09. PERJUANGAN DALAM TUNTUNAN

Seperti yang telah dikemukakan di atas, bahwa untuk mengerti apa yang dikehendaki oleh Tuhan untuk ditaati sebagai isi percayanya, seseorang harus belajar atau menerima tuntunan. Pelayanan kerasulan Paulus menuntun mereka (bangsa-bangsa, juga jemaat Roma) untuk mengerti apa yang Tuhan kehendaki untuk dilakukan sebagai isi percayanya. Ini menunjukkan bahwa untuk memiliki iman dalam nama Tuhan Yesus Kristus tidak sederhana. Terkait dengan hal ini, perlu dijelaskan bahwa seseorang bisa percaya dengan benar kepada Tuhan Yesus haruslah mengerti apa yang diajarkan oleh Tuhan Yesus.

Mereka yang sebelumnya tidak percaya, harus dituntun untuk mengerti Injil. Karena Injil adalah kuasa Allah yang menyelamatkan (Rm. 1:16-17). Itulah sebabnya Tuhan Yesus memberi mandat agar orang percaya memuridkan, artinya mengajarkan segala sesuatu yang diajarkan oleh Tuhan Yesus. Mengajarkan segala sesuatu yang diajarkan oleh Tuhan Yesus membutuhkan waktu dan kerja keras. Di pihak lain, seseorang yang mau mengerti Firman Tuhan harus melepaskan dirinya dari percintaan dunia agar tidak terikat dengan mamon atau kekayaan dunia (Luk. 16:11). Dalam hal ini dibutuhkan tindakan konkret untuk meninggalkan percintaan dunia.

Kalau Injil diberitakan kepada bangsa yang masih primitif, maka mereka harus diajar membaca terlebih dahulu. Kebiasaan dan cara hidup mereka yang jauh dari etika kehidupan manusia yang sudah maju, harus diubah melalui tahapan-tahapan yang ketat dan sulit. Hal ini tergantung keadaan suku-suku tersebut. Hal paralel terjadi, yaitu kalau Injil disampaikan kepada orang-orang yang berkebiasaan berbuat jahat seperti penjahat, perampok, pecandu narkoba, pekerja seks komersial dan lain sebagainya. Dibutuhkan kerja keras untuk menuntun mereka menjadi manusia yang beretika. Menuntun mereka menjadi manusia yang beretika saja sulit, apalagi menjadikan mereka seorang yang sempurna seperti Bapa atau serupa dengan Yesus (Mat. 5:48; Rm. 8:28-29).

Hal yang sama terhadap mereka yang kelihatan beradab, memiliki kehidupan yang santun dan terpandang sebagai anggota masyarakat baik, tetapi sebenarnya mereka terikat dengan harta kekayaan dan haus menjadi orang yang dihormati lingkungannya. Menuntun orang-orang seperti ini juga tidak mudah. Bahkan kadang-kadang jauh lebih sulit. Apalagi kalau mereka sudah menjadi orang kaya, terhormat dan berkedudukan tinggi. Mereka sudah merasa diri mereka baik. Tidak sedikit mereka yang merasa tidak lagi membutuhkan tuntunan. Mata hati mereka tertutup terhadap kebenaran Injil yang murni yang diajarkan oleh Tuhan Yesus. Sangat sulit bagi mereka mengikuti jejak Tuhan Yesus yang rela mengosongkan diri atau melepaskan semua hak. Pada dasarnya, sebagian besar dari mereka “tidak rela kehilangan nyawa” seperti yang diajarkan oleh Tuhan Yesus. Itulah sebabnya Tuhan Yesus mengatakan bahwa orang kaya sukar masuk Kerajaan Surga.

Dari pengertian terhadap isi Injil (pengajaran Tuhan Yesus) seseorang dapat memiliki “kecerdasan roh” untuk mengerti kehendak Allah, apa yang baik, yang berkenan dan yang sempurna. Sehingga akhirnya seseorang dapat memenuhi yang dikatakan oleh Tuhan Yesus menjadi sempurna seperti Bapa atau serupa dengan Tuhan Yesus. Inilah yang dimaksud Paulus dalam Roma 1:5, supaya mereka percaya dan taat kepada nama-Nya. Ketaatan yang dimaksudkan oleh Paulus tentu adalah ketaatan Tuhan Yesus yang adalah prototipe atau model hidup satu-satunya orang percaya yang harus dikenakan. Sesungguhnya inilah tujuan Injil diberitakan. Untuk hal ini Paulus berani berkata: Ikutilah teladanku.

Jadi, sangatlah keliru kalau ada ajaran yang mengatakan bahwa seseorang yang sudah percaya kepada Tuhan tidak perlu “berjuang” untuk melakukan kehendak Allah. Mereka mengajarkan bahwa keselamatan dalam Yesus Kristus cukup diyakini dalam pikiran, yang mana hal itu sudah berarti bahwa mereka sudah percaya bahwa Yesus Kristus adalah Juruselamat yang telah memikul dosa manusia. Percaya seperti ini dipandang sudah mengandung kuasa atau kekuatan dari anugerah Allah, yang membuat seseorang memperoleh keselamatan. Dengan keyakinan tersebut, maka otomatis dosa tidak berkuasa lagi atas hidup seseorang. Mereka merasa yakin mengalami perubahan (tentu secara ajaib). Padahal mereka belum memahami pengertian kata “percaya” itu sendiri. Ini adalah ajaran yang menyesatkan. Waktu akan membuktikan kesesatannya. Mestinya sebelum tersesat, kita harus mengambil langkah untuk berjuang mengerjakan keselamatan dengan takut dan gentar, artinya berusaha untuk menjadi serupa dengan Tuhan Yesus.

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.