11 Desember 2014: Hutang Nyawa Dibayar Nyawa

KESELAMATAN yang kita terima dari Tuhan membuat kita berhutang kepada Tuhan. Hutang uang harus dibayar uang, tetapi hutang nyawa harus dibayar nyawa. Hanya dengan membayar nyawa yang dapat mengimbangi kebaikan yang Tuhan telah berikan kepada kita. Bagaimana kita memberikan nyawa kita kepada Tuhan? Memberikan nyawa bukan saja berarti menjadi martir; mati demi Kristus seperti orang-orang Kristen pada masa aniaya, tetapi juga hidup bagi Kristus. Mati bagi Kristus membutuhkan keberanian, tetapi hidup bagi Kristus membutuhkan kenekatan. Menyerahkan nyawa inilah yang sebenarnya sama dengan hidup bagi Tuhan. Kalau pada masa aniaya orang percaya menyerahkan nyawa bagi Tuhan dengan berani mati bagi Tuhan, tetapi untuk masa sekarang menyerahkan nyawa berarti hidup bagi Tuhan. Untuk bersedia memberikan nyawa bagi Tuhan, kita harus memiliki kesadaran bahwa sebenarnya kita tidak berhak hidup. Manusia berdosa adalah manusia yang hidup di bawah bayang-bayang maut. Hidup di bumi yang sementara ini hanya menunggu saat masuk api kekal. Suatu kengerian yang dahsyat dimana manusia terpisah dari hadirat Tuhan selama-lamanya. Kehidupan seperti ini adalah kehidupan tanpa pengharapan. Sungguh-sungguh sangat tragis. Kalau oleh pengorbanan-Nya di kayu salib Tuhan memperkenan kita memiliki kehidupan di balik kubur yaitu di langit baru dan bumi baru nanti, ini adalah sungguh suatu anugerah yang tidak ternilai. Sekarang oleh anugerah-Nya kita memiliki hidup yang penuh pengharapan ( 1Ptr. 1: 3-4). Oleh sebab itu patutlah hidup yang kita miliki hari ini kita dikembalikan kepada Tuhan yang telah menyelamatkan kita. Banyak orang Kristen tidak menghayati anugerah Tuhan ini dengan benar. Oleh karenannya mereka tidak memiliki kerinduan untuk membalas kebaikan Tuhan dan tidak menempatkan diri secara benar di hadapan Tuhan. Sikap mereka pun tidak pantas terhadap Tuhan yang sudah memberikan kebaikan begitu besar. Jadi kalau dari sikap seseorang terhadap Tuhan menunjukkan seberapa ia menyadari nilai kasih karunia yang Tuhan berikan. Orang orang seperti ini pasti tidak memikirkan dengan serius realitas kekekalan. Ia tidak memikirkan dengan serius keadaan kekalnya nanti dan keadaan kekal orang lain. Inilah orang yang tidak mengasihi dirinya sendiri dan tidak mengasihi sesamanya seperti dirinya sendiri. Orang seperti ini juga tidak mengasihi Tuhan yang telah mengasihi dirinya. Kalau selama ini kita tidak pernah memikirkan hal ini, sekarang kita harus memikirkannya dengan serius. Sebab kalau tidak sejak dini memikirkan dengan serius hal ini, maka suatu saat tidak mampu lagi memercayai realitas kekekalan yang dahsyat ini. Mereka juga tidak menghargai keselamatan yang sangat berharga. Banyak orang yang tidak mampu lagi memercayai realitas ini. Hal tersebut nampak dari cara hidupnya yang sembrono, tidak mempersiapkan diri menghadapi penghakiman Allah. Cara hidup yang tidak siap menghadapi penghakiman ditandai dengan tidak hidup sesuai dengan kehendak Allah dan tidak membela pekerjaan Tuhan dengan segenap hidup. Suatu hari nanti orang percaya akan dibawa kepada penghakiman Tuhan. Menyadari hal ini Paulus berusaha untuk hidup berkenan kepada Tuhan Sebab kita semua harus menghadap takhta pengadilan Kristus, supaya setiap orang memperoleh apa yang patut diterimanya, sesuai dengan yang dilakukannya dalam hidupnya ini, baik atau pun jahat (2Kor. 5:9-10). Menyerahkan nyawa untuk zaman kita sekarang berarti hidup bagi Tuhan. Hidup bagi Tuhan berarti rela menanggalkan keinginan diri sendiri. Inilah sebenarnya resiko menjadi anak tebusan Tuhan.

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.