1 Desember 2014: Mengikatkan Diri Dengan Tuhan

Dalam 1Korintus 6:17, Firman Tuhan mengatakan bahwa barang siapa yang mengikatkan dirinya pada Tuhan, menjadi satu roh dengan Dia. Kata mengikatkan diri dalam teks aslinya adalah kollomenos (Yun. κολλώμενος), dari akar kata kollao (κολλάω). Kata ini selain berarti mengikat juga bisa berarti melekatkan (Ingg. to glue) dan menempelkan secara permanen. Bagaimana implikasi konkritnya kalau seseorang mengikatkan diri dengan Tuhan? Ini adalah masalah penting yang lebih penting dari segala sesuatu, sebab orang Kristen yang gagal mengikatkan diri dengan Tuhan adalah orang yang gagal mengenali dan memiliki keselamatannya, sebab keselamatan adalah usaha Tuhan mengembalikan manusia kepada rancangan-Nya semula, di dalamnya termasuk agar manusia dapat terikat dengan Dia. Harus dipahami bahwa bagaimana pun manusia adalah makhluk yang terikat pada sesuatu atau kepada pribadi. Masalahnya, sesuatu itu apa atau pribadi itu siapa. Hendaknya seseorang tidak merasa sudah mengikatkan diri dengan Tuhan hanya karena setia pergi ke gereja. Mengikatkan diri dengan Tuhan berarti selalu ada dalam ketergantungan kepada Tuhan; bahwa hidup ini tidak bisa dijalani tanpa persekutuan yang benar dengan Tuhan. Persekutuan berarti bersama sepikiran dan seperasaan dengan seseorang, sehingga menjadi satu dalam tujuan dan cita-cita. Dengan demikian persekutuan dengan Tuhan adalah satu-satunya tujuan hidupnya di bumi ini. Masalah keuangan, kesehatan, status ekonomi dan sosial, pendidikan dan lain sebagainya bukanlah masalah sama sekali. Tanpa persekutuan dengan Tuhan berarti tanpa kehidupan. Gaya hidup seperti ini sangat berbeda dengan gaya hidup manusia pada umumnya, dimana manusia dihanyutkan oleh berbagai masalah fana dunia ini sehingga mereka menganggap remeh hidup dalam persekutuan dengan Tuhan. Mereka hidup hanya untuk kesenangannya sendiri dengan menggunakan sarana dunia ini. Tetapi orang yang hidup dalam persekutuan dengan Tuhan tidak akan melakukan sesuatu di luar kehendak dan rencana Tuhan, Tuhan menjadi kebahagiaannya. Satu roh berarti satu gairah, satu hasrat, satu cita-cita dan satu tujuan hidup. Ini berarti satu syarat yang harus dipenuhi untuk bisa terikat dengan Tuhan adalah harus mengenal Tuhan dan semua kebenaran-Nya. Dari hal tersebut kita bisa mengerti kehendak Tuhan dan rencana-rencana-Nya. Seseorang tidak akan dapat memiliki gairah yang sama dengan Tuhan tanpa mengenal kehendak dan rencana-Nya. Untuk itu pula, kita harus berusaha memiliki pikiran dan perasaan seperti Dia. Dalam hal ini Sebenarnya berusaha untuk memiliki pikiran dan perasaan Kristus adalah usaha untuk mengikatkan diri dengan Tuhan. Orang yang terikat dengan Tuhan akan selalu merasa kesepian tanpa menghayati kehadiran Tuhan dalam hidupnya. Orang yang terikat dengan Tuhan selalu merindukan kebersamaan dengan Tuhan dimana pun ia berada. Itu berarti tidak ada kegiatan dimana ia bisa menikmati tanpa Tuhan ikut menikmatinya. Oleh sebab itu dalam melakukan sesuatu harus dipersoalkan apakah Tuhan berkenan kita melakukan hal tersebut atau tidak. Orang yang terikat dengan Tuhan selalu ingin dinikmati oleh Tuhan dan menikmati Tuhan. Orang yang terikat dengan Tuhan akan selalu berusaha melakukan segala sesuatu untuk kepentingan Tuhan dan tidak akan menyakiti hati-Nya. Jika berbuat suatu kesalahan ia akan merasa sangat berduka sebab hatinya terluka. Baginya melukai hati Tuhan sama seperti melukai dirinya sendiri. Sampai pada level ini seseorang baru bisa dikatakan sebagai kekasih Tuhan. Orang-orang yang seperti ini barulah pantas disebut sebagai mempelai Tuhan.

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.