09. MASIH PERLUKAH PERPULUHAN?

Penjelasan pada bab-bab sebelumnya kalau dipahami keliru bisa memicu pemikiran bahwa orang percaya tidak perlu lagi memberi persembahan perpuluhan atau persembahan lain sama sekali. Ini sebuah pemikiran yang salah dan membahayakan bagi kelangsungan pelayanan gereja. Penjelasan pada bab-bab sebelumnya bukan bermaksud mengarahkan atau mengajarkan untuk tidak memberi perpuluhan atau persembahan yang lain. Bila Alkitab menyebut angka perpuluhan, angka ini dapat digunakan untuk kebutuhan pelayanan gereja yang memang sangat membutuhkan dukungan finansial. Tentu saja pelayanan pekerjaan Tuhan dalam gereja dapat berjalan atau berlangsung hanya oleh kemurahan Tuhan semata-mata, tetapi dalam kenyataan pengoperasian pelaksanaan kegiatan gereja, tanpa uang,maka aktivitas pelayanan gereja tidak dapat berjalan dengan baik, bahkan bisatidak dapat berjalan sama sekali.

Harus ditegaskan supaya dimengerti, bahwa tanggung jawab kelangsungan pelayanan pekerjaan Tuhan-baik pelayanan ke dalam gereja (biaya penyelenggaraan kebaktian gereja, pengelolaan gedung dan pemeliharaan serta perbaikannya, pembangunan gedung baru serta sarananya, kehidupan para pendeta, pengerja fulltimer gereja dan lain sebagainya),maupun pelayanan ke luar (misi, sosial dan lain sebagainya)- bukan terletak hanya pada pendeta dan aktivisberserta dengan majelis gereja saja, tetapi semua jemaat yang memiliki keanggotaan di dalam gereja tersebut. Harus diingat bahwa gereja-gereja di Indonesia tidak mendapat bantuan secara rutin dari pemerintah atau pihak manapun. Oleh sebab itu, setiap anggota jemaat harus bertanggung jawab untuk memikul beban pembiayaan pelayanan gereja tersebut.

Kalau sebuah gereja memiliki Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga -dimana masing-masing gereja lokal mempersembahkan perpuluhankepada sinode, dan jemaat diajar untuk mempersembahkan perpuluhan-, maka anggota jemaat yang mampu memberi perpuluhanyang memiliki keanggotaan di gereja tersebut,seharusnya merasa wajib secara konsekuen memenuhinya.Jika tidak bersedia, berarti tidak konsekuen. Orang seperti ini, kalau fair, mestinya pindah gereja lain dimana tidak ada pengaturan organisasi mengenai perpuluhan. Bagaimana mereka bisa menikmati berkat Firman dan pelayanan pastoral lainnya di suatu gereja, tetapi tidak mengambil bagian dalam beban keuangan yang harus dipikul bersama di gereja tersebut?Ada juga gereja-gereja yang mengatur pemasukan uang untuk gereja melalui iuran wajib (biasanya gereja Protestan), maka setiap orang yang memiliki keanggotaan gereja tersebut wajib memenuhinya.

Namun demikian, bukan berarti dalam hal ini perpuluhan menjadi Taurat atau hukum. Gereja harus memahami perpuluhan dalam fleksibilitas yang logis, sehingga perpuluhan memiliki dinamisitas yang bisa seirama dengan keadaan masing-masing anggota yang memiliki keadaan khusus. Kalau jemaat bermasalah dalam keuangan, hendaknya gereja tidak memaksa jemaat untuk memberi perpuluhan atau persembahan lain. Malah sebaliknya, gerejayang harus menopang kehidupan mereka.

Jadi tidak keliru, atau seharusnya,setiap orang percaya menyisihkan sepersepuluh hasil rutin setiap bulan atau setiap tahun untuk pekerjaan Tuhan dengan dasar atau landasan berpikir yang benar. Namun hendaknya setelah memberikan perpuluhan bagi Tuhan melalui gereja, jemaat tidak berpikir bahwa yang lain atau yang sembilan puluh persen adalah miliknya sendiri. Angka persentase sepersepuluh bukanlah angka mati dan kaku. Di sini harus dibuka kemungkinan fleksibilitas demi dinamisitasnya.

Penjelasan perpuluhan yang tidak dipahami dengan benar, menjadi pembenaran bagi orang-orang Kristen yang pelituntuk tidak memberi perpuluhan. Mereka merasa merdeka atau bebas dari “hukum perpuluhan” yang dirasakan sangat menekan dan menindas kehidupan ekonomi mereka. Orang-orang seperti ini pada dasarnya adalah pemberontak-pemberontak di hadapan Allah. Mereka mampu memberikan persembahan perpuluhan, tetapi mereka tidak melakukannya. Dalam hal ini -pengertian yang benar mengenai perpuluhanyang semestinya membangun sikap yang benar di hadapan Tuhan-hendaknya tidak menjadi alasan pembenaran untuk merampok milik Tuhan yang seharusnya dipersembahkan semuanya bagi kemuliaan-Nya.

Patut direnungkan, kalau demi pajak saja yang jumlah persentasenya bisalebih besar, banyak orang rela bersikap jujur membayarserta mematuhinya secara patut, mengapa mengembalikan milik Tuhan dalam persembahan perpuluhan tidak?Kita harus ada dalam satu kesadaran bahwa kita adalah kasir Tuhan yang dipercayai Tuhan mengelola milik-Nya. Jadi kita harus bersedia menyerahkan apapun dan berapapun yang Tuhan kehendaki untuk dikembalikan bagi pemilik-Nya. Jumlah sepuluh persen seharusnya dipandang sebagai jumlah yang sangat kecil. Jadi, kalau perpuluhan saja seorang Kristen tidak memberi atau mengembalikan bagi pekerjaan Tuhan, bagaimana dengan memberi segenap hidup?

Bila gereja menjadi dewasa, seharusnya gereja bisa mulai mengajarkan persembahan segenap hidup tanpa batas bagi Tuhan. Gereja tidak lagi mematok jumlah persentase. Persembahan segenap hidup tanpa perhitungan persentase adalah sangat ideal, sesuai dengan kebenaran Firman Tuhan bagi umat Perjanjian Baru. Namun hal ini tidak boleh atau tidak dapat dipaksakan. Masing-masing individu dan komunitas dalam gereja memiliki perjalanan kedewasaan rohani yang berbeda-beda. Dalam hal ini, kita harus bijaksana. Dimana kita bergereja sebagai individuatau bersinode sebagai bagian dari sebuah denominasi, kita harus belajar untuk mengerti dan “mengalir”, sebagai sikap submission kepada organisasi.

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.