10. FLEKSIBILITAS DAN DINAMISITAS PERPULUHAN

Pokok masalah ini jarang dibicarakan, karena memiliki sensitivitas dan kerawanan yang cukup tinggi. Tetapi demi kebenaran dan kelengkapan penjelasan mengenai perpuluhan dan persembahan uang di dalam gereja, maka hal ini harus dibahas dengan jelas. Masalahnya sekitar persoalan apakah sepersepuluh itu mutlak tepat sepuluh persen dari penerimaan atau penghasilan setiap bulan?

Gereja harus memahami perpuluhan dalam fleksibilitas yang logis, sehingga perpuluhan memiliki dinamisitas yang bisa seirama dengan keadaan masing-masing anggota yang memiliki keadaan khusus. Jika tidak, maka perpuluhan dapat menjadi seperti Taurat (hukum) baru di dalam gereja dan membelenggu. Kalau perpuluhan sudah menjadi seperti Taurat (hukum), maka hal ini dapat merusak bangunan moral Kristen yang landasannya adalah sikap batiniah. Berbicara mengenai sikap batiniah, maka tidak boleh ada unsur aturan yang kaku untuk dilakukan seperti hukum Tauratdalam kehidupan bangsa Israel. Sikap batiniah bagi orang percaya berangkat dari pikiran dan perasaan Kristus, yang sama dengan cara berpikir (Yun. phroneo).

Kalauperpuluhanmenjadi seperti hukum, maka tidak ada fleksibilitas dan dinamisitasnya. Misalnya kalau seseorang sedang dalan kondisi sangat sulit, jangankan memberi perpuluhan, untuk makan saja sudah sangat sulit, ongkos pergi ke gereja tidak ada, apakah ia harus berhutang uang dari orang lain demi untuk dapat memberi perpuluhan? Tentu tidak perlu. Kalau suatu saat ia tidak bisa memberi perpuluhan karena kondisi ekonominya yang parah, harus dimengerti dan diterima bukan sebagai suatu kesalahan. Uang kecil yang masih sisa harus digunakan untuk membeli susu anak, membayar uang sekolah dan lain sebagainya. Menjaga rumah tangga dan membesarkan anak-anak adalah pekerjaan Tuhan juga.

Ketika sebuah keluarga harus membayar uang sekolah anaknya, sehingga terpaksa tidak dapat mendukung pembangunan gereja atau memberi persembahan perpuluhan kepada gereja, apakah berarti ia bersalah? Justru kepada orang-orang yang berkekurangan, perpuluhan yang diterima gereja harus dibagi untuk mereka. Dalam hal ini, sangatlah ideal kalau gereja bisa membangun atau menciptakan keadilan sosial bagi seluruh anggota gereja. Betapa ironisnya, kalau kualitas persekutuan orang-orang percaya kurang dari kualitas persekutuan komunitas orang-orang Yahudi dalam kibbutz. Suatu hari kalau anak-anak jemaat yang didukung gereja dalamstudinya sudah berhasil, keadaan keluarga yang tadinya berkekurangan membaik, maka semuanya (seratus persen) harus dipersembahkan bagai Tuhan. Mereka bisa menjadi pengawal pekerjaan Tuhan.

Tidak sedikit pengusaha yang kelihatannya kaya, tetapi sebenarnya hutangnya jauh lebih besar dari aset dan kekayaan yang ada padanya. Sebenarnya, keadaan pengusaha itu lebih miskin dari orang miskin. Apakah pengusaha seperti ini memaksa diri memberi perpuluhan sementara hutangnya di banyak tempat tidak dibereskan dengan baik? Harus disadari bahwa perusahannya adalah milik Tuhan yang sama dengan pekerjaan Tuhan. Pengusaha itu harus berjuang menyelamatkan usahanya. Kalau suatu hari Tuhan memulihkannya, maka ia harus mengembalikan semuanya bagi Tuhan.

Ketika seorang pengusaha kelas trilyuner memperoleh keuntungan atau profit dalam hitungan nilai trilyun, harus dipertanyakan apakah gereja yang menerima persembahan sejumlah tersebut mampu mengelolanya? Harus diakui bahwa semua harta yang ada pada jemaat pun adalah milik Tuhan. Apakah diserahkan ke gereja atau tidak, semuanya juga tetap milik Tuhan. Pernyataan ini bukan berarti membenarkan kalau seseorang menahan hartanya dari mempersembahkan perpuluhan bagi Tuhan. Tentu semua harus ada di dalam pimpinan Roh Kudus. Dalam hal ini setiap individu harus berperkara dengan Tuhan, agar segala sesuatu yang dilakukan selalu sesuai dengan pikiran dan perasaan Tuhan. Bagaimanapun, setiap orang percaya bertanggung jawab atas kelangsungan pelayanan pekerjaan Tuhan.

Walau dalam memberi perpuluhan ada fleksibilitas dan dinamisitas, tetapi bukan berarti seseorang bisa memberikan perpuluhan sesuka hatinya sendiri, yaitu kemana persembahan perpuluhannya diarahkan. Seharusnya di gereja dimana ia memperoleh berkat rohani atau pemeliharaan rohani, ia mempersembahkan perpuluhannya, bukan ditujukan untuk misi dan lain sebagainya di luar gereja. Kalau ada pekerjaan misi dan lain sebagainya di luar gereja dimana ia berbakti, maka hendaknya ia memakai uang atau hartanya yang lain.

Kasus-kasus yang dikemukakan di atas baru segelintir dari jutaan kasus yang ada dalam kehidupan jemaat Tuhan. Tentu tidak bisa dikemukakan dalam tulisan yang relatif singkat ini. Tidak bisa dibantah betapa kompleksnya masalah hidup yang terjadi dalam kehidupan jemaat Tuhan. Tetapi pada intinya perpuluhan tidak boleh menjadi hukum yang kaku. Segenap hidup jemaat -yaitu keluarga, aset dan usaha-usaha serta pekerjaannya- adalah milik Tuhan. Semuanya harus dipersembahkan bagi Tuhan dalam tuntunan Roh Kudus.

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.