09. PERJUANGAN MENGENAKAN KODRAT ILAHI

Dari pihak manusia, dibangunnya kodrat Ilahi berarti perjuangan melawan dosa atau ketidaktepatan (Yun. hamartia; ἁμαρτία) di dalam dirinya. Ketidaktepatan di sini adalah keadaan dan tindakan manusia yang tidak sesuai dengan keinginan, pikiran dan perasaan Tuhan. Inilah keadaan manusia yang telah jatuh di dalam dosa, yaitu berkeadaan sebagai manusia yang kehilangan kemuliaan Allah.Kehilangan kemuliaan Allah artinya manusia kurang atau tidak mencapai moral kesucian seperti rancangan Allah semula. Manusia memang bisamenjadi manuia yang berbudi pekerti baik, tetapi manusia tidak mampu mencapai keadaan moral yang berstandar Allah sebagai gambarnya.

Dosa dalam konteks umat Perjanjian Baru, bukan hanya sekadar pelanggaran terhadap hukum atau norma umum, tetapi semua tindakan yang tidak sesuai dengan pikiran dan perasaan Elohim Yahweh, Allah Bapa, Allah Anak dan Roh Kudus. Dengan demikian mengenakan kodrat Ilahai artinya bahwa segala perbuatan yang dilakukan seseorang baik yang dipikirkan, diucapkan dan dilakukan selalu sesuai derngan pikiran dan perasaan Allah. Dalam hal ini sebenarnya manusia dirancang tanpa hukum atau peraturan. Manusia bisa bermoral baik standar Tuhan karena memang berkeadaan segambar dan serupa dengan Dia.

Perjuangan untuk mengenakan kodrat Ilahi ini berlatar belakang kenyataan bahwa manusia telah gagal mengerti kehendak Allah, dan melakukan kehendak-Nya dengan sempurna; manusia tidak mampu berpikir, berucap sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah. Harus dimengerti dan diterima bahwa semua orang percaya dipanggil untuk memiliki kualitas hidup sebagai seorang yang berkodrat Ilahi. Inilah perjuangan satu-satunya yang harus dimiliki dan dijalani umat pilihan. Perjuangan ini adalah perjuangan yang berat yang menyita segenap hidup ini. Tetapi perjuangan ini tidaklah diperhitungkan sebagai jasa, seakan-akan keselamatan manusia hasil dari perbuatan baiknya.

Perjuangan adalah respon terhadap anugerah yang Tuhan berikan.

Perjuangan tersebut dimaksudkan agar orang percaya mengambil bagian dalam kekudusan Allah Bapa (Ibr. 12:10) atau yang sama dengan mengambil bagian dalam kodrat Ilahi (2Ptr. 1:3-4).

Kodrat Ilahi yang dapat dikenakan umat pilihan bukan terjadi secara otomatis, tetapi menuntut respon yang aktif. Ini adalah perjuangan melawan kodrat dosa (sinful nature); kodrat yang sudah melekat dalam diri manusia, yang berpotensi hidup dalam ketidaktepatan. Keberhasilan lolos dari kodrat dosa ini membuahkan seseorang mengenakan kodrat Ilahi. Dikemukakan oleh Paulus dalam Filipi 2:12, bahwa orang percaya harus mengerjakan keselamatan dengan takut dan gentar. Mengerjakan keselamatan ini sama dengan perjuangan mengenakan kodrat Ilahi. Dengan takut dan gentar menunjukkan pergumulan untuk dapat mengenakan kodrat Ilahi adalah perjuangan yang berat. Bila dihubungkan dengan Filipi 2:5-7, Tuhan menghendaki agar orang percaya memiliki pikiran dan perasaan Kristus. Memiliki pikiran dan perasaan Kristus, sama dengan mengenakan kodrat Ilahi. Yesus Kristuslah model manusia yang mengenakan kodrat Ilahi.

Ternyata kata “pikiran dan perasaan” dalam Filipi 2:5 dalam teks aslinya bukan kata benda, tetapi bentuk perintah (imperative), yaitu phroneisto (φρονείσθω). Dalam bahasa Yunani kata ini memiliki kasus imperative present passive third person singular dari akar kata phroneo (φρονέω). Kalau diterjemahkan bebas bisa berbunyi: ‘‘Berpikirlah atau bersikaplah seperti Yesus Kristus’’. Dalam salah satu Alkitab terjemahan bahasa Inggris, diterjemahkan sebagai berikut: Have this attitude in yourselves which was also in Christ Jesus.

Kalau Firman Tuhan memerintahkan agar orang percaya berpikir
atau bersikap sesuai dengan kehendak-Nya, maka berarti orang percaya
yang harus menggerakkan atau mengarahkan pikiran
dan menetapkan sikapnya dengan jelas.

Hal ini tidak bisa terjadi atau berlangsung oleh pihak lain, bahkan oleh Tuhan sendiri.

Orang percaya sendiri yang harus menggerakkan dan mengendalikan pikiran. Tidak mengherankan, kalau mereka tidak memiliki ketegangan dalam perjuangan melakukan kehendak Allah, yaitu memiliki pikiran dan perasaan Kristus. Orang yang diselamatkan adalah orang yang berproses memiliki pikiran dan perasaan Kristus. Dalam hal ini, Tuhan tidak akan berintervensi.Sebab pikiran seseorang merupakan pusat kemudi kehidupan setiap individu yang adalah hak dan wewenang masing-masing individu.

Dalam hal tersebut, jelas sekali bahwa Tuhan hanya bisa mengarahkan pikiran seseorang, tetapi tidak akan mengambil alih kemudi hidup atau pikirannya. Iblis pun juga tidak bisa mengambil alih kemudi, tetapi ia bisa mempengaruhi sehingga seseorang mengarahkan kemudi hidupnya kepada arah tertentu. Tentu saja Iblis mengarahkan seseorang kepada kerajaan kegelapan melalui keindahan dunia. Hendaknya orang percaya tidak menuduh Tuhan sengaja menyerahkan kemudi hidup orang-orang tertentu kepada Iblis agar diarahkan ke neraka, sementara Tuhan mengambil alih kemudi hidup orang-orang tertentu untuk diarahkan ke surga. Tuhan tidak menghendaki seorang pun binasa, tetapi Ia tidak bisa menyelamatkan mereka yang tidak bersedia diselamatkan (2Ptr. 3:9). Hal ini bisa terjadi sebab Tuhan tidak mengambil alih kemudi hidup seseorang, yaitu mereka yang mengarahkan pikiran dan hatinya kepada arah yang berbeda dari arahan Tuhan.

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.