10. KESEDIAAN BERTINDAK

Dalam Roma 4:25 tertulis: yaitu Yesus, yang telah diserahkan karena pelanggaran kita dan dibangkitkan karena pembenaran kita. Tulisan Paulus ini hendak menyatakan bahwa kematian Tuhan Yesus sebagai satu-satunya jalan yang disediakan Allah untuk menyelesaikan masalah dosa. Masalah dosa berarti karakter yang berpotensi membuahkan perbuatan yang tidak sesuai dengan kehendak Allah. Adapun kebangkitan Tuhan Yesus membenarkan kita. Pembenaran di sini bukan hanya berarti bahwa kita dianggap benar atau dianggap tidak bersalah; tetapi kita yang memiliki tindakan ekstrem seperti Abraham dalam memercayai Allah adalah orang-orang diperkenankan oleh Allah. Dalam hal ini pembenaran Allah atas seseorang juga ditentukan oleh kesediaan seseorang bertindak sesuai dengan kehendak-Nya. Tindakan yang sesuai dengan kehendak Allah itu adalah memilih satu-satu jalan yang berbeda dengan gaya hidup manusia pada umumnya. Orang-orang yang memiliki jejak hidup seperti Abraham suatu hari akan memperoleh apa yang dijanjikan Allah kepada Abraham, yaitu negeri yang memiliki dasar yang direncanakan dan dibangun oleh Allah.

Bagaimana kita mengenakan iman seperti Abraham dalam kehidupan kita hari ini? Tentu seperti Abraham yang tidak mengharapkan kebahagiaan dari dunia ini, yaitu menjalani hidup hanya demi mewujudkan rencana Allah. Abraham mewujudkan rencana Allah dengan “melahirkan” sebuah gaya hidup yang mengekspresikan imannya kepada Allah. Dalam hal tersebut kita dapat memperoleh suatu pelajaran rohani, di mana terdapat hukum atau tatanan bahwa tidak ada pembenaran tanpa iman. Tetapi tidak ada iman tanpa tindakan sebagai isi dari iman itu. Tindakan sebagai isi iman tersebut adalah tindakan meninggalkan cara hidup manusia pada umumnya dan hidup sesuai dengan pola yang Tuhan tunjukkan. Abraham merupakan sosok manusia yang menemukan pola hidup yang Tuhan kehendaki. Dengan demikian, pembenaran oleh iman adalah tindakan yang ekstrim memercayai Allah.

Jadi, dalam proyek keselamatan, Allah menjanjikan bahwa semua keturunan Abraham di bumi akan diberkati, hal ini menunjuk Mesias yang akan datang. Hal mana juga dijanjikan kepada Hawa, bahwa keturunannya akan meremukkan kepala ular. Untuk menerima keselamatan tersebut, harus dengan iman. Iman diperhitungkan atau dipandang memiliki kekuatan untuk meraih anugerah Allah. Untuk proyek ini harus ada satu sosok yang dijadikan teladan dari pola iman yang harus dimiliki orang percaya. Kalau kita hendak dibenarkan, maka harus memiliki iman. Ini adalah suatu kemutlakan. Dan iman bukan hanya sebuah pengaminan akali atau persetujuan pikiran, tetapi iman adalah tindakan. Tindakan yang harus dimiliki adalah tindakan seperti Abraham, bukan perbuatan berdasarkan hukum atau aturan agama.

Jika memahami bahwa iman adalah tindakan seperti tindakan Abraham, maka ternyata banyak orang yang belum memiliki iman yang sejati, yaitu iman yang menyelamatkan. Oleh sebab itu orang percaya harus terus bertumbuh, sebab iman datang dari pendengaran oleh Firman atau suara Tuhan yang dipahami secara akal atau nalar melalui Alkitab (logos), sedangkan Rhema adalah Firman atau suara Tuhan yang dalam situasi konkret. Untuk memiliki iman, seseorang harus bergaul dengan Allah dan melalui berbagai pengalaman kehidupan, seperti yang dialami oleh Abraham. Itulah sebabnya dikatakan dalam Yakobus bahwa oleh perbuatan maka iman menjadi sempurna (Yak. 2:21-22, Bukankah Abraham, bapa kita, dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya, ketika ia mempersembahkan Ishak, anaknya, di atas mezbah? Kamu lihat, bahwa iman bekerjasama dengan perbuatan-perbuatan dan oleh perbuatan-perbuatan itu iman menjadi sempurna).

Orang percaya harus terus belajar Firman Tuhan dari Alkitab (Logos) secara memadai dan berjalan dengan Tuhan. Tuhan bekerja dalam segala hal untuk mendatangkan kebaikan bagi orang percaya. Kebaikan tersebut adalah iman yang mendatangkan keselamatan. Dari pengalaman hidup tersebut, orang menerima banyak Rhema. Rhema adalah suara Tuhan atau suara Roh Kudus dalam situasi konkret melalui segala peristiwa kehidupan. Dari Rhema inilah lahirlah iman. Iman di sini berarti penurutan terhadap kehendak Allah. Jadi, kalau seseorang tidak mendengar suara Roh Kudus dan tidak mematuhi-Nya, maka tidak pernah melahirkan iman. Iman orang percaya ditandai dengan kesediaan melakukan segala sesuatu, apa pun yang diperintahkan oleh Allah. Orang seperti ini, akhirnya hidupnya seperti Tuhan Yesus yang makanan-Nya melakukan kehendak Bapa dan menyelesaikan pekerjaan-Nya. Dengan kalimat lain orang beriman ditandai dengan kehidupan seperti Tuhan Yesus. Selanjutnya orang beriman yang benar, fokusnya hanya dunia yang akan datang seperti Abraham, langit baru dan bumi yang baru.

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.