10. MENGUBAH KODRAT

Bagi orang beragama pada umumnya yang memiliki hukum-hukum atau syariat yang harus ditaati, maka mereka tidak memerlukan perubahan kodrat hidup. Bagi mereka yang penting adalah pembinaan atau pendidikan agama, supaya umat mengenal tatanan hukum mereka dan memenuhinya dalam hidup keseharian. Seperti bangsa Israel, mereka tidak perlu mengalami kelahiran baru yang mengubah kodrat hidup mereka, dari kodrat manusia ke kodrat Ilahi. Dengan kodrat manusia (human nature) saja mereka sudah bisa melakukan hukum-hukum atau syariat agama mereka. Keadaan manusia yang sudah jatuh dalam dosa masih berpotensi menjadi manusia yang bermoral baik. Tentu kebaikan di sini adalah kebaikan yang sangat relatif. Kebaikan yang relatif artinya kebaikan dari sudut pandang mata manusia yang bisa berubah dan masing-masing individu atau komunitas memiliki perspektif yang berbeda.

Dalam hal tersebut di atas harus dipahami bahwa kejatuhan manusia ke dalam dosa tidak membuat manusia harus atau mesti menjadi seperti hewan. Manusia tetap dapat memiliki moral yang baik, karena masih berkemampuan untuk melakukan perbuatan baik berdasarkan hukum. Manusia masih bisa berkuasa atas dosa, dalam arti kejahatan yang melanggar norma manusia. Karena hal inilah maka Allah berkata kepada Kain bahwa dosa sudah mengintip di depan pintu, tetapi ia harus berkuasa atasnya (Kej. 4:7, tapi jika engkau tidak berbuat baik, dosa sudah mengintip di depan pintu; ia sangat menggoda engkau, tetapi engkau harus berkuasa atasnya). Dalam kasus tersebut jelas sekali bahwa Kain mestinya dapat menghindari praktik pembunuhan, tetapi ternyata Kain memilih untuk membunuh adiknya. Dalam kehendak bebasnya Kain memilih membunuh adiknya.

Adalah sangat keliru kalau seseorang berpikir bahwa kejatuhan manusia membuat manusia tidak dapat berbuat kebaikan sama sekali. Kebaikan yang mampu manusia lakukan adalah kebaikan berdasarkan norma umum, bukan berdasarkan kesucian Allah. Berdasarkan norma umum artinya berdasarkan dekalog yang diterapkan secara legalistis. Legalistis artinya melakukan hukum sesuai dengan bunyinya. Kalau hukum berbunyi: Jangan membunuh artinya tidak menghabisi nyawa seseorang dengan tindakan pembunuhan (Ing. murder). Kalau hukum berbunyi: Jangan berzina artinya tidak melakukan hubungan badan dengan seseorang yang bukan pasangan sahnya atau belum disahkan secara hukum agama.

Umat Perjanjian Baru adalah umat yang harus hidup berdasarkan kesucian Allah. Berdasarkan kesucian Allah adalah tindakan yang selalu sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah. Untuk bisa memiliki kemampuan selalu bertindak sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah, tidak cukup hanya melalui pembinaan atau pendidikan oleh sistem agama atau manusia, tetapi harus dikerjakan oleh Roh Kudus atas mereka yang mengasihi Allah. Penggarapan Roh Kudus tersebut bisa sampai pada tingkat di mana kodrat seseorang diubah, dari kodrat manusia (human nature) berubah berkeadaan menjadi berkodrat Ilahi (divine nature).

Kodrat Ilahi dapat menempatkan manusia atau memberi kemampuan manusia untuk dapat mengerti kehendak Allah. Kodrat yang diubah berarti pola berpikir yang diubah sama sekali (Flp. 2:5-7). Pola berpikir yang diubah dari pola berpikir manusia menjadi seperti pola berpikir Tuhan Yesus, akan membuat seseorang dapat mengerti kehendak Allah dalam hidupnya dengan tepat. Setelah mengerti kehendak Allah, maka barulah dapat melakukan kehendak Allah dengan benar. Perubahan kodrat ini sama dengan pengalaman kelahiran Baru. Hal ini hanya dapat terjadi dalam kehidupan umat pilihan Perjanjian Baru. Roh Kudus menuntun orang percaya melalui proses yang panjang sampai seseorang mengalami kelahiran baru. Kelahiran baru adalah titik awal dari perjalanan di mana kodrat Ilahi ditemukan dalam kehidupan seseorang.

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.