11. DIPILIH SEBELUM DUNIA DIJADIKAN

Tema ini penting untuk dibedah, sebab menjadi pertanyaan dan perdebatan banyak orang. Di dalam Efesus 4:4-5 tertulis: “Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya. Dalam kasih Ia telah menentukan kita dari semula oleh Yesus Kristus untuk menjadi anak-anak-Nya, sesuai dengan kerelaan kehendak-Nya.” Seringkali ayat ini menjadi landasan bahwa Tuhan memilih dan menentukan siapa yang selamat dan yang akan binasa. Bagian tersulit yang harus dijelaskan dalam ayat ini adalah bahwa Allah sudah memilih orang-orang tertentu sebelum dunia dijadikan.

Hendaknya ayat ini tidak dipahami sebagai rencana Allah untuk memilih dan menentukan orang-orang tertentu untuk menjadi anak-anak-Nya. Di dalam rancangan tersebut terdapat fakta yang mengikuti atau menyertai ada orang-orang yang diciptakan, tetapi tidak akan pernah menjadi anak-anak Allah. Tidak menjadi anak-anak Allah berarti menjadi anak-anak Iblis atau sekutu kuasa kegelapan yang nantinya akan dibuang bersama-sama dengan Iblis dan malaikat-malaikat yang jatuh ke dalam api kekal atau kebinasaan. Tidak mungkin Allah bertindak demikian. Pandangan seperti di atas ini tentu keliru, bertentangan dengan kebenaran Alkitab. Untuk ini perlu kita membedah pengertian “sebelum dunia dijadikan” Allah telah memilih kita.

“Sebelum dunia dijadikan” bisa berarti waktu sebelum Iblis memberontak kepada Allah. “Sebelum dunia dijadikan” juga bisa menunjuk waktu sesudah Iblis memberontak, tetapi dunia dan manusia belum diciptakan. Kalau Allah merancang menciptakan manusia sebelum Lusifer memberontak berarti Allah Bapa menghendaki agar Putra Tunggal-Nya memiliki saudara-saudara, sehingga Dia menjadi yang sulung diantara banyak saudara. Sehingga manusia tidak memiliki tugas khusus sebagai corpus delicti untuk mengalahkan Lusifer. Tetapi apabila manusia dirancang diciptakan setelah Lusifer memberontak, ini berarti memang Allah Bapa menghendaki agar Putra Tunggal-Nya memiliki saudara-saudara, sehingga Dia menjadi yang sulung diantara banyak saudara, danmanusia memiliki tugas menjadi corpus delicti untuk mengalahkan Iblis.

Menjadi corpus delicti artinya manusia menjadi mahkluk yang menghormati dan taat kepada Elohim Yahweh, tunduk kepada kehendak Allah Bapa dan Anak Tunggal Bapa. Hal ini akan menjadi ukuran yang membuktikan bahwa sikap dan keinginan yang dilakukan Iblis di surga yang tidak mau menghormati dan tunduk kepada Elohim Yahweh nyata atau terbukti salah. Perlunya pembuktian ini berangkat juga dari Roma 4:15 yang berbunyi: “Karena hukum Taurat membangkitkan murka, tetapi di mana tidak ada hukum Taurat, di situ tidak ada juga pelanggaran.”Juga dalamRoma 5:13: “Sebab sebelum hukum Taurat ada, telah ada dosa di dunia. Tetapi dosa itu tidak diperhitungkan kalau tidak ada hukum Taurat.”Iblis yang jatuh,tidak akan terbukti bersalah sebelum ada pembuktiannya, yaitu adanya makhluk yang memiliki ketaatan dan penghormatan yang benar kepada Allah (corpus delicti). Manusia yang diciptakan ini diharapkan dapat menampilkan suatu kehidupan yang bersekutu dengan Elohim Yahweh, taat, menghormati, memuliakan Allah dan meninggikan Allah Bapa, serta mengabdi dan melayani-Nya secara pantas. Hal itu menjadi pembuktian terhadap kesalahan Iblis sehingga ia bisa dihukum.

Jadi dikatakan “di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan” artinya bahwa manusia diciptakan atau diadakan oleh karena Anak Tunggal Bapa, dalam hal ini Bapa menginginkan sebuah keluarga di mana Anak Tunggal-Nya menjadi yang sulung sekaligus menjadi Raja atas semuanya. Tentu saja manusia yang diciptakan untuk mendampingi Putra-Nya adalah orang-orang yang kudus dan tidak bercacat di hadapan-Nya. Dengan demikian sejak sebelum jatuh dalam dosa, manusia memang dirancang untuk berkeadaan memiliki kehendak bebas, tetapi dalam kehendak bebas tersebut manusia diharapkan tetap di dalam kekudusan dan tak bercacat di hadapan-Nya. Dalam hal ini panggilan untuk menggunakan hak bebas untuk memilih taat kepada Allah merupakan ketetapan sejak semula sebelum manusia diciptakan. Jadi, seandainya Iblis atau Lusifer tidak memberontak apakah manusia diciptakan?Ya, manusia tetap diciptakan oleh Allah (Elohim Yahweh).

Sejak semula, di dalam rancangan Allah -baik sebelum Iblis memberontak atau sesudahnya-Allah merancang dan menentukan agar manusia yang juga adalah anak-anak-Nya berkeadaan seperti Putra Tunggal-Nya. Bahkan kemudian sekalipun manusia telah jatuh dalam dosa, Allah bermaksud menyelamatkan manusia untuk dikembalikan sesuai dengan rancangan-Nya semula, yaitu menjadi manusia yang berkeadaan seperti Yesus; yaitu keadaan yang sesuai dengan gambar dan rupa-Nya. Dengan demikian sangat jelas bahwa sebelum dunia dijadikan ada orang-orang yang dikehendaki oleh Allah menjadi anak-anak-Nya. Hal ini tidak tergantung kepada Allah, tetapi respon setiap individu yang diberi kesempatan menjadi anak-anak Allah.

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.