9. KEHIDUPAN STANDAR ANAK-ANAK ALLAH

Orang yang hidup beriman dalam Tuhan Yesus ditandai dengan tidak lagi memiliki cita-cita untuk meraih sesuatu, kecuali sesuatu itu berguna bagi Tuhan. Segala sesuatu yang orang percaya ingini haruslah bukan bagi kepentingan sendiri, apa lagi untuk sebuah prestis, harga diri, gengsi, kehormatan atau nilai diri dan kesenangan diri sendiri. Tidak dapat disangkal, selama ini orang meraih cita-cita hanya untuk menempatkan dirinya berharga di mata manusia atau paling tidak agar ia dapat memiliki kehidupan yang layak seperti manusia lain. Ini adalah kesalahan semua orang, termasuk banyak orang Kristen. Seharusnya segala sesuatu yang kita ingini adalah semua yang berguna untuk kepentingan Tuhan.

Orang yang telah ditebus oleh darah Yesus harus menyadari dan menerima bahwa yang berhak memiliki visi atau cita-cita dalam hidupnya hanyalah Tuhan, bukan dirinya. Sebab dirinya telah ditebus dengan harga lunas dibayar. Dirinya sudah menjadi milik Tuhan sepenuhnya. Hanya Tuhan yang berhak atas dirinya. Tubuh, jiwa dan rohnya harus menjadi wadah Tuhan atau bejana-Nya untuk melakukan kehendak Tuhan semata-mata. Dengan kesadaran ini, kita akan merelakan jika Tuhan menguasai kehidupan kita, atau kita menyerahkan seluruh kedaulatan hidup kita kepada Tuhan untuk memenuhi kehendak dan rencana-Nya.

Oleh sebab itu anak Tuhan yang mengerti kebenaran mengenai penebusan ini -bahwa dirinya bukan miliknya sendiri- tidak akan berhak memiliki visi atau cita-cita apa pun. Orang yang mengerti kebenaran ini tidak mudah mengatakan: “aku mempunyai visi”. Hanya Tuhan yang berhak memiliki visi. Hidup kita hanya untuk melakukan kehendak Allah dan menyelesaikan pekerjaan-Nya, bukan cita-cita kita sendiri. Memang logikanya dan fair-nya, kalau kita telah dimiliki Tuhan, maka kita tidak berhak memancangkan cita-cita. Inilah kehidupan yang diatur atau dikendalikan oleh Tuhan. Kehidupan seperti ini telah dialami oleh rasul Paulus sebagai “tawanan Roh” (Kis. 20:22). Dalam suratnya Paulus menulis: Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah (1Kor. 10:31).

Menjadi tawanan roh atau hidup dalam kendali Tuhan bukan berarti kita kehilangan kesadaran. Sejatinya kitalah yang masih mengendalikan hidup kita, tetapi kita tidak mengendalikan hidup kita sesuai dengan kesenangan kita sendiri, tetapi kita memperhatikan kehendak atau keinginan Tuhan dan mengarahkan hidup hanya untuk kehendak dan keinginan Tuhan semata-mata. Sebenarnya Tuhan tidak pernah mengambil kemudi hidup kita. Kalau Tuhan mengambil alih kemudi hidup kita, Tuhan melanggar tatanan-Nya sendiri. Tuhan tidak pernah mengambil alih kedaulatan manusia. Manusia harus berdaulat atas hidupnya sendiri. Masalahnya kemudian, apakah ia menyerahkan hidupnya untuk melakukan kehendaknya sendiri atau kehendak Tuhan, tergantung pilihan dan keputusannya.

Paulus adalah seorang pengikut Kristus yang sejati, yang dapat menjadi role model kehidupan orang percaya. Dari sepak terjang hidup dan pelayanannya, kita dapat meneladani hal-hal yang indah. Oleh sebab itu, hendaknya kita tidak menganggap Paulus sebagai anak Allah super yang memiliki ukuran iman dan kesusilaan khusus. Tetapi sebenarnya Paulus adalah model anak Allah yang normal atau standar anak Allah yang dikehendaki Bapa untuk dimiliki setiap orang percaya. Setiap kali kita membaca tulisannya Paulus dalam surat-surat pastoral yang ditulis kepada jemaat-jemaat, kita dapat merasakan irama dan getar kehidupannya yang agung yang dapat menjadi pola hidup Kekristenan kita.

Kehidupan Paulus adalah kehidupan yang ditundukkan kepada kehendak dan rencana Tuhan. Seperti dalam pernyataan yang ditulis tabib Lukas di Kisah Rasul 18:21: Aku akan kembali kepadamu, jika Allah menghendaki-Nya. Peristiwa ini terjadi pada perjalanan penginjilan Paulus yang kedua. Ia menolak tetap tinggal di kota itu, sekalipun dimohon untuk tetap tinggal di sana (Kis. 18:18-23). Paulus meninggalkan Priskila dan Akwila di sana dan berkata: “Aku akan kembali kepadamu, jika Allah menghendaki”, kalimat ini menunjukkan sikap Paulus terhadap Tuhan yang dilayaninya. Ia tidak akan bertindak jika Tuhan tidak memerintahkannya. Ini adalah kehidupan yang menyerah kepada pengaturan Allah. Paulus tidak mengatur dirinya sendiri, tetapi mengijinkan Allah mengatur dirinya.

Kehidupan Paulus menunjukkan kedewasaan rohani seseorang yang sudah ada dalam tawanan roh, artinya segala sesuatu yang dilakukan selalu sesuai dengan keinginan dan kehendak Allah. Kehidupan seperti ini digambarkan oleh Tuhan Yesus sebagai langkah Petrus tua yang memuliakan Tuhan oleh kesediaannya hidup dalam pengaturan kehendak Tuhan (Yoh. 21:18-19). Kehidupan ini adalah kehidupan beriman yang benar.

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.