11. DAMAI SEJAHTERA DENGAN ALLAH

Firman Tuhan mengatakan bahwa kita yang dibenarkan karena iman, kita hidup dalam damai sejahtera dengan Allah (Theos) oleh karena Tuhan kita, Yesus Kristus (Rm. 5:1). Dibenarkan di sini artinya dianggap tidak memiliki halangan untuk menjumpai Allah, yang dalam teks aslinya adalah Theos yang sama dengan Bapa. Orang yang dibenarkan berpotensi memiliki hubungan dengan Dia. Orang yang dibenarkan adalah orang yang dianggap layak untuk bersekutu dengan Bapa. Bersekutu di sini artinya setiap saat seseorang bisa memanggil Bapa dalam doa dan bergaul dengan Allah melalui Roh Kudus. Hal ini hanya bisa terjadi pada umat Perjanjian Baru. Kalau umat Perjanjian Lama, mereka tidak memiliki anugerah atau kasih karunia ini. Di zaman sebelum zaman anugerah, hanya imam besar yang dapat menjumpai Elohim Yahweh. Itupun hanya satu kali dalam setahun.

Hidup dalam damai sejahtera dengan Allah di atas maksudnya adalah hidup dalam persekutuan atau kebersamaan dengan Allah secara harmoni. Keharmonisan tersebut tentu dalam satu syarat atau kondisi bahwa dua pihak merasa nyaman atau damai. Dua pihak tersebut adalah pihak kita manusia dan pihak Allah. Kata damai sejahtera dalam teks aslinya adalah eirene (εἰρήνη), yang memiliki banyak pengertian antara lain: a state of national tranquillity, exemption from the rage and havoc of war, peace between individuals, harmony, concord, security, safety, prosperity, felicity, (because peace and harmony make and keep things safe and prosperous; keadaan negara atau suatu wilayah yang tenang, jauh dari keadaan kebengisan dan kekacauan perang, perdamaian antara individu, harmoni, kerukunan, keamanan, keselamatan, kesejahteraan, kebahagiaan (perdamaian dan harmoni yang membuat dan menjaga keamanan dan kesejahteraan).

Selama ini banyak orang Kristen yang merasa telah memiliki damai sejahtera dengan Allah (Theos atau Bapa), bisa menyampaikan doa dan permintaan dan memuji serta menyembah nama-Nya. Tetapi mereka tidak mempertimbangkan apakah Allah merasa nyaman dalam persekutuan tersebut atau tidak. Ini adalah orang-orang Kristen yang tidak dewasa, yang masih egois dan oportunis. Mereka tidak mengerti dan tidak menjaga perasaan Allah. Memang untuk orang Kristen baru, Allah tidak menuntut keadaan orang tersebut sempurna dan dapat menyukakan hati-Nya, tetapi setelah dalam kurun waktu tertentu menjadi umat pilihan, seharusnya seseorang sudah memiliki keberadaan yang bisa mengimbangi kekudusan Allah. Jika tidak, maka tidak dapat berjalan seiring dengan Allah dan hal itu akan selalu mendukakan hati-Nya.

Mempelajari hal tersebut di atas, maka bisa dimengerti mengapa dalam 1 Petrus 1:14-16, Firman Tuhan mengatakan: Hiduplah sebagai anak-anak yang taat dan jangan turuti hawa nafsu yang menguasai kamu pada waktu kebodohanmu, tetapi hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu, sebab ada tertulis: Kuduslah kamu, sebab Aku kudus. Di bagian lain dalam Alkitab, rasul Paulus menulis: Sebab itu: Keluarlah kamu dari antara mereka, dan pisahkanlah dirimu dari mereka, firman Tuhan, dan janganlah menjamah apa yang najis, maka Aku akan menerima kamu. Dan Aku akan menjadi Bapamu, dan kamu akan menjadi anak-anak-Ku laki-laki dan anak-anak-Ku perempuan demikianlah firman Tuhan, Yang Mahakuasa.” (2Kor. 6:17-18)

Selanjutnya, ditegaskan dalam Roma 5:2 bahwa oleh Dia (Tuhan Yesus Kristus) kita juga beroleh jalan masuk oleh iman kepada kasih karunia ini. Isi kasih karunia adalah hidup dalam damai sejahtera dengan Allah (Theos atau Bapa). Hidup dalam damai sejahtera dengan Allah sama dengan hidup berdamai atau perdamaian atau keharmonisan dengan Allah. Dalam perdamaian tersebut ada proses penyesuaian antara dua pribadi. Pribadi Bapa dan pribadi kita. Tentu bukan Bapa yang menyesuaikan diri terhadap kita, tetapi kita yang harus menyesuaikan diri terhadap Bapa. Hal ini sejajar dengan pernyataan bahwa hanya orang-orang yang dipimpin oleh Roh yang disebut anak-anak Allah (Rm. 8:14). Kata dipimpin di sini dalam teks aslinya adalah ago (ἄγω), yang sama artinya dengan menuntun. Bukan kita yang menuntun Bapa, tetapi Bapa melalui Roh Kudus yang menuntun kita. Kalau seseorang tidak hidup dalam tuntunan Allah, maka berarti ia tidak menyesuaikan diri terhadap Bapa. Ini sama artinya dengan menolak kasih karunia, sebab tidak bersedia membangun hubungan yang harmoni dengan Bapa.

Kalimat “jalan masuk kepada oleh iman kepada kasih karunia”, sama dengan “jalan masuk untuk memperoleh hidup dalam damai sejahtera dengan Allah adalah iman” (Rm. 5:2). Hal ini menunjukkan kepada kita bahwa oleh iman kita dapat memiliki kasih karunia tersebut. Iman di sini bukan hanya aktivitas pikiran. Iman di sini adalah penurutan terhadap kehendak Allah, seperti gaya hidup Abraham (telah dijelaskan pada penjelasan sebelumnya). Iman bukan hanya mengakui dan memercayai dalam pikiran bahwa Yesus Kristus adalah Juruselamat.

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.