10. Menjadi Hamba

TUHAN YESUS BERKATA bahwa banyak yang dipanggil tetapi sedikit yang dipilih.1 Tuhan Yesus menyampaikan pernyataan ini sesudah Ia mengemukakan perumpamaan mengenai orang-orang istimewa yang tidak merespon undangan seorang Raja yang mengadakan pesta perjamuan. Dimana akhirnya Raja itu mengundang semua orang yang ada di perempatan jalan, siapa pun yang bisa dan yang mau menerima undangan, agar ruangan pesta penuh dengan tamu. Ketika Raja itu mengundang semua orang yang bisa diundangnya, didapati ada tamu yang tidak memakai pakaian pesta. Tamu yang tidak memakai pakaian pesta tersebut dibuang ke dalam kegelapan yang paling gelap. Dalam hal ini, walaupun Raja menginginkan ruangan pestanya dipenuhi tamu undangan, tetapi Raja tetap pada integritasnya, bahwa hanya orang yang memakai pakaian pesta yang layak ada di dalam pesta tersebut. Hal ini menunjuk bahwa sekalipun Tuhan tidak menginginkan seorang pun binasa -tetapi tanpa kesucian hidup sesuai dengan standar Tuhan- seseorang tidak akan berkenan masuk ke dalam Kerajaan Surga.

Tindakan orang-orang yang menolak undangan, menunjukkan bahwa mereka tidak menghormati Raja atau tidak mengakui eksistensi Raja tersebut sebagai penguasa. Sedangkan tamu yang tidak memakai pakaian pesta menunjukkan ketidakseriusannya menanggapi undangan Raja tersebut. Tamu istimewa yang menolak undangan Raja menunjuk orang-orang Yahudi yang sebenarnya tidak terlalu perlu mempersoalkan pakaian pesta sebab mereka orang-orang yang sudah terlatih memiliki moral yang baik karena taurat yang mereka miliki. Sedang semua orang yang ada di perempatan jalan menunjuk orang-orang yang tidak memiliki kehidupan yang baik. Mereka harus berjuang untuk mengenakan pakaian pesta. Ini menunjuk kepada bangsa-bangsa di dunia dengan segala budaya mereka yang jauh dari standar moral yang baik. Mereka harus berjuang memiliki moral yang baik untuk masuk pesta perjamuan yang diadakan Raja. Hal ini menunjuk bahwa menjadi pengikut Tuhan Yesus yang bisa masuk ke dalam Kerajaan-Nya, tidak mudah. Seseorang harus berjuang memiliki kesucian hidup yang sejajar dengan pakaian pesta. Perumpamaan yang dikemukakan oleh Tuhan Yesus jelas sekali mengetengahkan pesan bahwa mengikut Tuhan Yesus berarti harus bersedia tunduk kepada Tuhan.

Dari perumpamaan tersebut kita memperoleh pelajaran rohani yaitu kenyataan adanya orang-orang yang tidak mau kesibukannya diusik. Mereka tidak ingin memiliki dunia lain, sebab mereka telah memiliki dunia mereka sendiri. Hal ini menggambarkan kehidupan orang yang tidak bersedia masuk ke dalam suasana Kerajaan Allah atau pemerintahan Allah. Mereka tidak bersedia menggelar hidup sesuai dengan yang dikatakan dalam Doa Bapa Kami: datanglah Kerajaan-Mu. Mereka telah memiliki kerajaannya sendiri dan tidak ingin eksistensi kerajaan mereka terganggu. Sebenarnya secara tidak disadari orang-orang seperti ini seperti Lusifer yang mau membangun dan memiliki takhtanya sendiri.

Sejatinya, mereka adalah orang-orang yang tidak bersedia menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan. Kalau mereka menghormati Raja tersebut secara pantas, bagaimana pun keadaan mereka, mereka akan tinggalkan demi kesenangan Raja yang terhormat tersebut. Rupanya kesibukan yang mereka miliki dianggap lebih penting dari undangan Raja tersebut. Orang-orang seperti ini sama dengan orang-orang Kristen yang tidak menghormati Tuhan secara pantas. Mereka menyediakan diri sangat terbatas bagi Tuhan. Mereka merasa sudah memenuhi undangan hanya karena sudah ke gereja setiap hari Minggu. Banyak hal yang seharusnya mereka dapat lakukan bagi Raja di atas segala raja tersebut, tetapi ternyata mereka lebih mementingkan banyak hal lain. Orang-orang seperti ini sebenarnya belum memenuhi panggilannya secara benar sebagai orang percaya yang menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan.

1) Matius 22:14

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.