10. Bukan Sekadar Momentum

BAPTISAN ROH KUDUS sebenarnya tidak hanya menunjuk pada suatu momentum, tetapi lebih menunjuk suatu proses. Memang dalam Alkitab mengesankan bahwa baptisan Roh Kudus adalah sebuah momentum. Dalam kitab Kisah Para Rasul, beberapa kali dikisahkan mengenai hal tersebut.1 Peristiwa turunnya Roh Kudus menunjukkan bahwa zaman atau masa Roh Kudus bekerja dalam kehidupan orang percaya, sudah dimulai. Semua baptisan Roh Kudus di kitab Kisah Para Rasul selalu dilakukan oleh rasul-rasul, bukan oleh yang lain. Hal ini hendak menunjukkan bahwa gereja tidak dibangun di atas dasar apa pun selain oleh para rasul.2 Baptisan tersebut terjadi di Yerusalem, 3 Yudea, 4 Samaria5 dan Efesus yang mewakili ujung bumi.6 Setelah pertiswa baptisan di beberapa tempat tersebut -di sepanjang perjalanan rasul-rasul dan Paulus sendiri selama puluhan tahun serta dalam catatan sejarah gereja- tidak ada lagi peristiwa yang menunjukkan baptisan Roh Kudus seperti yang terjadi pada abad awal gereja Tuhan.

Baptisan Roh Kudus berarti orang percaya ditenggelamkan dalam kehidupan yang bersekutu dengan Allah di dalam atau melalui Roh-Nya. Itulah sebabnya orang percaya tidak boleh hidup sembarangan sebab dapat mendukakan Roh Kudus yang dimateraikan di dalam dirinya.7 Orang yang menerima Roh Kudus berarti tubuhnya menjadi bait Roh Kudus. Ia tidak boleh mencemarkan tubuhnya dengan dosa. Ia harus memuliakan Allah dengan tubuhnya.8 Orang yang menerima Roh Kudus adalah orang yang menerima tanggung jawab untuk belajar dan terus dimuridkan agar sempurna seperti yang Allah Bapa kehendaki. Justru dengan menerima baptisan Roh Kudus, orang percaya memiliki tuntutan beban yang sangat berat, yaitu untuk berusaha menjadi manusia yang berbeda dengan lingkungannya dan layak menjadi anggota keluarga Allah. 9 Selanjutnya, ia harus mempertaruhkan hidupnya tanpa batas untuk mengabdi kepada Tuhan.

Sebagai orang percaya yang dewasa, kita tidak lagi mengharapkan baptisan Roh Kudus yang disertai tanda-tanda spektakuler seperti di Yerusalem. Sebab pada dasarnya, ketika seseorang percaya kepada Tuhan Yesus, ia telah menerima baptisan Roh Kudus. Yang penting adalah bagaimana menjaga hubungan dengan Tuhan, hidup dalam kesucian yang sejati dan terus dalam proses pendewasaan atau penyempurnaan. Kalau dalam masa-masa tertentu terjadi “ lawatan khusus” bagi umat Tuhan, dimana tanda-tanda spektakuler dinyatakan, hal itu sebenarnya hanya sebagai peringatan bahwa Roh Kudus masih eksis menuntun orang percaya kepada rencana penyelamatan. Lawatan Tuhan sering merupakan teguran bahwa orang Kristen telah mencintai dunia. Lawatan yang disertai dengan tanda-tanda spektakuler bukan bermaksud agar orang Kristen mengulangi lagi tanda-tanda spektakuler sebagai tanda baptisan Roh Kudus. Tetapi agar gereja kembali kepada maksud tujuan keselamatan diberikan.

Banyak gereja salah mengerti, mereka pikir lawatan-lawatan Tuhan seperti yang terjadi Azusa Street, Los Angelos, California Amerika Serikat-pada tanggal 6 April 1906 berlanjut sampai tahun 1915-adalah peringatan dan perintah Tuhan agar tanda-tanda Pentakosta yang terjadi di Yerusalem pada tahun 30 harus diulangi. Gerakan Pentakosta dan Karismatik menekankan pada tanda-tandanya tetapi kurang memperhatikan tujuan lawatan, yaitu kesempurnaan moral anak-anak Tuhan seperti Bapa. Pada kenyataannya, kita menyaksikan tidak sedikit tokoh-tokoh Pentakosta yang jatuh melakukan pelanggaran moral. Jemaatnya pun tidak menunjukkan sebuah kehidupan unggul sebagai anggota keluarga Kerajaan Surga yang bermoral Allah atau seperti Tuhan Yesus. Gereja-gereja yang lahir dari kegerakan di Azusa Street terpecah-pecah karena terjadi banyak konflik dan pertikaian. Gerakan tersebut di tahun-tahun berikut menjadi suam dan dingin sehingga memerlukan lawatan. Tidak sedikit kondisi gereja yang mengaku sebagai “pewaris Pentakosta” menjadi bahan olokan banyak gereja Protestan yang non-Pentakosta atau non-Karismatik. Sejatinya, semua orang Kristen dari gereja mana pun yang benar adalah pewaris Pentakosta.

1) Kisah 2, 8, 10, 19 ; 2) Matius 16:18 ; 3) Kisah 2 ; 4) Kisah 10 ; 5) Kisah 8 ; 6) Kisah 19 ; 7) Efesus 4:30 ; 8) 1Korintus 6:12-20 ; 9) 1Petrus 1:17

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.