10 September 2014: Langkah-Langkah Mengalami Tuhan

Ujian yang Waktu hidup kita yang singkat ini merupakan kesempatan untuk dikenal dan mengenal Tuhan. Dalam pengenalan akan Tuhan kita dilatih untuk berinteraksi dengan Tuhan. Interaksi inilah awal dari perjalanan bersama dengan Tuhan di keabadian nanti. Jadi, kalau jemaat tidak pernah berinteraksi dengan Tuhan bagaimana ia bisa dikenal oleh Tuhan. Jadi sukses hidup manusia bukan diukur dengan ukuran jumlah uang dan harta yang dikumpulkan. Tidak diukur pula dengan banyaknya title dan gelar, pangkat dan kedudukan, tetapi sejauh mana kita mengenal dan mengalami Tuhan. Jadi mengenal dan mengalami Tuhan adalah sukses kehidupan.

Allah adalah pribadi riil yang seharusnya kita alami secara riil.Tanpa memiliki pengalaman dengan Tuhan ibarat memiliki gudang beras tetapi tidak dapat makan nasi. Tanpa mengalami Tuhan sia-sia kita beragama, ke gereja apalagi turut mengambil bagian dalam pelayanan gerejani. Inilah yang terjadi atas banyak Kristen orang hari ini. Mereka kaya dengan pengalaman beragama, mengikuti berbagai kegiatan gerejani tetapi tidak mengalami Tuhan secara pribadi, riil dan berlimpah. Konyolnya banyak orang yang puas dengan berbagai pengalaman keagamaan tersebut tetapi tidak mengalami Tuhan secara benar.

Bagaimana menghayati dan mengalami Allah yang hidup adalah masalah yang penting dalam hidup orang percaya. Tuhan harus dialami secara nyata dalam kehidupan masing-masing individu. Ini lebih dari sebuah pengalaman perasaan atau emosi. Banyak orang Kristen hanya memiliki pengalaman emosi, yaitu tatkala bisa menangis, merasa khidmat dan lain sebagainya di dalam kebaktian Pengalaman seperti itu belumlah pengalaman yang berkualitas. Itu semua belum tentu sebuah pengalaman dengan Tuhan secara nyata. Itu bisa sebuah pengalaman emosi atau fenomena perasaan.

Sebagaimana tokoh-tokoh dalam Alkitab mengalami Tuhan demikian pula kita bisa mengalami Tuhan. Perhatikan bagaimana Abraham dalam hari-hari hidupnya mengalami Tuhan. Juga Yusuf, Musa, Daud, Daniel dan lain sebagainya. Jika hal ini belum kita alami berarti belum tercapai pula tujuan hidup kekristenan kita. Orang yang mengalami Tuhan akan nampak dari imannya yang tidak tergantung kepada orang dengan. Dengan demikian dapat menjadi orang Kristen yang mandiri dan mengalami Tuhan berlimpah-limpah setiap hari, menikmati sukacita Tuhan setiap hari, menjadi saluran berkat bagi orang lain, dan pada akhirnya di kenal oleh Tuhan (1Kor. 8:3).

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.