10. Semangat Zaman

TUHAN YESUS MENYATAKAN bahwa Ia harus pergi ke Yerusalem dan menanggung banyak penderitaan dari pihak tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga.1 Hal ini bertentangan dengan konsep mengenai Mesias di dalam pikiran murid-murid Tuhan Yesus. Mereka beranggapan bahwa Mesias adalah seorang yang kuat perkasa secara fisik atau memiliki kekuatan supranatural. Kemampuan Mesias tersebut diharapkan memampukan Israel menghalau kekuatan Roma dari Israel. Mesias yang diharapkan adalah seseorang dengan kekuatan yang dapat memberikan kepada mereka kemakmuran duniawi dan kejayaan lahiriah. Tidak setitik pun dalam pikiran mereka kalau Mesias yang mereka andalkan harus mati dengan cara tragis seperti disalib. Mereka tidak lagi memperhatikan bahwa Mesias akan bangkit. Dalam pikiran mereka, Mesias adalah sosok seorang jagoan yang tidak terkalahkan.

Pikiran tersebut telah dibangun selama bertahun-tahun dari cara berpikir masyarakat yang ada di sekitar mereka. Mereka mengakuinya sebagai kebenaran yang mencengkeram jiwa dan memasuki kesadaran dan seluruh syaraf-syaraf mereka. Hal ini sama dengan cara berpikir salah yang sudah terlanjur merasuki kehidupan seseorang di zaman sekarang dalam masyarakat gereja. Karena pengaruh dunia yang sudah kuat merasuki mereka dan pengajaran Injil palsu, maka tidak mudah menggusur dan menggantikan dengan kebenaran Injil yang murni. Mereka juga tidak dapat membedakan apakah yang mereka dengar adalah kebenaran Injil yang diajarkan Tuhan Yesus, atau Injil yang telah dikawinkan dengan semangat zaman. Pada zaman gereja mula-mula ada usaha mengawinkan Injil dengan semangat zaman. Semangat zaman pada waktu itu adalah filsafat Yunani. Injil dikawinkan dengan filsafat Yunani yang sangat kuat pengaruhnya dalam masyarakat. Karena perkawinan ajaran tersebut, pada zaman itu muncul aliran yang dikenal dengan nama Gnostik Kristen. Semangat zaman artinya segala sesuatu yang dipandang sebagai bernilai yang dapat menggantikan kedudukan Tuhan. Paulus menyebutnya sebagai eiokon tou theou (εἰκὼν τοῦ θεοῦ) dalam bahasa Inggri diterjemahkan sebagai the image of God, the exact likeness of God. Dalam Bahasa Indonesia diterjemahkan ilah zaman ini.

Seharusnya Injil yang murni dapat mematikan semangat zaman yang sudah merasuk dalam jiwa orang percaya, tetapi kalau Injil dipalsukan, maka bukan dimatikan tetapi malah dikobarkan. Inilah cara cerdas kuasa kegelapan dalam menyesatkan orang percaya agar tidak mencapai target menjadi anak-anak Allah (Yun. huios). Mereka bisa menjadi orang Kristen yang aktif dalam kegiatan “pelayanan” tetapi mereka tidak mengerti tujuan keselamatan itu sendiri. Kebodohan tersebut sampai membuat orang-orang baik dan cerdas dalam bernalar menjadi bodoh. Mereka tidak sadar bahwa kegiatan pelayanan mereka disertai agenda pribadi. Tetapi mereka tidak menyadarinya sebab agenda pribadi tersebut dianggap wajar, yang merupakan hak mereka untuk mereka miliki dan nikmati. Padahal mengikut Tuhan Yesus berarti mematikan segala sesuatu yang duniawi dan mengarahkan diri kepada Kerajaan Surga. Akhirnya mereka tidak pernah dilahirkan baru dan tidak pernah menjadi corpus delicti.

Atas orang-orang yang memberitakan Injil yang sebenarnya bukan Injil itu Paulus berkata: terkutuklah mereka.2 Setiap zaman selalu saja ada spirit atau gairah duniawi yang merasuk dalam gereja sehingga merusak kemurnian Injil yang seharusnya dimengerti dan dikenakan oleh orang percaya. Kalau sekarang karena pengaruh materialism, lahirlah teologia kemakmuran duniawi. Teologia yang salah ini tidak menetralisir pikiran yang sesat dan mengarahkannya kepada Tuhan dan Kerajaan-Nya, tetapi membuat jiwa duniawi mereka semakin kuat. Oleh karena dibungkus ayat-ayat Alkitab dan kegiatan di lingkungan gereja, maka mereka tidak menyadari bahwa mereka sedang meneguk racun yang membinasakan.

1) Roma 11:36 ; 2) Mazmur 90:10-12

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.