09. SEGENAP HIDUP

Mempersembahkan tubuh sebagai korban yang hidup dan kudus adalah puncak dari kehidupan yang menyukakan hati Allah. Inilah prestasi abadi yang tidak dapat dipadankan atau dibandingkan dengan apa pun. Seharusnya inilah satu-satunya isi agenda hidup orang percaya. Paulus menyatakan bahwa inilah persembahan yang berkenan kepada Allah. Kata berkenan dalam teks aslinya adalah euarestos (ευαρεστος), yang artinya selain berkenan (well pleasing) juga berarti diterima (acceptable).

Kata euarestos menunjukkan adanya standar yang harus dicapai oleh orang percaya. Ibarat sebuah barang, menunjuk kepada standar yang ditentukan. Oleh karena hal ini, hendaknya orang percaya tidak berpikir, kalau sudah meyakini dan menerima Yesus sebagai Juruselamat, maka sudah menjadi orang yang diterima oleh Allah Bapa. Dalam hal ini, kita dapat mengerti kalau Paulus berusaha di manapun dirinya berada, untuk bisa berkenan kepada Allah (2Kor. 5:9-10). Kata berusaha dalam teks aslinya adalah philotimoumetha (φιλοτιμούμεθα) yang juga bisa berarti berambisi. Hal ini menunjukkan hasrat yang kuat, atau keinginan yang membara untuk dapat mencapai sesuatu. Bagaimana Paulus dapat memiliki ambisi yang kuat demikian? Sebab Paulus memadamkan segala keinginan selain berkenan kepada Allah.

Keberkenanan di hadapan Tuhan atau melakukan kehendak Bapa hendaknya tidak diukur dari jumlah uang atau persentase dari penghasilan kita yang diberikan kepada gereja. Persembahan yang hidup dan kudus meliputi seluruh hidup dan milik kita yang harus dikembalikan kepada Tuhan. Kehidupan seperti ini dapat dikatakan sebagai ibadah yang sejati. Kata sejati dalam Roma 12:1 dalam teks aslinya adalah logikos (λογικος), yang bisa berarti logis (logical), rasional (rasional), cerdas (intelligent), beralasan memiliki dasar atau landasan (reasonable). Allah yang besar, mulia dan agung serta Mahasempurna, tidak cukup menerima ibadah dalam bentuk seremonial atau ritual pada tempat tertentu dan waktu yang terbatas. Tetapi kepada Allah yang benar tersebut, patut dipersembahkan ibadah yang sempurna pula, yaitu segenap hidup kita. Pengertian ini membedakan orang percaya dengan berbagai agama di dunia yang menekankan ritual atau seremonial. Tetapi inilah faktanya, banyak orang Kristen yang telah terjebak dalam kebodohan ini. Jika hal ini berlangsung terus dalam kehidupan mereka, maka banyak di antara mereka yang akan binasa, atau hanya cukup menjadi anggota masyarakat Kerajaan Surga, bukan anggota keluarga Kerajaan. Ini berarti karya keselamatan Allah dalam Yesus Kristus tidak mencapai sasaran.

Dengan penjelasan di atas ini, maka dapat dipahami bahwa rumah ibadah adalah tempat di mana seseorang menggunakan potensi jasmani dan rohaninya untuk kepentingan pekerjaan Tuhan. Rumah ibadah bagi orang percaya pada umumnya adalah tempat bekerja, kantor, pabrik, toko, sawah, rumah sakit, sekolah atau kampus, rumah tinggal dan lain sebagainya. Jika menyadari hal ini, maka orang percaya akan berusaha untuk memaksimalkan potensi, tidak malas tetapi semakin ahli di bidang yang digelutinya. Setiap hari dapat melakukan pekerjaan dengan sukacita dan bersemangat dengan landasan berpikir, mereka sedang melayani Tuhan.

Meningkatkan profesionalisme atau keahlian di bidang yang digeluti merupakan ibadah yang berkenan kepada Allah. Dengan demikian bisa diperoleh sebuah kebenaran: Orang yang semakin ahli di bidangnya belum tentu mengasihi Tuhan, tetapi orang yang mengasihi Tuhan pasti semakin ahli di bidangnya. Bagaimana seseorang dapat menunjukkan atau membuktikan dirinya mengasihi Tuhan? Tentu ketika ia berjuang untuk semakin profesional atau ahli di bidangnya, di mana dalam pencapaian tersebut nama Tuhan dipermuliakan, dan semua itu hanya untuk kepentingan Tuhan. Oleh sebab itu orang malas adalah penyangkalan kemanusiaan. Orang malas tidak mungkin berkenan kepada Tuhan.

Dengan kesadaran bahwa ibadah yang sejati adalah menggunakan semua potensi jasmani dan rohani, maka orang percaya harus berusaha menghilangkan segala unsur yang bertentangan dengan kehendak Allah dalam pekerjaan atau profesi yang disandangnya. Dengan demikian terang Firman Tuhan menerangi seluruh kehidupan orang percaya dalam segala bidang yang digelutinya. Dalam hal ini, sesungguhnya penerapan hidup dalam kebenaran dan kesucian, bukan hanya di gereja atau juga di tempat di mana kita memiliki banyak waktu dan pergumulan. Tentu saja tempat itu adalah di tempat di mana seseorang melakukan kegiatan setiap hari.

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.