10 Desember 2014: Perbuatan Yang Menyertai

Tindakan berani Maria menuangkan minyak Narwastu murni kepada Tuhan Yesus memberi pelajaran bagi kita (Mrk. 14:3-9). Banyak orang Kristen yang membalas kebaikan Tuhan ala kadarnya, padahal keselamatan yang Tuhan berikan kepada kita adalah pemberian yang tidak ternilai. Kalau Tuhan Yesus tidak menyelamatkan kita, maka kita akan binasa selamanya di api kekal. Dengan apa kita balas kebaikan Tuhan yang sedemikian besar ini? Seharusnya kita menyadari seandainya kita bisa memberikan apa pun yang ada pada kita, hal itu belum cukup membalas kebaikan Tuhan. Kita adalah orang-orang yang berhutang nyawa. Berkenaan dengan hal ini ada beberapa catatan penting yang harus kita pahami berkenaan dengan persembahan bagi Tuhan. Pertama, persembahan yang tidak layak bagi Tuhan (persembahan ala kadarnya), dipandang jahat oleh Tuhan. Dalam Maleakhi 1:6-8, Tuhan menegur bangsa Israel yang memberikan persembahan tidak pantas. Dengan penjelasan ini bukan berarti kalau kita memberi sesuatu harus banyak. Persembahan kita bukan dinilai dari jumlahnya, sebab tidak semua memiliki dalam jumlah yang banyak, tetapi ditinjau dari seberapa mampu kita memberi tentu semaksimal mungkin dengan hati yang bersukacita dan rela (2Kor. 9:6-8). Kisah mengenai janda yang memberikan persembahan dua peser mengajar kita; bukan berapa banyak yang sudah kita berikan tetapi apakah masih ada yang kita sisakan. Janda itu memberikan memberi dari kekurangannya, bahkan ia memberi seluruh nafkahnya (Luk. 21:1-4). Bukan berapa banyak yang sudah diberikan kepada Tuhan, tetapi berapa banyak sisa yang ditinggalkan. Seharusnya semua orang yang ditebus oleh darah Tuhan Yesus menyerahkan segenap hidupnya bagi Tuhan, sebab dengan penebusan tersebut kita menjadi milik Tuhan sepenuhnya (1Kor. 6:19-20). Kedua, Allah menghendaki kita memberi apa yang terbaik bagi Tuhan. Hal ini dapat kita mengerti sebab memang seharusnya yang terbaik hanya bagi Tuhan. Kesediaan kita memberi yang terbaik bagi Tuhan adalah ciri kedewasaan kita dan kecintaan kita kepada Tuhan. Dalam Kejadian 22 dikisahkan mengenai Abraham yang rela mempersembahkan Ishak, anak satu-satunya dan kesayangannya. Hal ini menunjukkan penghargaan Abraham kepada Allah. Ishak adalah miliknya yang terbaik dan tersayang. Sebelum kita mempersembahkan yang terbaik yang kita miliki, maka kita belum bersikap pantas terhadap Tuhan. Kalau Bapa di surga memberi yang terbaik yang dimiliki-Nya yaitu Putra Tungal-Nya, maka seharusnya kita memberi yang terbaik yang kita miliki bagi Tuhan. Meresponi tindakan Maria, Tuhan Yesus berkata bahwa sesungguhnya dimana saja Injil diberitakan di seluruh dunia, apa yang dilakukannya ini akan disebut juga untuk mengingat dia (Mrk. 14:9). Pernyataan Tuhan Yesus menunjukkan bahwa Tuhan menghargai persembahan yang diberikan Maria kepada Tuhan. Apa yang dilakukan seseorang terhadap Tuhan akan diingat terus di kekekalan. Oleh sebab itu kita harus mempersenjatai diri dengan pikiran bahwa perbuatan baik kita tidak akan sia-sia. Sebenarnya Tuhan tidak membutuhkan apa-apa dari manusia. Tuhan juga tidak menuntut dengan paksa orang percaya membalas kebaikan Tuhan. Tetapi tangan Tuhan terbuka kalau orang percaya yang dengan rela mau membalas kebaikan Tuhan. Akhirnya perbuatan orang percaya terhadap Tuhan juga diperhitungkan sebagai sesuatu yang patut untuk dihargai. Dan apa yang kita lakukan dengan tulus bagi Tuhan memiliki nilai abadi. Demikianlah Firman Tuhan mengatakan bahwa perbuatan baik orang percaya menyertainya di kekekalan (Why. 14:13).

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.