakan. Maka perlulah kita memeriksa, sudah seberapa banyak buah yang telah kita hasilkan.

Kebodohan dalam diri seseorang menutup mata pengertiannya terhadap tanggung jawab dalam kehidupan ini. Karena tidak mengerti tanggung jawabnya, maka hidupnya hanya dikendalikan oleh keinginan demi keinginan yang menguasai hidupnya. Dengan cara demikian ia menikmati hidupnya dan menjadikan kesenangan diri sendiri sebagai satu-satunya dunia yang ia miliki. Orang-orang seperti ini tidak menghadirkan Kerajaan Allah, tetapi kerajaannya sendiri. Percuma kalau mereka mengucapkan Doa Bapa Kami. Dalam hal ini terdapat dua kelompok orang Kristen, yaitu mereka yang menghadirkan Kerajaan Allah dengan belajar terus melakukan kehendak Bapa, dan yang menghadirkan kerajaannya sendiri yaitu hidup dalam kesenangannya sendiri. Hal ini sama dengan seorang anak yang tidak mau bersekolah dengan baik, hari-harinya hanya diisi dengan berbagai jenis mainan. Berbeda dengan seorang anak yang senang bersekolah. Dengan tekun ia belajar dan menikmati kesibukan belajarnya. Setiap akhir tahun, ia dapat menikmati hasil yang telah dia capai selama tahun itu. Anak-anak yang tahunya hanya bermain, mereka tidak bisa mengerti mengapa anak-anak yang rajin bersekolah bisa berbuat demikian, sebaliknya anak-anak yang rajin bersekolah juga tidak mengerti mengapa anak-anak itu tidak belajar dengan rajin. Keduanya memiliki alam berpikir yang berbeda.

1) Roma 14:12; 2Korintus 5:9-10 ; 2) Lukas 12:48 ; 3) Roma 8:12 ; 4) Lukas 13:5-9 ; 5) Matius 7:21-23

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.