1. BAPA SEGALA ROH

MENGAPA MANUSIA berharga dan Allah begitu mengasihinya? Sebab manusia adalah anak-anak-Nya. Mengapa demikian? Sebab roh manusia adalah roh yang berasal dari Allah Bapa. Itulah sebabnya Allah Bapa disebut sebagai Bapa segala roh.1 Hal ini dimulai ketika Allah menciptakan manusia. Tuhan Allah membentuk manusia dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup.2 Nafas hidup yang dihembuskan Allah kepada manusia itu adalah neshamah atau roh manusia. Pada waktu itulah manusia dilahirkan oleh Allah. Kebenaran ini dipertegas oleh tulisan Yakobus: “Janganlah kamu menyangka, bahwa Kitab Suci tanpa alasan berkata: “Roh yang ditempatkan Allah di dalam diri kita, diingini-Nya dengan cemburu!”.3

Roh yang dimaksud di sini bukanlah Roh Allah tetapi roh manusia. Oleh karena roh manusia adalah roh dari Allah, maka Allah menghendaki roh manusia kembali kepada-Nya.4 Tetapi kalau manusia hidup sesukanya sendiri,5 maka ia akan terhilang yaitu terpisah dari hadirat Allah selamanya. Jadi semua makhluk yang memiliki roh dari Allah sejatinya adalah anak-anak Allah. Masalahnya adalah apakah setiap orang pantas disebut sebagai anak Allah atau anak manusia?

Sebenarnya pergumulan Adam -manusia pertama- adalah pergumulan untuk mengesahkan diri sebagai anak Allah secara permanen. Secara permanen artinya Adam mencapai suatu level karakter Ilahi yang ideal seperti yang dikehendaki oleh Bapa dan tidak akan pernah berubah lagi atau tidak akan jatuh lagi. Untuk ini Adam berkewajiban untuk mewarnai atau membentuk neshamah-nya dapat menjadi pelita Tuhan, artinya neshamah manusia mampu memahami segala sesuatu yang dikehendaki oleh Allah. Sampai pada level itu Adam tidak pernah melakukan sesuatu yang bertentangan dengan Allah Bapa. Tetapi ternyata Adam gagal mencapai level itu. Itulah yang disebut sebagai jatuh dalam dosa dan kehilangan kemuliaan Allah.6 Kalau seandainya Adam mencapai level yang dikehendaki oleh Allah Bapa, maka ia mejadi corpus delicti dan menjadi pokok keselamatan (teladan) bagi seluruh keturunannya. Sejatinya, Adam tidak berketurunan sebelum dapat menjadi pokok keselamatan.

Bagaimana dengan keturunan Adam setelah Adam jatuh dalam dosa? Roh Allah masih berusaha menuntun anak-anak Allah. Anak-anak Adam diberi kesempatan untuk hidup dalam tuntunan Roh Allah. Kenyataan yang dijumpai justru Kain membunuh adiknya Habel. Ia menolak untuk berkuasa atas dosa, tetapi ia dikuasai dosa dan melakukan perbuatan yang bertentangan dengan kehendak roh Allah.7 Dosa dalam ayat ini adalah khatah (חַטָּאָה), yang lebih berarti condition of sin (kondisi atau berkeadaan berdosa). Kain adalah manusia berikut setelah Adam dan Hawa yang menunjukkan ketidaksediaannya melakukan kehendak Bapa. Karena kejahatannya itulah maka keturunan Kain disebut sebagai anak-anak manusia.8 Kenyataannya keturunan Kain adalah manusia yang bejat moralnya. Jadi yang tersisa adalah keturunan Set yang masih disebut sebagai anak-anak Allah.9 Tetapi ketika anak-anak Allah -yaitu keturunan Set tersebut- melakukan kawin campur dengan anak-anak Kain -yang sama maksudnya dengan anak-anak manusia- maka Roh Allah undur dari kehidupan semua keturunan Adam. Sejak itu tidak ada lagi yang berstatus sebagai anak Allah sampai zaman penggenapan, dimana ada orang-orang yang diberi kuasa (hak) sebagai anak-anak Allah.10 Rupanya Tuhan hanya memberi kesempatan sampai pada keturunan pertama Adam yaitu Kain, Habel, dan Set yang berkesempatan sebagai anak-anak Allah di Perjanjian Lama. Keadaan manusia yang tidak seperti yang Bapa kehendaki, membuat manusia tersebut tidak bisa dikatakan sebagai anak yang sah (Yun. huios) tetapi sebagai anak yang tidak sah (Yun. nothos). Keselamatan dalam Tuhan Yesus Kristus membawa manusia untuk dapat berkeadaan sebagai anak-anak Allah yang ideal sehingga sah disebut sebagai anak-anak Allah (huios).

1) Ibrani 12:9 ; 2) Kejadian 2:7 ; 3)Yakobus 4:5 ; 4) Pengkotbah 12:7 ; 5) Yakobus 4:1-4; 6) Roma 3:23 ; 7) Kejadian 4:7 ; 8) Kejadian 6:1-2; 9)Kejadian 6:2 ; 10)Yohanes 1:11-13

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.