11. BUTA TERHADAP INJIL

Perbuatan baik yang kita lakukan, dan moral agung yang orang percaya ekspresikan,bisa membuat orang yang menolak Injil tidak menghujat Tuhan Yesus dan memusuhi-Nya. Ini penting sekali, sebab kalau sampai seseorang menghujat Tuhan Yesus, pasti binasa. Kalau seseorang,walau bukan orang Kristen, tetapi jika tidak memusuhi Tuhan Yesus, bisa ada kemungkinan ia dihakimi menurut perbuatan. Dengan demikian masih ada kesempatan baginya untuk menjadi anggota masyarakat di langit baru dan bumi yang baru nanti. Terkait dengan hal ini Yesus berkata: “Jangan kamu cegah, sebab barangsiapa tidak melawan kamu, ia ada di pihak kamu.”(Luk. 9:50). Pengertian “di pihak orang percaya”, belum tentu menjadi orang percaya atau menjadi orang Kristen. Mereka yang dikategorikan di pihak orang percaya ini, pasti orang-orang baik yang memiliki toleransi tinggi dan kasih kepada sesama. Mereka masih berkesempatan menjadi anggota masyarakat dalam Kerajaan Tuhan Yesus nanti.

Jika mengamati sikap atau respon orang-orang Yahudi pada abad pertama terhadap Yesus, sangat sedikit mereka yang bersikap baik terhadap Yesus dan pengikut-Nya. Mereka sengaja memusuhi dan mendatangkan penderitaan bagi orang percaya. Bahkan mereka berusaha untuk memunahkan Kekristenan. Inilah yang membuat mereka tidak pernah mengenal keselamatan dan diselamatkan. Tuhan Yesus menyatakan bahwa lebih baik mereka tidak pernah mendengar Injil, daripada mendengar Injil tetapi menolak-Nya (Yoh. 9:41- Jawab Yesus kepada mereka: “Sekiranya kamu buta, kamu tidak berdosa, tetapi karena kamu berkata: Kami melihat, maka tetaplah dosamu.”). Keadaan bangsa Israel yang menolak Tuhan Yesus membuat Paulus menangisi mereka, dan bersedia dijauhkan dari Kristus, dan terkutuk demi keselamatan saudara-saudara sebangsanya (Rm. 9:1-3). Itulah sebabnya Paulus bekerja keras untuk keselamatan bangsanya, sampai ia sendiri tidak menghiraukan nyawanya.

Kata “buta” dalam Yohanes 9:41 artinya tidak mendengar Injil sama sekali atau salah mendengar Injil. Faktanya orang-orang Yahudi pada zaman Yesus mendengar kebenaran secara langsung dari Yesus,tetapi sengaja memusuhi-Nya, maka mereka pasti binasa. Di dunia ini, juga di Indonesia, banyak orang tidak mendengar Injil, tetapi lebih banyak yang salah memahami Injil sehubungan dengan pemberitaan mengenai Yesus yang salah. Keadaan orang-orang seperti ini -sama dengan “buta” yang dimaksud oleh Yesus- mereka tidak bisa dituntut untuk percaya dan tidak bisa dipersalahkan kalau mereka tidak percaya kepada Yesus. Mereka tidak termasuk umat pilihan yang ditentukan untuk serupa dengan Yesus atau sempurna seperti Bapa (Rm. 8:28-29; Mat. 5:48).

Kita harus menerima kenyataan bahwa orang-orang seperti mereka ini, tidak terpilih atau tidak ditunjuk sebagai umat pilihan. Orang-orang seperti mereka ini, telah terpasung dalam keadaan tidak mampu menangkap berita Injil. Berbeda dengan murid-murid Yesus yang memang dikondisi menjadi umat pilihan, seperti Petrus, Yakobus, Yohanes, dan lain sebagainya. Kepada mereka ini Tuhan Yesus menyatakan: Tidak ada seorang pun yang dapat datang kepada-Ku, jikalau ia tidak ditarik oleh Bapa yang mengutus Aku, dan ia akan Kubangkitkan pada akhir zaman (Yoh. 6:44). Kalau seandainya Petrus menjadi Herodes, atau salah satu bangsawan Roma atau salah satu imam kepala, belum tentu ia menjadi pengikut Yesus. Orang-orang yang terpilih ini dikatakan oleh Firman Tuhan sebagai ditarik oleh Bapa. Kata ditarik dalam bahasa aslinya adalah helkuse (ἑλκύσῃ), dari akar kata helko (ἕλκω), yang memiliki kasus keterangan kata kerja subjunctive, yang artinya lebih bersifat diharapkan, bukan sengaja (active) ditarik. Mereka yang ditarik oleh Bapa berpotensi mengalami proses keselamatan, yaitu dikembalikan ke rancangan Allah semula dan nanti di akhir zaman akan dibangkitkan.

Tanpa pengertian yang benar terhadap kebenaran, membuat seseorang atau sebuah komunitas tidak akan pernah menemukan kebenaran Allah. Sampai pada stadium tertentu, mereka tidak akan pernah bisa mengerti kebenaran. Hal ini juga berlaku atau terjadi dalam lingkungan gereja. Ketika jemaat diajar ketidakbenaran, sampai pada level tertentu mereka tidak akan pernah bisa menerima kebenaran. Hal ini dikemukakan oleh Paulus dalam suratnya kepada Timotius: Karena akan datang waktunya, orang tidak dapat lagi menerima ajaran sehat, tetapi mereka akan mengumpulkan guru-guru menurut kehendaknya untuk memuaskan keinginan telinganya (2Tim. 4:3). Dalam hal ini betapa besar peran kebenaran dalam kehidupan. Itulah sebabnya Firman Tuhan mengatakan bahwa guru dihakimi dengan ukuran yang berbeda (Yak. 3:1 – Saudara-saudaraku, janganlah banyak orang di antara kamu mau menjadi guru; sebab kita tahu, bahwa sebagai guru kita akan dihakimi menurut ukuran yang lebih berat).

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.