10. Menikmati Secara Ideal

SEBENARNYA KEHIDUPAN DI DUNIA bukanlah untuk menemukan ketenangan, sebab bagaimana pun manusia tidak akan pernah menemukan ketenangan dan kebahagiaan secara ideal sesuai rancangan semula. Dengan keberadaan manusia yang rusak dan bumi yang terkutuk, manusia tidak bisa menjalani hidup dan menikmati semua yang indah yang Tuhan ciptakan. Karakter manusia yang sudah rusak tidak mungkin bisa menikmati segala sesuatu yang diciptakan oleh Allah secara proporsional. Segala sesuatu yang diciptakan oleh Allah bukan saja hal bendani seperti segala sesuatu yang dapat dinikmati oleh fisik seperti makanan dan minuman, tetapi juga keindahan (seni), seks dan sebagainya. Tidak ada sesuatu yang dirancang bukan untuk kesukaan hati Tuhan. Harus diingat bahwa segala sesuatu dari Dia, oleh Dia dan bagi Dia.1 Ini berarti bahwa yang proper (ideal) adalah segala sesuatu yang diciptakan Allah bisa berlangsung sesuai dengan maksud Tuhan menciptakannya yaitu dipersembahkan untuk kesukaan hati Tuhan. Jika tidak, maka ciptaan-Nya tidak akan dapat dinikmati secara proporsional.

Sangatlah logis kalau segala sesuatu yang diciptakan oleh Tuhan, dirancang untuk manusia yang mengabdi kepada Tuhan, bukan untuk makhluk yang memberontak kepada-Nya. Ketika manusia berdosa kepada Penciptanya, maka segala sesuatu menjadi rusak dan bergeser dari “tempatnya”. Semua menjadi tidak proper. Inilah yang dikatakan sebagai meleset atau dosa (Yun. hamartia). Memang, walaupun manusia sudah jatuh dalam dosa dan bumi terkutuk, manusia masih bisa menikmati segala sesuatu yang diciptakan oleh Tuhan, tetapi kenikmatannya terbatas atau tidak ideal. Kalau ciptaan Allah yang dirancang untuk manusia yang mengabdi kepada Tuhan bisa dinikmati secara ideal oleh manusia yang tidak mengabdi, berarti Tuhan dapat dilecehkan atau Tuhan melecehkan diri-Nya sendiri.

Berkat jasmani seperti makan dan minum dapat dinikmati manusia secara terbatas. Hal ini behubung dengan kelemaham fisik seseorang, karena usia dan terbatasnya waktu hidup yang dimiliki manusia. Kenikmatan makan dan minum berakhir pada kelemahan fisik (sakit). Semakin uzur manusia, maka semakin sulit manusia dapat menikmati kenikmatan makan dan minum. Hal ini disebabkan Tuhan sudah mematok umur manusia sekitar 70 tahun. Lebih dari tujuh puluh tahun seseorang semakin sulit menikmati kenyamanan fisik.2 Kalau seseorang terlahir dengan kelemahan fisik (sakit turunan) atau cacat, baik cacat mental maupun cacat fisik, maka mereka hidup tidak nyaman.

Berkenaan dengan jodoh atau teman hidup yang juga bertalian dengan seks, jarang sekali manusia menemukan jodoh sesuai dengan keinginan Tuhan. Ini berarti jarang sekali seseorang menemukan cinta yang ideal seperti rancangan Allah semula dan menimati seks secara ideal. Berumah tangga pun sulit menemukan kebahagiaan yang ideal, sebab semua anggota rumah tangga adalah orang-orang yang memiliki kodrat dosa. Dalam kodrat dosa tersebut terdapat egoisme, mau menang sendiri dan lain sebagainya. Keadaan manusia berdosa ini sulit sekali dapat membangun kebahagiaan yang ideal. Tidak sedikit keluarga atau rumah tangga menjadi neraka di bumi yang sangat menyiksa dan berakhir dengan perceraian.

Berkenaan dengan keindahan (seni), tidak mungkin manusia yang berdosa memiliki naluri seni yang baik atau sempurna seperti manusia sebelum jatuh dalam dosa. Dalam hal ini segala sesuatu menjadi tidak sempurna. Kesempurnaan hanya terjadi nanti di dunia yang akan datang. Seni yang diciptakan manuisia adalah kesenian yang berunsur gairah haus pujian, nafsu mau terhormat, puas diri sendiri dan berbagai motif lain bukan untuk kemuliaan Tuhan. Lagi pula banyak pelaku kesenian selain tidak sempurna juga tidak memiliki hati yang takut akan Tuhan. Banyak karya seni tidak ditujukan bagi kemuliaan Allah. Tidak mungkin karya seni dengan keadaan tidak sempurna dan dapat dinikmati secara proporsional.

1) Roma 11:36 ; 2) Mazmur 90:10-12

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.