09.PUJIAN BAGI PELAKU TAURAT

Walaupun bangsa Israel memiliki Taurat, tetapi jika mereka melanggarnya maka mereka tidak luput dari hukuman Allah. Fakta yang tidak dapat dibantah dari sejarah bangsa Israel, bahwa justru merekalah yang menjadi pelanggar hukum Taurat. Oleh karena mereka melanggar hukum Taurat, maka tidak bisa tidak harus dihukum. Dalam kitab Ulangan 28, Tuhan berbicara mengenai berkat dan kutuk. Jika bangsa Israel melakukan pelanggaran terhadap hukum Taurat, maka mereka terkutuk atau terhukum. Itulah yang membuat nama Allah dihujat di antara bangsa-bangsa lain.

Pelanggaran bangsa Israel itu membawa mereka kepada keadaan yang terhukum. Hukuman itu adalah negeri mereka ditaklukkan musuh dan kota-kota mereka dihancurkan. Hal ini mendatangkan hujatan bangsa lain terhadap mereka (Rm. 2:24). Mereka menjadi tawanan di negeri asing, bahkan tercerai berai ke seluruh dunia serta berbagai hukuman lain. Kata dihujat dalam teks aslinya adalah atimazo (ἀτιμάζω), yang artinya tidak dihormati (dishonor) atau juga memalukan (shamefully). Walaupun mereka memiliki Taurat dan menerima sunat, tetapi mereka melanggar Taurat. Hal ini membuat sunat dan keberadaan mereka sebagai umat pilihan sia-sia (Rm. 2:23-25).

Dari hal di atas ini kita menemukan bahwa Allah adalah Allah yang konsekuen dengan diri-Nya sendiri. Walaupun mereka umat pilihan, tetapi kalau mereka melanggar tatanan yang Tuhan gariskan, maka Tuhan menghukum mereka. Hal ini bisa menjadi olok-olokan bangsa lain, sehingga bangsa lain merendahkan atau tidak menghargai bangsa Israel. Dengan demikian, untuk sementara waktu Elohim Yahweh pun ikut tidak dihormati. Tetapi Elohim Yahweh adalah Pribadi agung yang konsisten dengan integritas yang sempurna. Dia menegakkan Firman-Nya, dan hal ini menjadi pembelajaran untuk bangsa Israel dan semua umat manusia yang membaca Alkitab di sepanjang zaman.

Dari hal di atas ini juga kita dapat memperoleh pelajaran bahwa pemberontakan bangsa Israel bukanlah pemberontakan yang dirancang Tuhan. Kejahatan bangsa itu adalah kejahatan yang digerakkan oleh niat atau diri mereka sendiri. Sebagai akibatnya, kutuk menimpa mereka. Sangatlah tidak mungkin Tuhan yang membuat mereka melanggar Taurat, dan Tuhan juga yang menghukum atau mengutuk mereka. Terkait dengan hal ini Paulus juga mengingatkan kepada orang percaya untuk tidak memberontak kepada Allah, sama seperti bangsa Israel. Dikatakan dalam 1 Korintus 10:11, semuanya ini telah menimpa mereka sebagai contoh dan dituliskan untuk menjadi peringatan bagi kita yang hidup pada waktu, di mana zaman akhir telah tiba.

Selanjutnya, Paulus menulis bahwa sekalipun bangsa-bangsa lain tidak memiliki Taurat dan tidak menerima tanda sunat, tetapi kalau mereka melakukan hukum Taurat, maka mereka menjadi orang yang dapat disebut sebagai “Yahudi sejati” (Rm. 2:27-29). Dalam hal ini nampak petunjuk kuat yang tidak dapat disangkal, bahwa Allah mengasihi semua bangsa. Semua manusia memiliki nilai yang sama. Itulah sebabnya Allah tidak menghendaki seorang pun binasa. Sekaligus dalam pernyataan tersebut ditunjukkan bahwa sunat tidak berarti jika dibanding dengan ketaatan kepada Allah. Hal ini menyingkirkan pemikiran bahwa seremonial (sunat) memiliki nilai sakral.

Pelanggaran terhadap Taurat membuat mereka bukan saja terhukum dan dipermalukan, tetapi membuat identitas mereka sebagai umat pilihan tidak berarti sama sekali. Tanda sunat pun menjadi sia-sia. Hal ini jelas menunjukkan bahwa Taurat juga dihargai oleh Tuhan sendiri. Kalau seseorang tidak berpegang kepada Taurat, maka Tuhan akan memperkarakan hal tersebut dengan serius. Dalam kehidupan orang Kristen ada nuansa di mana Taurat dianggap tidak ada artinya. Tanpa sadar mereka melecehkan Taurat, dengan demikian mereka menciderai Tuhan. Harus diingat bahwa Taurat diberikan oleh Tuhan kepada bangsa Israel dengan mengukir di atas loh batu dengan tangan-Nya sendiri. Inti Taurat adalah mengasihi Tuhan dengan segenap hati, jiwa, akal budi dan kekuatan, serta mengasihi sesama seperti diri sendiri.

Mereka yang melakukan hukum Taurat, walaupun bukan umat pilihan (bukan orang Yahudi maupun bukan orang Kristen), memperoleh pujian dari Allah (Rm. 2:29). Kata pujian dalam teks aslinya adalah epainos (ἔπαινος), yang artinya selain pujian (praise) juga berarti approval (persetujuan). Kata ini sejajar dengan kata diperkenankan. Terkait dengan hal ini kita dapat menghubungkan dengan pujian terhadap domba-domba yang berbuat baik bagi sesamanya sehingga mendapat pujian dari Tuhan (Mat. 25:31-46). Pujian ini tidak terkait dengan iman seperti yang dikenal di dalam Injil, tetapi perbuatan baik kepada sesama. Terkait dengan hal ini perlu ditambahkan bahwa orang Yunani yang berbuat baik, padahal dianggap orang kafir (non Yahudi), juga memperoleh kemuliaan, kehormatan dan damai sejahtera (Rm. 2:11).

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.