10. PENGHUKUMAN TERAKHIR

Peristiwa dibuangnya manusia yang akan binasa ke dalam lautan api terjadi setelah kebangkitan semua orang mati, di mana setiap orang akan menghadap takhta pengadilan Allah (Why. 20:11-13). Pada waktu itu semua orang telah mengenakan tubuh kekal. Tubuh yang tidak dapat binasa lagi. Inilah yang dimaksud oleh Daniel 12:2: Dan banyak dari antara orang-orang yang telah tidur di dalam debu tanah, akan bangun, sebagian untuk mendapat hidup yang kekal, sebagian untuk mengalami kehinaan dan kengerian yang kekal. Pernyataan Daniel bahwa sebagian manusia bangkit untuk menerima hidup kekal dan dan sebagian mengalami kehinaan dan kengerian kekal, menunjukkan kepada penentuan nasib akhir manusia setelah dihadapkan kepada pengadilan terakhir (Why. 20:11-14).

Lautan api menunjuk kepada “penghukuman terakhir”. Jadi setelah ada di dalam “hades” (kerajaan maut) semua orang dibangkitkan, maksudnya mengenakan tubuh kekal. Mereka dibangkitkan untuk dihakimi. Penghakiman itulah yang menentukan apakah seseorang diperkenan masuk ke dalam kehidupan di dalam Kerajaan Tuhan Yesus atau dibuang ke dalam “lautan api”. Alkitab mencatat bahwa hanya orang yang namanya tertulis dalam Kitab Kehidupan yang memiliki keselamatan (Why. 20:15).

Dalam hal ini dapat dipahami bahwa hades merupakan “intermediate state”, tempat penampungan sementara sebelum seseorang dihakimi dan dibuang ke dalam lautan api atau diperkenan masuk kehidupan yang akan datang dalam Kerajaan Tuhan Yesus Kristus. Lautan api adalah tempat final di mana orang-orang yang terpisah dari Allah terbuang untuk selama-lamanya. Inilah yang disebut sebagai kematian kedua. Jadi orang yang mengalami kematian pertama belum tentu mengalami kematian kedua. Mereka akan melalui sebuah penghakiman (Why. 20:11-14).

Jadi bagi mereka yang ada di hades dan terpisah dari Allah akan dihakimi, suasana hades yang menyakitkan (Luk. 16:23) diteruskan di dalam gehenna. Mereka yang ada di dalam hades apakah masih bisa diperkenan masuk kehidupan yang akan datang? Tentu mereka yang belum dihakimi akan terlebih dahulu dihakimi. Bila dalam penghakiman tersebut mereka diperkenan masuk dalam kehidupan yang akan datang, maka mereka terhindar dari lautan api.

Pertanyaan yang sulit dijawab berkenaaan dengan neraka adalah apakah di neraka itu alam fisik dan di mana keberadaannya? Menjawab pertanyaan ini kita harus terlebih dahulu memahami apa dan bagaimana neraka itu sesungguhnya. Kalau surga adalah alam fisik, maka neraka juga adalah alam fisik. Ketika membahas mengenai surga, dapat ditemukan bahwa surga adalah bagian dari jagad raya yang tidak terbatas ini. Surga adalah alam fisik atau materi. Sejajar dengan hal ini, neraka juga adalah alam fisik yang juga ada di jagad raya ini.

Tidak ada penjelasan yang lebih tepat dan jujur selain bahwa bumi inilah sebenarnya nanti yang menjadi neraka. Hal ini berangkat dari apa yang dikemukakan dalam 2 Petrus 3:7-13, bahwa bumi ini akan terbakar menjadi api yang menyala. Inilah sebenarnya yang dimaksud Wahyu 20:14-5 dengan lautan api. Jadi, sangat besar kemungkinan tempat yang akan menjadi neraka adalah bumi yang kita huni, yang akan terbakar menjadi genangan api besar. Kemungkinan yang lain adalah tata surya kita (solar system) atau seluruh galaksi di mana matahari kita berada (Milkyway).

Kata lautan api di sini sebenarnya dalam teks aslinya adalah danau api (Yun. limne tou puros λίμνη τοῦ πυρός). Tidak tepat jika diterjemahkan sebagai lautan api. Kata lautan dalam teks aslinya adalah thalassa (θάλασσα). Mengapa disebut sebagai danau? Sebab jika galaksi kita yang terbakar, atau keluarga matahari atau hanya bumi ini, maka dibanding dengan jagad raya yang tidak terbatas, itu hanya akan seperti titik api kecil. Neraka inilah yang disebut oleh Tuhan Yesus sebagai gehenna (γέεννα), sering juga diucapkan sebagai gehenna. Inilah tempat terakhir bagi orang-orang yang tidak diperkenan masuk langit baru dan bumi yang baru. Neraka ini pada dasarnya adalah alam materi.

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.