11. DUA KODRAT DALAM SATU TUBUH

Tidak sedikit orang Kristen yang berpikir, bahwa dengan korban Tuhan Yesus di kayu salib, walaupun seorang Kristen hidup dalam dosa (melayani hukum dosa), maka hal tersebut tidak menjadi masalah, sebab Allah melihat darah Yesus yang melingkupi orang percaya. Seakan-akan Allah tidak mempersoalkan dosa yang dilakukan orang percaya, atau kodrat dosa yang masih menguasainya. Jadi, menurut mereka, walaupun Paulus dengan tubuh insaninya melayani hukum dosa -tapi karena ia seorang yang memiliki anugerah keselamatan oleh darah Yesus- maka hal itu tidak menjadi masalah sama sekali. Pandangan ini sangat menyesatkan.

Sebelum mengenal keselamatan dalam Tuhan Yesus, Paulus tidak memahami bagaimana menundukkan pikirannya kepada hukum Allah, dalam konteks orang percaya, yaitu untuk bisa hidup dalam pimpinan Roh. Sebelum ia mengenal Tuhan Yesus, ia melakukan hukum secara legalistik, yaitu melakukan hukum sesuai dengan bunyinya. Maka bisa dimengerti jika ia bisa menyatakan diri sebagai tidak bercacat. Tetapi setelah mengenal keselamatan dalam Yesus Kristus, ia memahami bagaimana memiliki pikiran untuk dapat melayani hukum Allah, yaitu melakukan hukum Allah bukan demi hukum itu, tetapi karena dalam pimpinan Roh, yang sama dengan mengenakan kodrat Ilahi. Sebelum mengenal keselamatan dalam Yesus Kristus, ia tidak mengenal mengenai kodrat dosa. Jadi, hal ini menunjukkan bahwa pergumulan Paulus dalam Roma 5:26 adalah pergumulan sesudah ia mengenal Tuhan Yesus.

Paulus mengatakan: Dengan akal budiku akau melayani hukum Allah. Kata “akal budi” dalam teks aslinya adalah nous (νους),yang sama artinya dengan pikiran. Adapun kata “melayani” dalam teks aslinya adalah douleuoo(δουλεύω), yang artinya diperbudak atau dibelenggu atau diperhamba, hal ini sama dengan “menundukkan diri”. Kalau Paulus mengatakan bahwa dengan akal budinya ia melayani hukum Allah, artinya bahwa Paulus menundukkan pikirannya pada kehendak Allah. Paulus melakukannya dengan sengaja dan sadar. Ini berarti Paulus harus menggerakkan dirinya sendiri untuk menundukkan pikirannya kepada kehendak Allah. Paulus berusaha untuk mengikat atau membelenggu atau memperbudak pikirannya dengan hukum kesucian Allah.

Kemudian Paulus menyatakan: tetapi dengan tubuh insaniku aku melayani hukum dosa. “Tubuh insani” dalam teks aslinya adalah sark (σαρξ), yang menunjuk kepada daging yang memuat “kodrat dosa”, yang dalam teks aslinya adalah nomo hamartias (νομω αμαρτιας). Paulus jelas sekali menunjukkan bahwa dirinya masih memiliki kodrat dosa di dalam dirinya. Tetapi ini bukan berarti Paulus sengaja menundukkan diri kepada kehendak dosa atau kodrat dosa di dalam dirinya. Kalimat ini sangat penting untuk diperhatikan. Seharusnya dalam terjemahan tersebut tidak ada kalimat “melayani hukum dosa”. Sebab kalimat ini dapat mengesankan bahwa Paulus sengaja menundukkan diri kepada dosa atau melayani kodrat dosa. Dalam teks aslinya tertulis: ara oun autos ego to men noi douleo nomo theou te de sarki nomo hamartias (Αρα οὖν αὐτὸς ἐγὼ τῷ μὲν νοῒδουλεύω νόμῳ θεοῦ τῇ δὲ σαρκὶ νόμῳἁμαρτίας).

Kalau kalimat dalam Roma 7:26 dapat dibagi dalam dua bagian, maka bagian pertama berbunyi: Jadi dengan akal budiku aku melayani hukum Allah, adapun kalimat berikutnya adalah: tetapi dengan tubuh insaniku aku melayani hukum dosa. Kalimat predikat memuat kata douleo, tetapi di kalimat obyek tidak terdapat kata douleuoo. Memang kata douleuoo bisa digunakan dalam dua kalimat tersebut, tetapi kita harus berhati-hati agar jangan menimbulkan kesan seakan-akan Paulus (sengaja) menundukkan diri kepada dosa, untuk menuruti atau melayani kodrat dosa, dan hal itu dipandang bukan masalah sama sekali.

Paulus menundukkan pikirannya kepada hukum Allah (hukum kesucian Allah), tetapi tidak dikatakan bahwa Paulus sengaja memperbudak diri kepada hukum dosa atau mengikatkan diri kepada kodrat dosa di dalam dirinya atau melayani hukum dosa. Ada dua kalimat penting dalam ayat tersebut yaitu ego to men (ἐγὼ τῷ μὲν), yang artinya “aku sendiri dengan sungguh-sungguh”. Supaya tidak salah mengerti yang dimaksud Paulus dalam Roma 7:26, maka mestinya ayat ini diterjemahkan: Aku sendiri dengan sungguh-sungguh menundukkan pikiranku kepada hukum Allah (kesucian atau kehendak Allah), sementara aku masih tinggal dalam tubuh yang ada dalam kodrat dosa. Kalimat ego to men, hanya ada di kalimat pertama. Kalimat ego to men (aku sendiri dengan sungguh-sungguh) tidak ada atau tidak dimiliki oleh kalimat kedua. Hal ini mengisyaratkan bahwa hal melayani hukum dosa, bukanlah tindakan yang sengaja dilakukan. Memang faktanya kadang-kadang masih terjadi, tindakan yang menuruti kodrat dosa, tetapi Paulus tidak sungguh-sungguh mau lakukan.

Kalimat: … tetapi dengan tubuh insaniku aku melayani hukum dosa. Harus dimengerti bahwa sementara pikiran Paulus ditundukkan pada hukum Allah, tetapi sementara itu ia juga sadar bahwa ia masih ada dalam daging yang memiliki godaan melawan kehendak Allah atau ia masih ada dalam kodrat dosa. Jadi, Roma 7:26 memuat pengertian, bahwa sementara orang percaya berusaha untuk melakukan kehendak Allah, sementara itu pula tubuh insani masih ada dalam kodrat dosa.

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.