1. Kaya Di Hadapan Tuhan

DALAM SEGALA HAL kita memang harus berharap dan bergantung kepada Tuhan. Tetapi berharap atas sesuatu yang telah disediakan oleh Tuhan dimana kita harus meraihnya sendiri dan bergantung kepada Tuhan dengan menunggu tindakan-Nya atas sesuatu yang sebenarnya menjadi tanggung jawab kita adalah kesalahan fatal. Banyak orang terjebak dalam kesalahan ini. Mereka menunggu lawatan Tuhan, jamahan Tuhan, pemulihan, kebangunan rohani atau apa pun namanya demi pendewasaan tetapi mereka tidak memperolehnya, sebab Tuhan sudah memberikan atau menyediakan, dan orang percaya harus meraihnya dengan tindakan konkret atau respon yang memadai. Inilah tanggung jawab yang harus dipertanggung jawabkan di kekekalan nanti.

Hal pertama, kita harus percaya bahwa setiap hari Tuhan sudah menyediakan “menu” pendewasaan yang pasti akan berdaya guna untuk mengubah hidup kita dari manusia duniawi menjadi manusia Allah. Menu untuk pendewasaan tersebut adalah “berkat kekal”. Dalam Mazmur 23:5 tertulis: “Engkau menyediakan hidangan bagiku, di hadapan lawanku; Engkau mengurapi kepalaku dengan minyak; pialaku penuh melimpah.” Hidangan di ayat ini tentu bukan hidangan jasmani (bukan rumput untuk makanan jasmani) tetapi makanan rohani dalam dimensi lain dalam hidup kita. Hidangan ini lebih jauh bernilai dibanding dengan hidangan untuk pemenuhan kebutuhan jasmani kita. Untuk ini kita harus benar-benar jeli menangkap segala sesuatu yang Tuhan sediakan tersebut. Berkat jasmani bukan lagi menjadi fokus hidup tetapi berkat kekal. Kenyataannya lebih banyak orang yang lebih fokus kepada berkat jasmani dari pada berkat rohani. Orientasi berpikirnya adalah berkat jasmani yang fana.

Bukan hal yang sederhana kalau Tuhan Yesus berkata bahwa manusia hidup bukan hanya dari roti saja tetapi dari setiap Firman yang keluar dari mulut Allah.1 Firman dalam arti logos tidak boleh berlalu, kita harus dengan tekun belajar dan menerima yang disediakan Tuhan setiap kali ada pertemuan-pertemuan bersama, apalagi Firman dalam arti Rhema. Rhema diberikan Tuhan di waktu tertentu dalam kasus atau kejadian tertentu yang tidak bisa diulang lagi. Rhema adalah suara Tuhan yang diterima seseorang pada waktu-waktu tertentu berkenaan dengan peristiwa kehidupan yang dijalani. Dalam waktu yang singkat di hidup ini Tuhan menyediakan rhema-Nya untuk mengubah manusia menjadi manusia Allah. Oleh sebab itu betapa berharganya waktu hidup ini. Ketika seseorang menutup mata, ia dapat menghayati betapa dahsyat dan berharganya waktu hidup ini, sebab di dalamnya Tuhan mau berurusan dengan anak manusia guna menjadikan mereka sebagai anak-anak-Nya. Kesempatan ini hanya satu kali dan singkat. Ini merupakan anugerah yang tiada taranya. Tidak menghargai anugerah ini berarti tidak menghargai Tuhan sendiri.

Orang yang dengan tekun memungut manna surgawi yaitu suara Tuhan setiap hari akan menjadi kaya di hadapan Tuhan, tetapi orang yang ditenggelamkan dengan berbagai urusan pemenuhan kebutuhan jasmani sema-mata akan akan mati dalam keadaan tidak kaya di hadapan Tuhan.2 Inilah sebenarnya yang dimaksud oleh Tuhan Yesus sebagai mengumpulkan harta di surga. Ini adalah pilihan, kita menjadi kaya di bumi ini atau menjadi kaya di surga. Kita tidak bisa menjadi kaya dua-duanya. Kalau pun secara duniawi kita kaya, kita harus menggunakan kekayaan itu untuk kepentingan Kerajaan Surga dan tidak merasa memilikinya. Orang percaya yang secara finansial berlimpah tidak merasa kaya secara materi sebab ia merasa bahwa semuanya itu milik Tuhan dan ia hanya mengelolanya secara benar dan bertanggung jawab. Ia berpikir bahwa mutlak dalam penggunaannya harus dalam komando Tuhan, bukan berdasarkan pertimbangan pribadi. Inilah bendahara-bendahara yang jujur di hadapan Tuhan yang berkatnya adalah mengerti kebenaran dan memiliki hartanya sendiri di Kerajaan Surga nanti (Luk 16:11-12).

1) Matius 4:4 ; 2) Lukas 12:20-21

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.