10. MUKJIZAT SEBAGAI TANDA

Dalam Perjanjian Baru kita menemukan mandat Tuhan Yesus bagi orang percaya agar mereka memberitakan Injil sampai ke ujung bumi dan Tuhan berjanji akan menyertai dengan tanda-tanda (Mrk. 16:17-18. “Tanda-tanda ini akan menyertai orang-orang yang percaya: mereka akan mengusir setan-setan demi nama-Ku, mereka akan berbicara dalam bahasa-bahasa yang baru bagi mereka, mereka akan memegang ular, dan sekalipun mereka minum racun maut, mereka tidak akan mendapat celaka; mereka akan meletakkan tangannya atas orang sakit, dan orang itu akan sembuh.”). Kata “tanda” dalam teks asli adalah semeion. Semeion arti harafiahnya adalah pemberi arah atau petunjuk jalan. Jadi, mukjizat bukanlah tujuan, tetapi tanda atau penunjuk arah. Jika seseorang memberitakan Injil di tempat di mana masyarakat belum mendengar Injil dan belum mengenal Allah yang hidup, maka mukjizat dapat membuka jalan agar mereka yang tidak mengenal Allah yang benar dan Juruselamat, dapat mengenal Dia.

Jadi, mengapa mukjizat disebut sebagai tanda atau berfungsi sebagai penunjuk arah? Pertanyaan ini harus dijawab dengan benar supaya orang Kristen mengerti benar fungsi mukjizat dalam hidup orang percaya secara umum dan pelayanan pekerjaan Tuhan. Kalau seseorang menginjil ke sebuah daerah yang tidak pernah mengenal Allah Israel, Allah Abraham, Ishak dan Yakub, mereka tidak mengenal ada Allah yang menciptakan langit dan bumi yang mengutus Putra-Nya yang tunggal, dengan cara bagaimanakah kita memperkenalkan Allah kepada mereka? Tentu tidak cukup dengan kata-kata, tetapi harus ada “bukti”. Apakah benar Yesus anak Allah yang berkuasa, yang mati dan bangkit dari kematian? Untuk menjawab masalah ini, maka Tuhan menyertakan kuasa-Nya yang menghasilkan mukjizat untuk membuka mata pengertian orang kafir untuk mengenal Allah yang benar.

Demikianlah pada seluruh perjalanan pelayanan Tuhan Yesus disertai tanda-tanda ajaib dan mukjizat-mukjizat yang luar biasa. Hal itu dimaksudkan agar orang-orang Yahudi dapat mendengar kebenaran dan mengenal bahwa Yesus adalah utusan Allah. Mengenai hal tersebut, Tuhan Yesus berkata: “Aku tahu, bahwa Engkau selalu mendengarkan Aku, tetapi oleh karena orang banyak yang berdiri di sini mengelilingi Aku, Aku mengatakannya, supaya mereka percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku” (Yoh. 11:42). Kita harus memerhatikan frase “oleh karena orang banyak yang berdiri di sini… supaya mereka percaya”. Jelaslah di sini bahwa mukjizat dilakukan untuk orang yang belum percaya atau baru ikut-ikutan menjadi Kristen.

Dalam hal ini kita sangat setuju atas keyakinan bahwa mukjizat masih berlaku, yaitu selama masih dibutuhkan untuk membuka mata manusia yang tidak mengenal adanya Allah yang benar dan Yesus Kristus satu-satunya Juruselamat. Dalam pelayanan, dijumpai hamba-hamba Tuhan yang dipakai Tuhan secara luar biasa dalam hal ini. Namun demikian, harus tetap disadarkan bahwa Kekristenan bukan hanya sekadar mengalami mukjizat. Setelah mereka percaya kepada Tuhan Yesus, mereka harus mengalami pertumbuhan iman untuk menjadi serupa dengan Yesus, sebab itulah maksud keselamatan agar kita menjadi serupa dengan Yesus sebagai model manusia yang dikehendaki oleh Allah (Rm. 8:28-29).

Dalam suatu peristiwa, Tuhan menegur orang-orang yang kelihatannya akrab hendak mengikut Tuhan Yesus tetapi tidak memiliki nilai pengiringan yang benar. Kepada mereka dengan tegas Tuhan Yesus berkata: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya kamu mencari Aku, bukan karena kamu telah melihat tanda-tanda, melainkan karena kamu telah makan roti itu dan kamu kenyang.” (Yoh. 6:26). Kata “tanda” dalam teks ini adalah semeion yang sama artinya dengan mukjizat. Dalam pernyataan-Nya tersebut, Tuhan hendak menasihati mereka agar jangan hanya karena berkat jasmani dari mukjizat yang Tuhan kerjakan mereka mengiring Yesus. Tetapi harus melihat arah atau penunjuk ke mana mereka harus bertumbuh atau melangkah.

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.