1. Keselamatan Diri Sendiri Dan Orang Lain

DALAM KISAH NABI YUNUS, ia memberitakan berita penghukuman Allah kepada orang Niniwe, tetapi ia sendiri tidak memiliki perasaan compassion ini.1 Sementara ia menyampaikan pesan Tuhan, ia tidak menginginkan orang-orang Ninewe bertobat. Sebaliknya, ia ingin melihat api turun dari langit seperti yang pernah terjadi di Sodom dan Gomora. Ia merasa lebih senang melihat orang-orang non-Yahudi yang dipandang kafir dihukum Tuhan. Maka ketika orang-orang Niniwe bertobat, ia tidak merasa senang. Yunus melakukan perintah Tuhan tanpa memiliki perasaan yang sama dengan si Pemberi perintah. Ironis sekali, tetapi inilah faktanya. Ternyata, banyak aktivis gereja yang turut mengambil bagian dalam pelayanan tanpa memiliki keterbebanan terhadap keselamatan jiwa orang lain. Keadaan mereka tidak jauh berbeda dari Yunus. Mengapa bisa terjadi demikian? Sebab mereka juga tidak memiliki keterbebanan terhadap keselamatan jiwa mereka sendiri. Mereka tidak mengasihi diri mereka sendiri secara benar.

Benarkah banyak orang Kristen tidak memedulikan keselamatan jiwanya sendiri? Pernyataan ini barangkali dianggap berlebihan. Siapa yang tidak peduli dengan keselamatan jiwanya sendiri? Bukankah setiap orang peduli dengan keselamatan jiwanya sendiri? Tetapi faktanya tidak semua orang peduli terhadap keselamatan jiwanya sendiri. Hal ini terjadi sebab mereka tidak mengerti kebenaran. Orang yang belum mengerti kebenaran tidak akan memiliki langkah yang benar untuk menyelamatkan jiwanya. Mereka adalah orang-orang yang mau menyelamatkan nyawanya sendiri secara keliru. Mereka mau mencari dan menikmati kesenangan jiwa seperti anak-anak dunia menikmatinya. Mereka pikir mereka telah menyelamatkan hidup mereka, ternyata malah membinasakannya.

Mereka bukan orang-orang yang jahat. Mereka berusaha memiliki pasangan hidup yang ideal, memiliki keluarga yang baik, penghasilan yang baik, fasilitas yang memadai, banyak teman dan sahabat yang bisa diajak berteman dan menikmati kesenangan, makan bersama, jalan-jalan dan berbagai kegiatan hidup lain. Tetapi semua itu ternyata hanyalah kegiatan mengisi waktu yang tidak bermanfaat untuk keselamatan jiwa mereka dan untuk membangun kedewasaan rohani pribadi dan penyelamatan jiwa orang lain. Biasanya orang-orang seperti ini tidak menghayati kekekalan. Pikirannya tidak sanggup memahami hal ini. Pikiran mereka hanya tertuju kepada perkara-perkara duniawi. Hati mereka tidak terpindahkan ke surga. Sesungguhnya hanya orang yang mencari harta surga yang dapat memindahkan hatinya, seperti yang dikatakan Tuhan Yesus “dimana ada hartamu di situ hatimu berada”.2 Kalau mereka tidak segera bertobat dan mengubah haluan, sampai mati pun mereka tidak akan mengenal kebenaran dan tidak akan pernah mengenal keselamatan. Pada dasarnya mereka adalah orang-orang yang tidak memiliki compassion terhadap keselamatannya sendiri dan keselamatan orang lain.

1) Yunus 3 ; 2) Matius 6:21

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.