10. JIKA TUHAN MENGHENDAKI

Orang yang hidup beriman dengan benar ditandai dengan kesediaan untuk hidup di bawah pengaturan Roh Kudus. Mudah sekali mengatakan: aku berserah ya Tuhan, pimpinlah aku, aku mau mengikut Engkau dan lain sebagainya yang sejenis, tetapi faktanya banyak orang Kristen yang hidupnya di bawah pengaturan diri sendiri. Apa yang mereka kemukakan dengan bibir di gereja dalam doa dan nyanyian tidak sinkron dengan kenyataan perjalanan hidup yang mereka jalani. Mereka hanya berfantasi hidup dalam pimpinan Tuhan, fantasi mengikut Yesus, fantasi berserah, bukan dalam kenyataan.

Sebenarnya orang-orang seperti ini tanpa sadar menipu dirinya sendiri. Harus waspada, sampai pada stadium atau level tertentu, orang-orang seperti ini jika tidak jujur dengan diri sendiri dan tanpa pimpinan Roh Kudus, mereka dapat disesatkan oleh roh-roh jahat. Sebagai akibatnya, mereka tidak mengenal dirinya sendiri. Mereka buta terhadap keadaan diri mereka yang sebenarnya jauh dari hidup berkenan di hadapan Tuhan. Hal ini terjadi pada jemaat Laodikia yang ditulis dalam kitab Wahyu 3:17 Karena engkau berkata: Aku kaya dan aku telah memperkayakan diriku dan aku tidak kekurangan apa-apa, dan karena engkau tidak tahu, bahwa engkau melarat, dan malang, miskin, buta dan telanjang.

Tentu saja orang-orang yang tidak mengenal dirinya, tidak akan mengenal kehendak Tuhan dan rencana-rencana-Nya. Mereka tidak akan pernah mengalami rencana Allah yang digenapi dalam hidup mereka. Ada gereja-gereja dengan segudang program yang tidak dikonfirmasikan dengan Allah. Mereka telah mengganti mendengar suara Tuhan dengan sistim lain yang dianggap lebih canggih, yaitu pola kerja hasil karya rasio manusia. Gereja-gereja mereka dipimpin oleh orang-orang yang memiliki gelar tinggi dan kemampuan berorganisasi modern. Tetapi mereka tidak membuka telinga rohani untuk mendengar tuntunan Tuhan.

Demikian pula daalam kehidupan pribadi banyak orang Kristen. Banyak di antara mereka yang tidak mendiskusikan rencana-rencana, cita-cita dan keinginan-keinginan hatinya dengan Tuhan. Mereka lebih mendengar atau menerima pengaruh dari berbagai media daripada duduk diam di kaki Tuhan untuk mendengar suara-Nya. Dalam perjalanan hidup ini mereka lebih memilih jalannya sendiri daripada menemukan jalan dan rencana Tuhan.

Banyak orang Kristen seperti itu yang berjalan sesuai dengan selera, perhitungan dan keinginannya sendiri dalam segala hal; seperti membeli suatu barang, sekolah, jodoh, pindah rumah, bisnis, tempat kerja dan lain lain. Memang kita tidak selalu bertanya: apa yang harus kita lakukan Tuhan? bolehkah beli barang ini atau itu? Tetapi seseorang yang mengerti kebenaran Firman Tuhan dan berhasrat dengan sungguh-sungguh mau menyenangkan hati Tuhan memiliki kepekaan untuk membedakan apakah suatu yang dilakukan sesuai kehendak-Nya atau tidak. Dalam segala tindakan dan keputusan selalu memperhitungkan perasaan Tuhan dan pikiran-Nya atau rencana-Nya. Untuk hal-hal yang besar seperti hal jodoh dan memilih profesi, ia akan dengan sangat serius mohon pimpinan Tuhan.

Satu hal yang membuat kita merasa sulit mengerti kehendak Tuhan adalah karena kita telah mem-plot apa yang kita ingini. Semakin mem-plot apa yang kita ingini, maka sesungguhnya makin sulit menangkap atau semakin bingung untuk mengerti kehendak Tuhan. Tetapi semakin seseorang memiliki kesediaan menyerah kepada kehendak Tuhan dan berkerinduan menyenangkan hati-Nya, maka semakin peka dan mengerti apa yang Tuhan kehendaki.

Banyak orang Kristen berpikir bahwa mendengar suara Tuhan untuk menerima dan mengerti pimpinan-Nya adalah sesuatu yang mustahil dialami. Mereka memandangnya sangat rumit dan tidak berlaku lagi pada zaman kita sekarang. Suara Tuhan sudah dianggap mati atau tidak ada lagi, padahal Tuhan akan menunjukkan jalan-jalan-Nya (Yes. 2:3-4). Menurut pemikiran kebanyakan orang modern sekarang ini, pikiran manusialah yang utama dan manusia itu sendiri yang berhak bertindak sesukanya. Irama hidup seperti ini sudah merupakan irama hidup umum. Ini pandangan yang keliru. Janji Tuhan menyertai orang percaya masih berlaku dan mestinya kita alami secara konkret.

Berkenaan dengan hal tersebut, Tuhan melalui Yakobus menasihati kita agar kita tidak melupakan Tuhan dalam perencanaan. (Yak. 4:13-17). Kerendahan hati ternyata juga diukur oleh hal ini, yaitu sejauh mana seseorang melibatkan Tuhan dalam segala perencanaan. Sikap ini sesungguhnya merupakan sikap yang mengakui bahwa Allah adalah Allah semesta alam yang menentukan segala sesuatu dan berkuasa menyelesaikan segala sesuatu. Oleh sebab itu setiap rencana kita harus dimulai dengan kalimat: Bila Tuhan menghendakinya. Inilah kehidupan wajar orang beriman.

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.