10. ANALISA EFESUS 1:4

Dalam Efesus 1:4-5, Paulus oleh ilham Roh menulis: “Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya. Dalam kasih Ia telah menentukan kita dari semula oleh Yesus Kristus untuk menjadi anak-anak-Nya, sesuai dengan kerelaan kehendak-Nya.” Kita tidak boleh menafsirkan ayat ini dan memahaminya secara keliru. Dalam memahami ayat-ayat ini hendaknya pikiran kita tidak tersandera oleh suatu premis yang sudah ada, sehingga dalam menafsirkan ayat-ayat ini seseorang sudah mengarahkan pikirannya kepada suatu penafsiran yang tidak obyektif, karena didasarkan pada premis yang sudah ada tersebut. Efesus 1:4 dalam teks aslinya tertulis: “kathos ekseleksato hemas en auto pro kataboles kosmou einai hemas hagios kai amomous katenopion autou en agape” (καθὼς ἐξελέξατο ἡμᾶς ἐν αὐτῷ πρὸ καταβολῆς κόσμου εἶναι ἡμᾶς ἁγίους καὶ ἀμώμους κατενώπιον αὐτοῦ ἐν ἀγάπῃ).

Kata “sebab” (kathos) yang memulai di ayat 4 ini menunjukkan adanya relasi atau hubungan dengan ayat sebelumnya yang tertulis demikian: “Dari Paulus, rasul Kristus Yesus oleh kehendak Allah, kepada orang-orang kudus di Efesus, orang-orang percaya dalam Kristus Yesus. Kasih karunia dan damai sejahtera dari Allah, Bapa kita dan dari Tuhan Yesus Kristus menyertai kamu. Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus yang dalam Kristus telah mengaruniakan kepada kita segala berkat rohani di dalam sorga.”

Pertama harus ditegaskan bahwa Efesus 1:4-5 hanya ditujukan kepada “orang-orang kudus di Efesus.” Ini berarti Efesus 1:4-5 tidak boleh ditujukan kepada semua orang, tetapi untuk mereka yang sudah berkategori “orang kudus” seperti jemaat Efesus. Merupakan penipuan atau penyesatan kalau ayat ini dikenakan untuk semua orang Kristen secara sembarangan. Faktanya banyak teolog dengan gegabah menyatakan bahwa Allah telah memilih dan menentukan orang-orang tertentu pasti selamat masuk surga. Inilah yang menyebabkan banyak orang Kristen sudah merasa selamat hanya karena sudah percaya kepada Tuhan Yesus.

Kalimat “di dalam Dia” (en auto) artinya di dalam Yesus merujuk pada keselamatan yang dikerjakan oleh Tuhan Yesus. Dalam hal ini secara tidak langsung hendak dikemukakan bahwa hanya karya salib yang dapat membawa orang-orang berdosa menjadi anak-anak Allah, berhubung manusia sudah jatuh dalam dosa. Rancangan awal Allah memiliki anak-anak dapat terwujud oleh karya salib. Kata “memilih” dalam teks aslinya adalah ekselesato (ἐξελέξατο), dari akar kata ekslego (ἐκλέγω). Frasa “Allah memilih kita” adalah terjemahan dari ekselesato hemas, kata “memilih” dalam teks asli memiliki keterangan waktu verb indicative aorist middle 3rd person singularyang menunjuk peristiwa yang sudah terjadi atau sudah dilakukan.

Walaupun kata “memilih” menunjuk peristiwa atau kejadian yang sudah terjadi atau berlangsung, bukan berarti ada orang-orang yang ditentukan secara sepihak oleh Tuhan untuk pasti selamat masuk surga. Harus dipahami bahwa memang sejak semula Allah menghendaki manusia berkeadaan seperti Putra Tunggal-Nya yang kudus, orang-orang kudus (jemaat Efesus) yang menjadi saudara bagi Putra Tunggal-Nya, dimana Putra-Nya menjadi yang sulung. Dengan demikian kesulungan Yesus (Rm. 8:28-29) bukan karena sebuah “kecelakaan”, yaitu karena manusia jatuh dalam dosa dan Anak Tunggal Bapa harus menyelamatkannya dengan mengosongkan Diri menjadi manusia, namun memang sejak semula Allah Bapa merancang hal ini.

Kata memilih (ekseleksato) selain berarti pick up (memungut atau mengambil) juga bisa berarti choose from among (memilih dari antara), juga berarti select (memilih dengan menyingkirkan yang lain). Hal ini mengisyaratkan bahwa banyak yang memiliki kemungkinan dipilih, tetapi oleh karena sesuatu hal atau bisa karena tidak memenuhi syarat, maka tidak dipilih. Hal ini sinkron dengan pernyataan Tuhan Yesus di dalam Matius 22:14 yang tertulis: “Sebab banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang dipilih.” Kata“dipilih” dalam teks ini juga menggunakan kata eksletos (ἐκλεκτός) yangterkait dengan kata kerja ekslego (ἐκλέγω).

Kalimat “supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya” dalam Efesus 1:4 tersebut menunjukkan dengan sangat jelas bahwa orang yang mendengar Injil harus memiliki respon yang memadai atau yang benar untuk bisa mengalami keselamatan. Dalam hal ini orang percaya harus memiliki respon agar dapat mencapai maksud keselamatan diberikan, yaitu segambar dan serupa dengan Yesus, yang sama artinya dengan hidup tidak bercacat dan tidak bercela. Itulah sebabnya Firman Tuhan di dalam 1 Tesalonika 4:7 tertulis: “Allah memanggil kita bukan untuk melakukan apa yang cemar, melainkan apa yang kudus. Karena itu siapa yang menolak ini bukanlah menolak manusia, melainkan menolak Allah yang telah memberikan juga Roh-Nya yang kudus kepada kamu.”Orang Kristen yang tidak hidup kudus berarti menolak keselamatan yang Tuhan berikan.

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.