10. Karakter Mengarahkan Kepribadian

KUALITAS JIWA YANG BAIK memuat pikiran dan perasaan serta kehendak yang sesuai dengan kebenaran Allah. Tetapi kalau jiwa tidak memuat pikiran, perasaan dan kehendak yang tidak sesuai dengan kebenaran Tuhan berarti jiwanya berkualitas buruk. Karakter seseorang terekspresi dalam perilaku secara konkret atau nyata yang dapat dirasa orang itu sendiri dan orang lain. Dalam proses keselamatan bagian yang pertama disentuh adalah karakternya agar mengalami perubahan. Dalam hal ini dibutuhkan perjuangan yang berat, jika jiwa sudah terlanjur terisi dengan banyak “sampah” yang memenuhi wilayahnya dalam waktu yang lama. Tidak ada jalan cepat untuk mengubah warna jiwa seseorang. Semuanya harus melalui proses bertahap yang ketat.

Titik inti persoalan keselamatan adalah perubahan karakter, oleh sebab itu pelayanan harus difokuskan kepada hal tersebut, sampai pada tercapai goalnya yaitu manusia dikembalikan seperti rancangan semula Allah; sempurna seperti Bapa.1 Mengubah karakter ini bukan satu hal yang mudah, juga bukan hal sulit, tetapi sangat sulit. Hal ini harus dipahami supaya orang percaya rela menganggarkan segenap hidup ini tanpa batas untuk perubahan tersebut. Lagi pula perubahan tersebut tidak bisa terjadi atau berlangsung dalam waktu singkat. Dengan demikian tidak ada jalan mudah untuk mengalami perubahan karakter. Perubahan karakter seseorang menuntut perjuangan yang menuntut pengorbanan segenap hidup. Seluruh perjalanan hidup di bumi ini dalah proses untuk mengalami transformasi pikiran guna perubahan karakter. Dari perubahan karakter terus menerus secara signifikan akan mewarnai atau mengarahkan kepribadiannya. Di dalam kepribadian inilah terdapat hati nurani atau suara hati (Yun. sunaedesis; συνείδησις) yang memiliki nilai kekal. Karakter menunjuk kualitas jiwa, sedangkan hati nurani menunjuk kualitas kepribadian seseorang. Hal ini tidak mutlak, sebab karakter juga bisa mengekspresikan dan menunjuk kualitas kepribadiannya. Suatu saat ketika seseorang meninggal dunia, tubuh dan jiwanya dikubur dan lenyap, maka hati nurani yang memberi kualitas atas kepribadiannya merupakan hasil akhir yang menentukan keadaan kekalnya. Diharapkan melalui proses pendewasaan, kepribadian orang percaya menjadi mulia seperti kepribadian Tuhan Yesus.

Oleh sebab itu jelaslah bahwa kualitas jiwa atau karakter yang buruk akan membangun atau mewarnai kepribadian sehingga menjadi buruk pula. Sebaliknya kualitas jiwa atau karakter yang baik akan membangun atau mewarnai kepribadian sehingga menjadi baik juga. Jika kualitas jiwa dimana terdapat pikiran, perasaan dan kehendak ditentukan oleh lingkungannya yaitu apa yang didengar dan dilihat, maka kepribadian menjadi hasil akhir dari pengaruh dunia ini. Kalau dunia sekitar jahat dan membentuk jiwa yang jahat, maka kepribadiannya jahat pula, tetapi kalau dunia sekitar atau lingkungannya baik maka membentuk jiwa yang baik maka kepribadiannya menjadi baik pula. Perubahan karakter seseorang “mewarnai” kepribadian tanpa menghilangkan ciri dasar kepribadian. Misalnya, seorang yang berkepribadian keras, tetap keras tetapi jika menerima asupan kebenaran maka kerasnya diarahkan kepada hal yang positif. Pada akhirnya kepribadian seseorang menampilkan diri orang tersebut. Dalam Filipi 2:5 tertulis, hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus. Kata pikiran dan perasaan dalam ayat ini terjemahan dari kata Yunani yaitu phroneo (φρονέω). Kata ini sejajar dengan kata sunaedesis (hati nurani). Kata phroneo juga bisa berarti cara berpikir (mindset). Dari masukkan yang diterima jiwa terbangunlah warna hati nurani yang juga sama dengan cara berpikir. Cara berpikir inilah yang sama dengan kecerdasan roh.

1) Lukas 14:33 2) Matius 8:22 3) Filipi 2:12-13

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.