10. KEMATIAN MANUSIA LAMA

Persiapan yang paling penting untuk menghadapi kematian adalah kematian, artinya sebelum kita mengalami kematian fisik atau tubuh jasmani kita, kita harus berani mengalami kematian dari dosa atau manusia lama kita. Alkitab menyatakan berulang-ulang mengenai fakta ini. Dalam Roma 6:4 tertulis: “Dengan demikian kita telah dikuburkan bersama-sama dengan Dia oleh baptisan dalam kematian, supaya, sama seperti Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati oleh kemuliaan Bapa, demikian juga kita akan hidup dalam hidup yang baru.” Dikuburkan bersama dengan Tuhan Yesus artinya kesediaan untuk meninggalkan cara hidup yang tidak sesuai dengan standar hidup yang dikenakan oleh Yesus. Dalam Kolose 3:3-4 Alkitab mencatat: “Sebab kamu telah mati dan hidupmu tersembunyi bersama dengan Kristus di dalam Allah. Apabila Kristus, yang adalah hidup kita, menyatakan diri kelak, kamu pun akan menyatakan diri bersama dengan Dia dalam kemuliaan.” Ayat ini juga dengan tegas menunjukkan bahwa orang percaya harus sudah benar-benar mengalami kematian.

Tentu kematian yang dimaksud oleh Roma 6:4 dan Kolose 3:3-4 adalah kematian dari segala sesuatu yang duniawi. Itulah sebabnya dalam Kolose 3:5 Firman Tuhan mengatakan: “Karena itu matikanlah dalam dirimu segala sesuatu yang duniawi, yaitu percabulan, kenajisan, hawa nafsu, nafsu jahat dan juga keserakahan, yang sama dengan penyembahan berhala.” Jelas sekali dikemukakan oleh Paulus dalam kitab Kolose ini bahwa kematian yang dimaksud adalah kematian dari manusia lama atau kodrat dosa di dalam diri kita. Kalau seseorang tidak mengalami kematian manusia atau kodrat dosanya, maka ia tidak akan mengalami kelahiran baru. Itu berarti tidak akan menjadi ciptaan baru di dalam Tuhan. Hal ini sama dengan tidak menjadi anak Allah yang sah (huios).

Kematian seperti ini akan melahirkan kehidupan Ilahi, yaitu karakter Allah dalam diri seseorang. Sehingga bisa menampilkan pribadi dan kehadiran Allah bagi lingkungannya. Inilah artinya menjadi saksi Kristus. Inilah sebenarnya tujuan utama menjadi orang percaya atau umat pilihan Perjanjian Baru, sebagai penggenapan rencana Allah sejak manusia diciptakan oleh-Nya. Tidak ada prestasi yang lebih penting dari prestasi ini. Prestasi inilah yang mengundang pengakuan Allah Bapa sebagai anak yang berkenan di hadapan Dia. Usaha ini yang dimaksud oleh Tuhan Yesus sebagai mengumpulkan harta di surga. Tidak ada kekayaan rohani yang dapat dikumpulkan tanpa mengalami kematian dari manusia lama atau kodrat dosa. Inilah sebenarnya yang dimaksud dengan kematian dalam Tuhan.

Kata “kematian dalam Tuhan” bertalian dengan usaha untuk memadamkan atau mematikan keinginan daging yang bertentangan dengan kehendak Allah. Ini adalah tindakan untuk memadamkan cita-cita pribadi, ambisi pribadi, dan lain sebagainya, kemudian mengarahkan diri sepenuhnya untuk melakukan kehendak Allah. Ini berarti ia rela kehilangan segala hak demi Tuhan. Hal ini menunjuk kepada suatu proses perjalanan hidup Kekristenan yang benar. Jadi sebelum kita mati secara fisik dan dikubur, maka kita harus terlebih dahulu memasuki proses kematian manusia lama. Oleh sebab itu hendaknya kita tidak mati secara jasmani sebelum mengalami kematian dari manusia lama atau kodrat dosa kita.

Proses kematian mengawali atau mendahului kelahiran baru yang Tuhan berikan atau bisa berjalan serempak atau sejajar. Dalam Tuhan Yesus kita menjadi ciptaan yang baru (a new creature atau a new being). Alkitab mengatakan bahwa kita telah dilahirkan oleh Allah (Yoh. 1:13). Kita tidak boleh menganggap hal ini sebagai hal biasa sehingga kita mengabaikannya. Kita harus menganggap hal ini sebagai sesuatu yang luar biasa. Kita telah dilahirkan oleh Allah dengan natur baru. Dilahirkan oleh Allah adalah anugerah terbesar yang dimiliki manusia. Tentu hal ini terjadi oleh karena pengorbanan Tuhan Yesus Kristus. Sebab oleh penebusan-Nyalah kita dijadikan anak-anak Allah. Pengangkatan sebagai anak disahkan dengan materai, yaitu Allah menaruh Roh Kudus dalam diri kita (Ef. 1:13).

Menjadi anak-anak Allah yang penting bukan saja kita berstatus anak Allah dimana kita memiliki jaminan pemeliharaan, perlindungan, dan berkat-berkat-Nya, tetapi kita juga memiliki kodrat baru atau natur baru. Roh Kudus selain sebagai materai, namun juga sebagai pendamping yang membawa kita bertumbuh dalam natur baru, dimana kita sampai kepada kematian dari manusia lama atau kodrat dosa melalui proses panjang. Ini adalah proses kematian manusia lama atau kodrat dosa sebelum kematian tubuh jasmani.

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.