1 September 2014: Arah Hidup Orang Percaya

Kiblat adalah kata dalam bahasa Arab yang searti dengan arah. Kata ini biasanya digunakan dalam kaitannya dengan arah fisik pada waktu berdoa. Ratusan tahun sebelum ada agama-agama monotheisme besar ada (Kristen dan Islam), orang-orang Yahudi kalau berdoa mengarahkan diri ke Yerusalem. Seperti Daniel, setiap kali menaikkan jam-jam doanya, ia berdoa dengan berkiblat ke Yerusalem, dimana terdapat Bait Allah yang dibangun oleh Salomo sebagai lambang kehadiran Elohim Yahwe. Menurut catatan sejarah, orang-orang Islam pada mulanya juga kalau bersembahyang berkiblat ke arah Yerusalem juga yang dikenal sebagai Baitul Maqdis. Tetapi kemudian hari mengarah atau berkiblat ke Ka’abah di Mekah sampai sekarang. Kita meminjam istilah kiblat sebab kata ini berhubungan dengan urusan penyembahan dan beribadah kepada Tuhan. Sedangkan kata arah lebih bersifat umum. Namun perlu ditegaskan bahwa orang Kristen tidak mengenal pola berdoa atau sembahyang seperti orang Yahudi dan Muslim yang memiliki kiblat secara harafiah. Bahkan orang Kristen tidak memiliki teknik-teknik berdoa seperti banyak agama dan kepercayaan.

Sesuai dengan petunjuk Tuhan Yesus bahwa orang percaya beribadah kepada Allah dalam Roh dan kebenaran (Yoh. 4:24). Ini berarti sebuah ibadah yang tidak diatur oleh tata cara ibadah tertentu, itulah sebabnya dalam kekristenan tidak ada ajaran mengenai tehknik-tehknik berdoa (harus melipat tangan, sujud secara fisik, angkat tangan dan lain-lain). Tetapi dalam kekristenan yang penting adalah kehidupan yang diarahkan atau diorientasikan kepada Tuhan dan Kerajaan-Nya setiap hari.

Kalau berbicara mengenai kiblat, kiblat orang percaya bukanlah tempat atau arah secara harafiah tetapi sikap orientasi hati atau tujuan hidup. Berbicara mengenai kiblat dalam kehidupan orang percaya, kiblat orang percaya pertama, Tuhan sebagai Pusat Kehidupan, yang artinya Tuhan menjadi tujuan hidup ini. Segala sesuatu yang kita lakukan, kita lakukan bagi Dia. Kedua, Tuhan sebagai kebahagiaan atau kesenangan, artinya suasana jiwa kita ditentukan oleh damai sejahtera Tuhan bukan fasilitas kekayaan atau materi dunia, kehormatan manusia serta segala hiburannya. Terakhir, mewujudkan rencana Allah. Hidup kita harus sepenuhnya diarahkan pada rencana perwujudan Kerajaan Allah dengan berusaha menjadi corpus delicti dan menolong orang lain menjadi corpus delicti pula.

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.