1. Pemisahan Dari Dunia

ALKITAB MENGATAKAN BAHWA “Sebab kamu telah mati dan hidupmu tersembunyi bersama dengan Kristus di dalam Allah”.1 Kalimat ini sukar dipahami oleh orang-orang pada zaman surat ini ditulis, apalagi bagi kita sekarang. Walaupun sukar dimengerti, tetapi untuk orang Kristen di abad mula-mula, lebih mudah dimengerti dan dikenakan, karena mereka tidak memiliki kesempatan sama sekali untuk dapat menikmati hidup dalam ketenangan dan kenyamanan. Aniaya yang dialami orang Kristen pada abad mula-mula tersebut merupakan cara Tuhan untuk memisahkan Ke-kristenan dari agama Yahudi dan dari dunia kafir yang tidak sesuai dengan nafas kebenaran Injil. Pintu dunia tertutup bagi orang percaya saat itu.

Di Yerusalem, orang-orang Yahudi yang dimotori oleh para pemimpin agama, berusaha menghambat Kekristenan dan menganiaya orang percaya. Hal ini diijinkan oleh Tuhan agar Kekristenan terpisah dari agama Yahudi, sebab selama itu orang-orang Kristen masih melakukan ibadah seperti orang-orang Yahudi di Bait Allah. Hal ini terbukti ketika Petrus dan Yohanes masih pergi sembahyang di Bait Allah, dimana terjadi peristiwa kesembuhan di Pintu Elok.2 Gereja mula-mula yang sebagian besar adalah orang-orang Yahudi, masih pergi ke Bait Allah untuk menyembah Yahwe dengan cara agama Yahudi. Aniaya yang terjadi luar biasa kejamnya, membuat orang percaya terpisah dari masyarakat. Karena kalau gereja tidak mendapat perlawanan dari agama Yahudi, maka gereja masih menyatu dengan agama Yahudi, sehingga gereja tercemari oleh pola keberagamaan.

Tuhan juga mengijinkan aniaya hebat terjadi atas orang percaya dari pihak kekaisaran Romawi. Tuhan menginjinkan kondisi tersebut supaya gereja yang masih muda pada waktu itu tidak dicemari oleh cara hidup orang kafir. Situasi aniaya tersebut digambarkan Paulus sebagai “bahaya maut” sehingga orang-orang Kristen seperti domba-domba sembelihan. Seruan orang percaya tercatat sebagai berikut: Oleh  karena Engkau kami ada dalam bahaya maut sepanjang hari, kami telah dianggap sebagai domba-domba sembelihan.3 Aniaya orang percaya ini digambarkan oleh Yohanes dalam kitab Wahyu. Dalam Wahyu 12:6, tertulis: Perempuan itu lari ke padang gurun, di mana telah disediakan suatu tempat baginya oleh Allah, supaya ia dipelihara di situ seribu dua ratus enam puluh hari lamanya. Perempuan dalam teks ini bisa mewakili gereja yang dilahirkan oleh Roh Kudus. Agar gereja tetap eksis dengan keberadaan yang kudus atau tidak bercacat dan tidak bercela, maka harus mengalami perjalanan di padang gurun. Padang gurun menunjuk sebuah kesengsaraan. Tidak ada cara lain yang dipakai Tuhan untuk memisahkan gereja dari dunia, selain dengan aniaya.

Situasi hidup orang Kristen pada zaman itu adalah situasi dimana mereka tidak dapat menikmati kesenangan hidup sama sekali. Mereka tidak bisa berharap dapat menikmati kebahagiaan dari dunia ini. Itulah sebabnya Paulus mengatakan bahwa orang percaya sudah mati.4 Kondisi kehidupan orang percaya seperti ini berlaku juga bagi semua orang Kristen; bahwa orang percaya harus selalu dalam kondisi tidak menaruh harapan dapat menemukan kebahagiaan dari dunia ini. Ini situasi kondusif yang sangat membantu orang percaya dalam menumbuhkan Kekristenan sejati yang diajarkan oleh Tuhan Yesus. Banyak orang Kristen tidak memahami hal ini. Ketika dalam keadaan sulit, mereka mau cepat-cepat keluar dari kesulitan tanpa berusaha mengerti maksud Tuhan di dalamnya. Padahal kondisi itu diijinkan Tuhan. Kalau sudah bisa melewati keadaan yang sulit tersebut maka orang percaya bisa menjadi dewasa. Sebaliknya, orang percaya walaupun dalan kondisi nyaman, tetap hanya mengingini Tuhan dan Kerajaan-Nya. Kalau dikatakan pintu dunia tertutup, artinya tidak ada kemungkinan menikmati dunia, maka kita dipanggil mewarisi kerajaan Allah. Itu bukan suatu kegagalan. Tetapi idealnya, walau pintu dunia terbuka untuk kita, tetapi kita tetap memilih Tuhan dan Kerajaan-Nya.

1) Kolose 3:1-3; 2) Kisah 3; 3) Roma 8:36; 4) Kolose 3:3

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.