10. MELAKUKAN TAURAT DENGAN SEMPURNA

Dalam Roma 2:27-29 tertulis: Jika demikian, maka orang yang tak bersunat, tetapi yang melakukan hukum Taurat, akan menghakimi kamu yang mempunyai hukum tertulis dan sunat, tetapi yang melanggar hukum Taurat. Sebab yang disebut Yahudi bukanlah orang yang lahiriah Yahudi, dan yang disebut sunat, bukanlah sunat yang dilangsungkan secara lahiriah. Tetapi orang Yahudi sejati ialah dia yang tidak nampak keyahudiannya dan sunat ialah sunat di dalam hati, secara rohani, bukan secara hurufiah. Maka pujian baginya datang bukan dari manusia, melainkan dari Allah.

Pernyataan di atas tersebut sangat radikal, sebab dengan pernyataan ini Paulus membongkar tembok pembatas antara umat pilihan Allah secara darah daging, yaitu keturunan Abraham yang disebut sebagai “orang Yahudi”, dengan bangsa-bangsa lain yang sering disebut kafir dan tidak bersunat. Walaupun bangsa-bangsa lain adalah bukan keturunan Abraham secara darah daging, tetapi jika mereka melakukan Taurat (intinya) hingga memiliki atau memperoleh pujian dari Tuhan, maka ia disebut sebagai Yahudi sejati.

Dengan demikian, sesungguhnya iman kepada Tuhan Yesus tidak ada artinya kalau tidak melakukan inti Taurat. Inti Taurat dikemukakan oleh Tuhan Yesus dalam Matius 22:37-40, yaitu mengasihi Tuhan dengan segenap hati, jiwa dan akal budi, serta mengasihi sesama seperti mengasihi diri sendiri. Apakah hal ini tidak bertentangan dengan pernyataan Alkitab bahwa seseorang dibenarkan bukan karena melakukan hukum Taurat? Tentu tidak bertentangan.

Harus dipahami bahwa walaupun seseorang dapat melakukan hukum Taurat, tetapi kalau tidak ada karya salib (Yesus memikul semua dosa dunia), maka sia-sia belaka semua perbuatan baik; bahkan sekalipun orang dapat melakukan Taurat dengan sempurna. Perbuatan baik dengan melakukan hukum tidak menyelamatkan. Namun bukan berarti tanpa melakukan inti hukum Taurat seseorang dapat masuk surga. Tuhan Yesus sendiri menyatakan bahwa satu titik Taurat pun tidak akan ditiadakan sebelum langit dan bumi lenyap (Mat. 6:18).

Kematian Tuhan Yesus hendak membawa manusia menjadi sempurna, bukan saja dapat melakukan Taurat dengan sempurna, tetapi juga melakukan kehendak Bapa, apa yang baik, yang berkenan, dan yang sempurna. Kedatangan Tuhan Yesus menggenapi atau memenuhi hukum Taurat (Mat. 5:17). Memenuhi dalam teks aslinya (Mat. 5:17) adalah plerosai (πληρῶσαι) dari akar kata pleroo (πληρόω); yang memiliki dua pengertian, pertama membuat penjelasan mengenai hukum menjadi sempurna atau lengkap. Kedua, memenuhi atau menggenapi dalam kehidupan, yaitu melakukannya dengan sempurna. Dengan kesempurnaan melakukan hukum Taurat, maka hal ini membuka peluang pula bagi pengikut Tuhan Yesus untuk melakukan inti hukum Taurat.

Orang percaya dipanggil untuk melakukan hal yang sama bahkan melebihi ahli Taurat dan orang Farisi (Mat. 5:20). Hukum Taurat adalah cermin dari kekudusan Allah. Orang yang melakukan Taurat berarti memancarkan kekudusan Allah. Bagi umat Perjanjian Lama, kekudusan yang dipancarkan sangat terbatas, karena mereka tidak ada yang mampu melakukan hukum Taurat. Lagi pula pemahaman mereka mengenai Taurat belum lengkap, maka mereka pun juga tidak dituntut untuk melakukan Taurat dengan sempurna. Sesungguhnya, Taurat yang sempurna adalah Allah sendiri.

Pada zaman Perjanjian Baru, ketika Tuhan Yesus memenuhi hukum Taurat, yaitu mencapai perkenanan Bapa, Tuhan menghendaki agar orang-orang yang mengikut Tuhan Yesus memiliki kualitas hidup seperti Diri-Nya. Itulah sebabnya Tuhan memanggil orang percaya untuk hidup secara luar biasa. Luar biasa di sini adalah luar biasa dalam kelakuan. Sehingga mereka bisa mengatakan bahwa Tuhan adalah hukum kehidupan. Hal ini sama dengan melakukan hukum Taurat dengan sempurna.

Dalam Roma 2:27 tertulis: Jika demikian, maka orang yang tak bersunat, tetapi yang melakukan hukum Taurat, akan menghakimi kamu yang mempunyai hukum tertulis dan sunat, tetapi yang melanggar hukum Taurat. Apa sebenarnya maksud kalimat ini? Kata menghakimi di sini bukan berarti menilai, mempertimbangkan, dan memutuskan salah atau benar kemudian menghukum, sebagaimana layaknya tugas hakim di pengadilan. Jelas tidak mungkin demikian, sebab hanya Tuhan yang berhak melakukan hal ini sebagai hakim terhadap manusia atau suatu bangsa. Menghakimi di sini, dalam teks aslinya adalah krino (κρίνω), selain berarti menghakimi, juga berarti menyetujui, memperkukuh, mengesahkan, dan mengijinkan (to approve).

Maksud kata menghakimi dalam kalimat tersebut adalah menunjukkan bahwa bangsa Israel patut dihukum oleh sebab pelanggaran-pelanggarannya. Jadi, kejahatan-kejahatan yang disebut Paulus dalam Roma 1 dan 2 bukan hanya ditujukan kepada bangsa-bangsa kafir, tetapi kepada semua umat manusia, termasuk untuk orang Yahudi dan orang Kristen sendiri. Jelas sekali dari ayat tersebut kita dapati bahwa orang-orang yang tidak memiliki Taurat atau hukum, bisa memiliki kelakuan lebih baik.

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.