11. Beban Orang Benar

ORANG BENAR SULIT dapat menikmati kebahagiaan secara proporsional dan ideal di bumi ini. Bagaimana kita bisa menikmati kenikmatan dan kebahagiaan hidup secara ideal sementara melihat orang lain hidup dalam penderitaan? Bagi orang benar rasanya sulit bisa makan dengan hati nyaman sementara melihat orang lain tidak memiliki sesuap nasi hanya untuk dapat menyambung hidupnya. Rasanya sulit memiliki hati yang nyaman mengenakan pakaian yang baik sementara melihat orang lain kedinginan dan bertelanjang. Hanya orang-orang yang sekualitas dengan orang kaya dalam Lukas 16:19-31yang bisa hidup dalam pesta pora sementara Lazarus mati kelaparan. Orang kaya itu bisa mengenakan jubah ungu dalam kemewahan sementara ada Lazarus dalam keadaan compang-camping di depan matanya. Bagaimana seseorang bisa tidur nyenyak dalam kebahagiaan sementara orang lain dalam pengungsian hidup serba kekurangan? Orang benar tidak akan merasa tenang di tengah kelimpahan materi dan kemampuan untuk bisa memikul beban orang lain sementara melihat orang lain dalam berbagai-bagai penderitaan. Hal ini bukan berarti orang benar harus memikul semua beban orang lain, orang benar bukan Tuhan yang serba mampu, tetapi pasti ada yang bisa dilakukan untuk Lazarus-Lazarus yang dikirim Tuhan agar orang benar bisa berbuat sesuatu bagi Tuhan.

Orang benar tidak akan nyaman hidup bukan karena mereka berkekurangan atau dilanda berbagai kesulitan, tetapi karena beban terhadap sesama yang menderita dan menuju kegelapan abadi. Keadaan ini menyebabkan orang benar tidak merasa hidup nyaman di bumi. Orang benar berusaha menemukan tempatnya guna mengambil bagian dalam penderitaan sesama. Berbuat sesuatu bagi orang-orang menderita yang membutuhkan pertolongan bukanlah beban yang menyakitkan, tetapi beban yang membahagiakan sebab sesungguhnya segala sesuatu yang kita lakukan untuk saudara kita yang membutuhkan pertolongan diperhitungkan sebagai perbuatan kita kepada Tuhan sendiri.1 Itulah karenanya Tuhan Yesus berkata: “Karena orang-orang miskin selalu ada pada kamu, tetapi Aku tidak akan selalu ada pada kamu”.2 Orang miskin selalu ada sebagai sarana orang percaya untuk dapat berbuat kebajikan kepada mereka. Perlakuan kita terhadap mereka sama dengan perlakukan kita terhadap Tuhan sendiri. Kemiskinan yang paling ekstrim yang harus paling utama untuk diselesaikan adalah kemiskinan rohani yaitu keadaan orang yang tidak memiliki keselamatan. Orang percaya yang menghayati realitas tersebut tidak akan mengisi hidupnya untuk kesenangan dirinya sendiri tetapi memerhatikan kebutuhan orang lain terutama kebutuhan keselamatannya. Orang percaya harus berusaha untuk berbuat sesuatu bagi mereka yang membutuhkan pertolongan. Dengan sikap hati seperti ini orang percaya membangun terus sikap “heart for the people” (hati untuk sesama). Hal ini akan menggerakkan orang percaya mempertaruhkan hidup bagi sesamanya tanpa batas; rela menjadi anggur yang tercurah dan roti yang terpecah.

Orang yang tidak memikul penderitaan orang lain sementara ia memiliki kesempatan untuk itu- tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Surga seperti yang dialami orang kaya dalam Lukas 16:19-31. Mereka terbuang dari hadirat Allah selamanya dan tidak akan memiliki kesenangan sampai selamanya. Penyesalan mereka tidak terkatakan, hanya ratap tangis dan kertak gigi. Fakta hidup hari ini menunjukkan banyak orang dapat menikmati kenyamanan hidup di tengah-tengah penderitaan orang lain. Orang-orang seperti ini tidak peduli terhadap kemiskinan, perang, orang-orang yang menderita dalam pengungsian, bencana alam dan berbagai penderitaan yang dialami oleh orang lain, apalagi keselamatan jiwa orang lain. Tetapi orang benar berkeadaan sebaliknya, mereka lebih memedulikan kebutuhan orang lain dari pada kebutuhannya sendiri. Bagi mereka hidup di dunia adalah kesempatan untuk membuktikan cintanya kepada Tuhan secara konkret.

1) Matius 25:31-46 ; 2) Matius 12:8

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.