09. MENUNDUKKAN DIRI KEPADA ALLAH

Paulus, seperti kebanyakan orang saleh lainnya, ia merindukan hidup dalam kesucian standar Allah dan ingin selalu menyenangkan hati Allah. Itulah sebabnya ia ingin segera menanggalkan tubuh yang membelenggu dirinya, sebab belenggu itu bukan hanya membuat dirinya tidak nyaman, tetapi Allah pun juga bisa dibuat tidak nyaman karena kesalahan-kesalahan yang bisa terjadi selama mengenakan tubuh ini. Paulus menyebut tubuhnya adalah tubuh maut, artinya tubuh yang bisa mati. Seakan-akan Paulus hendak mengatakan, jangan karena tubuh yang akan mati ini, dirinya dibawa ke neraka kekal. Itulah sebabnya ia berkata bahwa lebih baik kalau ia menanggalkan tubuh fananya dan menetap dengan Tuhan, sebab ia merasa tertekan dengan tubuh fana yang dikenakannya. Kalau ia menetap dengan Tuhan, maka tidak ada tekanan lagi, atau bisa juga berarti supaya tidak tergoda berbuat kesalahan lagi (2Kor. 5:2-4).

Kata “celaka” dalam Roma 7:24 dari teks aslinya adalah talaiporos (Ταλαίπωρος), yang berarti miserable, wretched (sengsara, celaka).Kata talaiporos juga berarti bekerja keras.Paulus menyatakan bahwa ia mengalami suatu tekanan. Ia tidak menganggap hal itu sepele atau hal bisa. Sebab hal ini menyangkut keberkenanannya di hadapan Tuhan.Itulah sebabnya ia berusaha, baik diam di dalam tubuh maupun diam di luarnya, supaya dirinya berkenan kepada Tuhan. Dari pernyataan Paulus ini, walaupun berat dalam tekanan, tetapi ia tidak berhenti berusaha. Bahkan sekalipun ia sudah keluar dari tubuhnya, ia akan terus berusaha untuk tetap berkenan di hadapan Tuhan. Jadi, dasarnya berkenan bukan karena terpaksa. Sekalipun ia ada di luar tubuhnya, artinya tidak ada tekanan lagi seperti ketika mengenakan tubuh fana, ia tetap berusaha untuk berkenan kepada Allah.

Dari ketertekanan, kemudian Paulus bersyukur kepada Allah oleh Yesus Kristus (Rm.7:25). Apa maksudnya ini? Apa yang disyukuri? Tentu ayat berikutnya yang menjadi dasar atau alasan Paulus bersyukur: Jadi dengan akal budiku aku melayani hukum Allah, tetapi dengan tubuh insaniku aku melayani hukum dosa (Rm. 7:26). Kalau dibaca sekilas, ayat ini mengesankan bahwa Paulus hidup dalam dua area, yaitu area akal budi untuk melayani hukum Allah dan di area lain melayani hukum dosa. Ini mengesankan keadaan Paulus malah bertambah buruk. Untuk ini kita harus membedah ayat ini dengan sangat hati-hati, teliti, dan cerdas, agar kita menemukan maksud Paulus menulis kalimat ini sebagai kesaksian hidupnya.

Kata “melayani” dalam teks aslinya adalah douleuoo(δουλεύω) yang artinya diperbudak atau dibelenggu atau diperhamba. Kata “akal budi” terjemahan aslinya adalah nous atau pikiran. Paulus berusaha untuk mengikat atau membelenggu atau memperbudak pikirannya dengan hukum kesucian Allah (seperti yang dijelaskan di atas), sementara itu ia juga sadar, bahwa ia masih ada dalam daging, yang memiliki godaan melawan kehendak Allah. Dalam teks bahasa aslinya kata “memperbudak” ditujukan kepada pikirannya untuk tunduk kepada kesucian Allah. Oleh karenanya hanya ada satu kata douleuoo di kalimat predikatnya ara oun autos ego to men noi douleuo nomo theou te desarke nomo hamartias(Αρα οὖν αὐτὸς ἐγὼ τῷ μὲν νοῒ δουλεύω νόμῳ θεοῦ τῇ δὲ σαρκὶ νόμῳἁμαρτίας).

Paulus menundukkan pikirannya kepada hukum Allah (hukum kesucian Allah), tetapi tidak dikatakan bahwa Paulus sengaja memperbudak diri kepada hukum dosa atau mengikatkan diri kepada kodrat dosa di dalam dirinya. Supaya tidak salah mengerti, ayat inimestinya diterjemahkan: Pikiranku kutundukkan kepada hukum kesucian atau kehendak Allah, sementara akau masih tinggal dalam tubuh yang ada dalam kodrat dosa. Dalam logika sederhana saja sangat jelas, bahwa sangatlah tidak mungkin Paulus yang menasihati berulang-ulang untuk hidup dalam pimpinan Roh, tapi dirinya sendiri tunduk kepada hukum dosa.

Dari tulisan Paulus ini didapati pelajaran mahal, bahwa Allah tidak mencabut dengan mudah kodrat dosa di dalam diri kita. Allah masih membiarkannya ada di dalam tubuh kita. Kita sendiri yang harus mengalahkan. Hal ini bisa terjadi kalau kita menundukkan pikiran kita kepada kehendak Allah. Itulah sebabnya dalam Roma 12:2, Paulus menasihati orang percaya untuk selalu melakukan pembaharuan pikiran. Terkait dengan hal ini, dalam 2 Korintus 10:4 Paulus menyatakan: karena senjata kami dalam perjuangan bukanlah senjata duniawi, melainkan senjata yang diperlengkapi dengan kuasa Allah, yang sanggup untuk meruntuhkan benteng-benteng. Kuasa yang dimaksud adalah kebenaran Firman, sedangkan benteng-benteng adalah pikiran yang bukan berasal dari Allah.

Kemenangan orang percaya diawali dari usahanya untuk terus menerus memperbaharui pikiran dengan kebenaran Firman Tuhan. Tuhan Yesuspun menyatakan bahwa kebenaranlah yang memerdekakan (Yoh. 8:31-32). Orang percaya dipanggil untuk berjuang menaklukkan dirinya dan mempersembahkannya kepada Tuhan. Paulus beryukur kepada Tuhan Yesus, sebab oleh fasilitas keselamatan yang disediakan, ia mampu mencapai kesucian Allah dengan menaklukkan diri kepada Tuhan, untuk melakukan kehendak Bapa yang diwakili Roh Kudus. Itulah yang dimaksud dengan kemenangan yang sejati. Seperti Tuhan Yesus sudah menang, maka kita juga bisa menang.

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.