10. UNDANGAN YANG DIRESPONI

Roma 1:6 tertulis: Kamu juga termasuk di antara mereka, kamu yang telah dipanggil menjadi milik Kristus. Dalam tulisannya ini, Paulus menyatakan bahwa jemaat Roma adalah jemaat yang dipanggil untuk menjadi milik Kristus. Kata dipanggil dalam teks aslinya adalah kletoi (κλητοὶ) dari akar kata kletos (κλητός). Dalam teks aslinya tidak menggunakan kata kerja (verb), tetapi kata sifat (adjective normal nominative masculine plural no degree). Kata kletoi berarti orang yang terpanggil atau orang yang diundang. Dari kata tersebut menunjukkan bahwa hal menjadi milik Kristus bukan sesuatu yang otomatis dapat terjadi atau berlangsung dalam kehidupan seseorang.

Apakah seseorang dapat menjadi milik Kristus atau tidak, sangat tergantung dari masing-masing individu meresponi panggilan atau undangan tersebut. Tuhan Yesus sendiri menyatakan “banyak yang dipanggil tetapi sedikit yang terpilih”. Tuhan Yesus menyatakan hal ini, ketika memberikan perumpamaan mengenai seorang raja yang mengadakan pesta perjamuan kawin (Mat. 22:1-14). Ada yang diundang tetapi tidak datang, tetapi ada yang datang namun tidak memakai pakaian pesta sehingga harus diusir keluar dari pesta perjamuan tersebut. Pengusiran atas orang yang tidak dilayakkan ikut dalam pesta tersebut, disebabkan orang tersebut tidak mengenakan pakaian pesta.

Ternyata tidak semua orang yang diundang mau meresponi undangan raja tersebut atau bersedia untuk hadir. Bahkan yang meresponi undangan tersebut pun, berhubung tidak mengenakan pakaian pesta, tidak diperkenan untuk ikut pesta. Orang yang tidak mengenakan pakaian pesta menunjuk kepada orang-orang yang kelihatannya mau menerima undangan, tetapi tidak sungguh-sungguh serius meresponinya. Raja tersebut menunjuk Tuhan Yang Mahamurah, yang mengundang orang untuk menerima keselamatan dari Dia, tetapi Tuhan tidak murahan. Sangat jelas dan tidak terbantahkan bahwa untuk bisa bersama dengan raja dalam pesta perjamuan yang diselenggarakan, seorang yang “diundang” harus mengenakan pakaian pesta. Hal ini menunjukkan bahwa panggilan tersebut “bersyarat”. Jika tidak mengenakan pakaian pesta, berarti tidak layak ada dalam perjamuan tersebut. Pakaian pesta tersebut adalah kesucian hidup. Hal ini diteguhkan oleh banyak ayat Alkitab bahwa kita harus hidup tidak bercacat dan tidak bercela atau hidup kudus.

Perumpamaan di atas memberi pelajaran sangat penting bahwa respon seseorang sangat menentukan apakah seseorang menerima undangan dari Tuhan atau tidak. Di ayat sebelumnya Tuhan Yesus menyatakan: Belum pernahkah kamu baca dalam Kitab Suci: Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru: hal itu terjadi dari pihak Tuhan, suatu perbuatan ajaib di mata kita. Sebab itu, Aku berkata kepadamu, bahwa Kerajaan Allah akan diambil dari padamu dan akan diberikan kepada suatu bangsa yang akan menghasilkan buah Kerajaan itu. (Mat. 21:42-43). Pernyataan Tuhan ini ditujukan kepada orang-orang Yahudi (Mat. 21:45-46). Setelah orang-orang Yahudi, khususnya imam-imam kepala dan orang-orang Farisi menolaknya, maka Tuhan menyampaikan Injil kepada bangsa lain yang menghasilkan buah Kerajaan itu.

Tuhan tidak memaksa apakah seseorang bersedia menerima undangan-Nya atau tidak; Tuhan tidak memaksa apakah seseorang mau menerima karya keselamatan dari Tuhan atau menolak-Nya. Fakta ini hendaknya tidak dipungkiri dengan pandangan bahwa Tuhan sendiri yang menentukan secara sepihak apakah seseorang mau menerima keselamatan atau menolaknya. Seakan-akan setiap individu manusia terkunci dalam takdir; takdir untuk diselamatkan atau dibinasakan. Pengajaran takdir semacam ini tidak boleh masuk dalam teologi Kristen; fatalistis. Sangat berbahaya, sebab dapat mengebiri gairah untuk menjadi milik Kristus dengan perjuangan yang proporsional. Sebagaimana halnya kalau Tuhan mengatakan: berilah dirimu didamaikan dengan Allah, berarti kita yang harus membuka hati menyambut perdamaian dari Tuhan (2Kor. 5:20). Hal ini sama dengan membuka diri untuk dimiliki oleh Tuhan.

Dari uraian di atas sangatlah jelas bahwa tidak semua orang yang dipanggil menjadi milik Kristus, pasti menjadi milik Kristus. Hal ini sangat tergantung dari bagaimana masing-masing individu meresponi panggilan tersebut. Oleh sebab itu hal menjadi milik Kristus harus dipahami dan diterima sebagai panggilan yang harus diresponi secara serius. Hal ini merupakan perjuangan yang tidak mudah, karena banyak orang sudah terlanjur selama bertahun-tahun membangun dan memiliki kerajaan sendiri dan menduduki takhtanya. Sekarang seluruh hidupnya harus diserahkan kepada Tuhan yang telah membeli dengan darah-Nya dan lunas dibayar. Ini bukan sesuatu yang mudah, maka perlu perjuangan (2Kor. 6:19-20).

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.