11. HANYA SATU KEPENTINGAN

Salah satu persiapan yang harus dimiliki seseorang untuk menyongsong kematiannya adalah dengan tidak memiliki kepentingan apa pun dalam hidup ini, kecuali bagi Kerajaan Tuhan Yesus Kristus. Orang yang masih memiliki kepentingan untuk dirinya sendiri atau untuk yang lain -selain untuk Kerajaan Tuhan Yesus Kristus- tidak akan siap menghadap Tuhan. Orang-orang seperti ini tidak akan tahan berdiri di hadapan Anak Manusia. Itulah sebabnya mereka pasti takut menghadapi kematian.

Sejak semula, sebenarnya manusia diciptakan hanya untuk Penciptanya. Keberadaan manusia bukan karena dirinya sendiri atau kausalitas yang lain. Tetapi karena “Invisible hand” tangan yang tidak kelihatan yang mengadakannya. Tentu saja keberadaan manusia adalah untuk maksud dan tujuan yang dirancang oleh Penciptanya tersebut. Maka dalam hal ini manusia tidak berhak menemukan maksud dan tujuan hidupnya dari dirinya sendiri, alam sekitarnya, dan dari sumber mana pun.

Maksud dan tujuan manusia diciptakan adalah agar manusia memiliki keberadaan segambar dan serupa dengan Penciptanya. Dengan keberadaan segambar dan serupa dengan Penciptanya inilah manusia dapat melakukan segala sesuatu yang selalu sesuai dengan kehendak Penciptanya. Dengan demikian manusia dapat melayani Elohim Yahweh -Penciptanya- secara proporsional. Dengan hal ini makhluk yang disebut manusia barulah sungguh-sungguh dapat menyenangkan hati Tuhan. Jadi, maksud dan tujuan manusia diciptakan hanyalah untuk menyenangkan hati Penciptanya semata-mata.

Kejatuhan manusia ke dalam dosa -dimana manusia gagal untuk mencapai keadaan keberadaan yang segambar dan serupa dengan Allah- membuat manusia tidak mampu mencapai maksud tujuan dirinya diciptakan. Keberadaan manusia yang jatuh dalam dosa, membuat manusia kehilangan kemuliaan Allah -artinya manusia tidak mampu sepikiran dan seperasaan dengan Allah- sehingga manusia tidak dapat melakukan tindakan yang selalu sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah. Ini adalah keadaan yang tidak diinginkan oleh Allah. Walaupun manusia masih tetap bisa menjadi manusia yang bermoral baik, tetapi manusia tidak dapat segambar dan serupa dengan Allah. Ini berarti manusia telah gagal menjadi manusia sesuai dengan maksud dan tujuan dirinya diciptakan.

Keselamatan dalam Yesus Kristus dimaksudkan agar manusia yang terpanggil dalam Yesus Kristus untuk dapat dikembalikan ke rancangan Allah semula. Dikembalikan ke rancangan semula dikalimatkan oleh Yesus sebagai sempurna seperti Bapa, yang dikalimatkan oleh Paulus menjadi serupa dengan Yesus. Inilah inti dari Injil atau inti dan esensi dari keselamatan yang Allah Bapa berikan melalui karya salib. Orang percaya yang dipanggil dan dipilih untuk mendengar Injil harus berjuang mencapai dan memiliki maksud keselamatan itu atau isi Injil. Inilah isi perjuangan yang harus dimiliki dan dialami orang percaya di sepanjang zaman, di segala tempat dan di segala keadaan. Tidak pernah dapat direduksi sedikit pun. Dari perjuangan ini akan dilahirkan atau dihasilkan buah dimana orang percaya bisa berkeadaan sebagai manusia Allah (man of God) yang berkodrat Ilahi atau mengambil bagian dalam kekudusan Allah. Sampai pada tingkat ini seseorang baru bisa disebut sebagai anak Allah.

Seiring dengan perjuangan untuk menjadi sempurna seperti Bapa atau serupa dengan Yesus, orang percaya yang benar ini harus berjuang menolong orang lain untuk menjadi sempurna seperti Bapa dan serupa dengan Yesus. Untuk perjuangan ini, tentu pertama yang harus dipertaruhkan adalah dirinya sendiri, dimana ia harus semakin serupa dengan Yesus untuk dapat menjadi teladan atau role model bagi orang-orang yang dilayaninya. Selanjutnya, ia mempertaruhkan segenap potensi yang ada padanya untuk proyek penyelamatan itu. Ini adalah inti atau isi dari pelayanan pekerjaan Tuhan yang sama dengan proyek penyelamatan manusia. Dengan demikian, sesungguhnya pelayanan bukan sekadar membangun gereja, menyelenggarakan liturgi, kegiatan sosial, usaha Kristenisasi, dan berbagai kegiatan di lingkungan gereja. Semua itu hanya kendaraan semata-mata. Tetapi pada intinya adalah mengubah manusia, dari kodrat dosa ke kodrat Ilahi atau menjadi manusia Allah (man of God) yang mengambil bagian dalam kekudusan Allah. Sampai pada tingkat ini seseorang baru bisa disebut sebagai anak Allah.

Dengan demikian, satu-satunya kepentingan hidup umat pilihan adalah bagaimana berjuang untuk mengubah diri berkeadaan sebagai anak-anak Allah yang berkodrat Ilahi atau yang mengambil bagian dalam kekudusan Allah, dan menolong orang lain untuk mencapai keadaan yang sama. Tidak ada kepentingan dalam hidup orang percaya selain dua hal ini. Jika ada kepentingan lain selain hal ini, pasti merupakan langkah-langkah pengkhianatan kepada Tuhan, sehingga maksud tujuan kita diciptakan oleh Allah gagal terwujud atau gagal terpenuhi. Oleh sebab itu patutlah kita memeriksa hidup kita, apakah kita telah mengisi hidup kita dengan kepentingan ini atau belum?

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.