1. Struktur Permanen Manusia

UNTUK MEMAHAMI MENGENAI karakter dan kepribadian manusia, perlu sekali mengerti mengenai struktur permanen manusia. Sebenarnya memang sukar untuk mengatakan bahwa manusia ini terdiri dari dua atau tiga unsur. Sebab kalau mencoba untuk membagi manusia secara mutlak dalam beberapa unsur maka bisa terjebak dalam kebingungan, sebab manusia sebuah personalitas totalitas yang tidak terpisahkan, tetapi juga bukan satu dalam arti hanya satu unsur saja. Berdasarkan berita Alkitab ternyata memang ada beberapa unsur yang tergabung dalam diri makhluk yang disebut manusia ini. Unsur-unsur itu adalah roh, jiwa dan tubuh1, teori ini disebut trikhotomi; tetapi ada sebagian ahli penganut teori dikhotomi yang cukup membagi manusia menjadi dua unsur saja yaitu manusia batiniah dan manusia lahiriah.2 Dalam teori dikhotomi, roh dan jiwa disatukan.

Sebagai kerangka untuk memahami struktur permanen manusia ini, maka perlu dijelaskan bagaimana Tuhan menciptakan manusia: Tuhan menghembuskan nafas hidup (Ibr. neshamah; נשְָמׁהָ ) ke sosok tubuh yang terbuat dari tanah liat, kemudian manusia menjadi makhluk yang hidup. Ketika roh (Ibr. neshamah) kontak dengan tubuh, maka manusia menjadi makhluk yang hidup. 3 Bagaimana dengan jiwanya? Unsur jiwa sangat besar kemungkinan sudah ada ketika Allah menghembuskan nafas hidup kepada manusia. Kemungkinan yang lain, jiwa eksis atau tercipta akibat pertemuan atau kolaborasi antara roh dan tubuh. Jadi dari pertemuan antara tubuh dan roh inilah terbangun jiwa. Untuk ini, perlulah kita amati proses pembuahan.

Dalam proses pembuahan, sperma (benih pria) bertemu dengan ovum atau sel telur (benih wanita). Pertemuan ini menghasilkan zigot yang menjadi janin. Zigot inilah bakal tubuh manusia yang tidak kelihatan kalau tidak menggunakan kaca pembesar. Dalam zigot terdapat roh, itulah sebabnya bisa dikatakan bahwa kehidupan sudah dimulai sejak terbentuknya janin. Pada waktu bayi baru lahir yaitu setelah sembilan bulan, ia sudah memiliki tubuh dan roh, tetapi jiwanya belum lengkap atau belum sadar sepenuhnya. Seiring dengan perjalanan waktu, jiwa menjadi lengkap atau anak manusia memiliki kesadaran. Kalau dianalogikan dengan lampu, maka dapat dijelaskan sebagai berikut: pada lampu terdapat beberapa komponen yaitu komponen fisik yang kelihatan, arus listrik dan terang atau cahaya. Pertemuan antara arus listrik dan komponen fisik menghasilkan terang. Terang atau cahaya lampu itu ada karena pertemuan antara arus listrik dan komponen yang kelihatan. Terang listrik tersebut menggambarkan jiwa. Jiwa inilah yang memberi kesadaran. Terkait dengan hal ini betapa penting pendidikan anak-anak di bawah usia tujuh tahun, sebab ini adalah usia awal mengenal dunia sekitar dan membangun dasar-dasar filosofi kehidupan.

Pada waktu bayi lahir, jiwa atau kesadarannya belum lengkap, tetapi seiring dengan perjalanan waktu ketika unsur lahiriah (fisik dimana terdapat indera) tumbuh berkembang, maka jiwanya semakin berfungsi sehingga kesadarannya menjadi lengkap. Dalam jiwa terdapat pikiran, perasaan dan yang menampung segala sesuatu yang didengar dan dilihat. Segala sesuatu yang diterima oleh jiwa melalui inderanya, khususnya melalui telinga dan matanya membentuk nuraninya. Nurani ini terdapat pada roh atau neshamah. Nurani merupakan inti kehidupan seseorang, sebab kualitas manusia itu terdapat pada nuraninya. Nurani seseorang pasti terekspresi dalam perilakunya. Jadi, kalau yang diterima oleh jiwa bukan kebenaran maka nuraninya menjadi rusak. Hal ini menunjukkan bahwa jiwa dan nurani dalam neshamah bukan sesuatu yang statis tetapi progresif seirama dengan pertumbuhan fisik.

1) 1Tesalonika 5:23; 2) 2Korintus 4:16; 3) Kejadian 2:7

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.