09. PENGERTIAN YANG SULUNG

Dalam Roma 8:29 terdapat kalimat “menjadi yang sulung di antara banyak saudara.” Kata “sulung” dalam teks aslinya adalah prototokon (πρωτότοκον), dari kata prototokos (πρωτότοκος) yang artinya firstborn, existing before, as the oldest son in a family (lahir pertama, sudah ada sebelumnya, sebagai yang tertua atau anak laki-laki paling besar dalam keluarga). Kalimat “menjadi sulung di antara banyak saudara” artinya Yesus telah memulai, yang berimplikasi kepada semua orang yang percaya kepada-Nya, harus juga mengikuti jejak-Nya. Orang percaya harus memiliki pikiran dan perasaan Kristus. Semua orang yang berkesempatan mendengar Injil yang benar dan memiliki potensi untuk merespon berita keselamatan tersebut untuk mencapai standar kehidupan seperti yang dicapai oleh Yesus. Orang percaya ditentukan untuk memiliki standar serupa (demuth)dengan Yesus atau sempurna seperti Bapa. Standar ini tidak boleh diturunkan.

Harus dipahami bahwa memang sejak semula, Allah menghendaki manusia berkeadaan seperti Putra Tunggal-Nya yang kudus. Bisa dimengerti kalau sejak penciptaan memang Putra Tunggal-Nya adalah yang sulung. Tentu saja kesulungan Yesus bukan karena sebuah “kecelakaan,” yaitu karena manusia jatuh dalam dosa, kemudian Anak Tunggal Bapa harus menyelamatkannya. Sehingga Anak Tunggal Bapa harus menjadi manusia dengan mengosongkan Diri menjadi manusia. Dalam segala hal Ia disamakan dengan manusia (Ibr. 2:17), tetapi karenamemang sejak semula Allah Bapa menempatkan Anak Tunggal-Nya sebagai yang sulung.

Dalam Kolose 1:15 Alkitab menulis: “Ia adalah gambar Allah yang tidak kelihatan, yang sulung, lebih utama dari segala yang diciptakan.” Yesus adalah gambar Allah yang tidak kelihatan. Hal ini menunjukkan bahwa Adam diciptakan menurut gambar Anak Tunggal secara fisik. Dikatakan bahwa Anak Tunggal Bapa adalah yang sulung. Kata “sulung” dalam teks aslinya di ayat ini juga menggunakan kata prototokos (πρωτότοκος), seperti yang terdapat dalam Roma 8:29. Dikatakan bahwa Yesus lebih utama dari segalayang diciptakan. “Lebih utama” artinya bahwa Yesus lebih berharga dan lebih penting dari semua yang diciptakan oleh Bapa (Ho Theos) dan Tuhan Yesus (Ho Logos) seperti yang tertulis di dalam Yohanes 1:1-3. Ini bukan berarti Yesus bagian dari ciptaan. Anak Tunggal Bapa bukan bagian dari ciptaan, tetapi salah satu Pribadi dalam Elohim Yahweh yang menciptakan.

Dalam pembahasan ini ada dua kata penting yang harus mendapat tekanan. Pertama, adalah kata “yang sulung”. Yesus menjadi “yang sulung” artinya bahwa Dia sudah memulai, dan berhasil. Dalam Ibrani 5:7-9 tertulis: “Dalam hidup-Nya sebagai manusia, Ia telah mempersembahkan doa dan permohonan dengan ratap tangis dan keluhan kepada Dia, yang sanggup menyelamatkan-Nya dari maut, dan karena kesalehan-Nya Ia telah didengarkan. Dan sekalipun Ia adalah Anak, Ia telah belajar menjadi taat dari apa yang telah diderita-Nya, dan sesudah Ia mencapai kesempurnaan-Nya, Ia menjadi pokok keselamatan yang abadi bagi semua orang yang taat kepada-Nya.” Dia menjadi pokok keselamatan dalam teks aslinya aitios (αἴτιος), bisa berarti author, source, of being the cause of something responsible (penulis atau penggubah, sumber, menjadi penyebab sesuatu yang bertanggung jawab). Aitios bisa juga berarti a person who originated or gave existence to anything (seseorang yang menciptakan sesuatu). Kata aitios juga bisa berarti penggubah (composer).

Dengan Yesus menjadi pokok keselamatan, mau tidak mau menempatkan orang percaya untuk harus digubah atau diubah. Untuk itu orang percaya harus mau taat kepada-Nya. Panggilan untuk taat menunjukkan syarat yang harus dipenuhi untuk mengalami dan memiliki keselamatan. Yesus telah memulai, orang yang mengaku percaya kepada-Nya harus mengikuti jejak-Nya, yaitu hidup seperti Dia hidup sebagai standarnya. Dalam hal ini orang percaya dipanggil untuk tidak serupa dengan dunia ini, tetapi harus serupa dengan Yesus.

Kata penting yang kedua dalam Roma 8:29 adalah “di antara saudara”. Yang dimaksud “banyak saudara” di sini adalah orang percaya. Betapa hebat status orang percaya dalam bingkai keselamatan, karena orang percaya disebut sebagai saudara bagi Yesus. Dengan status dan sebutan ini, secara tidak langsung dikemukakan bahwa sejak semula memang Adam adalah anak Allah dan diharapkan semua manusia menjadi anak-anak Allah yang memiliki kodrat Ilahi atau mengenakan kekudusan Allah (1Ptr. 1:3-4; Ibr. 12:9-10). Dengan hal ini, maka orang percaya dipanggil untuk hidup tidak bercacat dan tidak bercela atau memiliki kekudusan seperti Bapa dan Tuhan Yesus (1Ptr. 1:16). Untuk mencapai standar kehidupan ini bukanlah suatu hal yang mudah, dibutuhkan kesungguhan untuk bergumul. Itulah sebabnya ketika Yesus ditanya mengenai apakah sedikit saja orang yang diselamatkan, Yesus menjawab agar berjuang memasuki jalan yang sempit (Luk. 13:23-24). Perjuangan ini mengajarkan keselamatan (Flp. 2:12).

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.