08. MEWARISI KERAJAAN BERSAMA TUHAN YESUS

Ketika hati seseorang tertarik kepada sesuatu yang membuatnya tidak memedulikan perasaan Tuhan, sesungguhnya dirinya memiliki allah lain di hadapan Tuhan. Orang tersebut menyakiti hati Tuhan, seperti yang telah dilakukan banyak orang Kristen yang tidak setia. Kalau orang tersebut tidak bertobat, maka suatu saat dengan sedih Tuhan akan menghukum dan mencampakkan mereka ke dalam kegelapan, terpisah dari hadirat-Nya selamanya. Kalau malaikat-malaikat yang memberontak kepada Allah saja tidak disayangkan, mereka dicampakkan dari hadapan Tuhan, maka orang-orang yang tidak setia juga akan diperlakukan sama.

Banyak orang Kristen mengikatkan hatinya kepada banyak hal yang dijadikan berhala, tetapi mereka merasa hal itu sebagai kewajaran, karena semua orang juga melakukan hal tersebut. Mereka merasa berhak memiliki kesukaan tanpa mempersoalkan apakah Tuhan menyukai hal tersebut atau tidak. Dengan cara hidup seperti itu, mereka telah menjadi sama dengan dunia. Mereka tidak layak menjadi anak Allah.

Tuhan sedih, tidak sedikit orang-orang Kristen berpikir bahwa keberadaan Tuhan hanya untuk mereka, bukan sebaliknya. Hal ini diajarkan oleh orang-orang yang mengaku sebagai hamba Tuhan Yesus, padahal Tuhan Yesus tidak mengajarkan demikian. Sesungguhnya, keberadaan manusia semua diciptakan oleh Allah, untuk keagungan Allah. Harus diingatkan, bahwa segala sesuatu dari Allah, oleh Allah dan bagi Dia. Jika seseorang tidak bisa menerima kodratnya sebagai ciptaan untuk hidup bagi Allah Penciptanya, maka itu merupakan malapetaka paling besar.

Banyak orang Kristen tidak menyadari betapa istimewa penunjukkan atas diri mereka sebagai umat pilihan. Tuhan memberikan Roh-Nya agar orang percaya belajar bagaimana menempatkan diri sebagai anak-anak Allah yang menghormati Bapa secara pantas, agar suatu hari mereka dilayakkan masuk rumah Bapa, menjadi bagian dari anggota keluarga Kerajaan Allah. Tidak semua orang memiliki kesempatan luar biasa seperti ini. Orang percaya harus menghargai anugerah yang diberikan ini.

Kalau orang percaya mengerti betapa mulia penunjukan diri mereka sebagai umat pilihan, maka keindahan dunia ini menjadi tidak ada artinya sama sekali. Mereka akan rela meninggalkan dunia dengan segala kesenangannya. Ini berarti mereka seharusnya tidak lagi memiliki ketertarikan atas apa pun di dunia ini. Jiwa mereka hanya dapat disegarkan oleh Firman dan kehadiran Tuhan.

Mengalami perubahan jiwa yang sudah tercemar, sesungguhnya bukan sesuatu mudah. Tidak sedikit orang Kristen yang putus asa dalam pergumulan menjadi anak-anak Allah yang benar, sehingga mereka meninggalkan perjuangan tersebut. Tuhan menasihati agar orang percaya tidak putus asa. Orang percaya harus belajar dengan tekun bagaimana memiliki kesetiaan seperti Yesus, yang setia dengan tulus kepada Bapa. Yesus dengan gigih memikul salib dan mati dengan rela demi melakukan kehendak Bapa, walau hal itu sangat menyakitkan. Bahkan di saat-saat Bapa meninggalkan Dia, Yesus tetap memercayai Bapa-Nya. Itulah sebabnya Yesusdisebut Yang Setia. Kesetiaan seperti itu yang diinginkan Bapa dimiliki orang percaya.

Tuhan tahu, ada banyak kejahatan di dalam diri orang percaya yang terbentuk sejak lama. Itulah sebabnya ada saat-saat mereka bisa bertindak kurang ajar terhadap Tuhan. Orang percaya harus selalu mengingat Firman Tuhan melalui Petrus, yang menuli suratnya: Hendaklah kamu hidup dalam ketaatan dalam segala hal dan dalam segala keadaan, jangan turuti hawa nafsumu pada waktu kebodohanmu(1Ptr. 1:14). Hawa nafsu adalah segala keinginan dalam diri orang percaya yang tidak sesuai dengan keinginan Tuhan. Orang percaya memiliki banyak keinginan, artinya ada potensi dalam diri orang percaya untuk hidup dalam hawa nafsu yang menempatkan allah lain di hadapan-Nya. Oleh sebab itu, orang percaya harus belajar setia kepada Bapa. Itulah yang Tuhan Yesus ajarkan, yaitu memikul salib dan menyangkal diri. Tidak ada cara lain untuk menyenangkan hati Bapa, selain apa yang sudah dilakukan Yesus. Dialah Anak Bapa yang Bapa kasihi. Bapa berfirman agar orang percayamendengarkan Dia, yang sama dengan mengikuti teladan-Nya. Dengan demikian, orang percaya tidak akan berani mengingini sesuatu yang tidak menyukakan hati Bapa dan Tuhan Yesus. Pada ahirnya,orang percaya harus terlatih berperilaku seperti Yesus, dan dapat sepikiran dan seperasaan dengan Dia.

Kalau orang percaya melakukan segala sesuatu, maka semua yang dilakukan harus untuk kepentingan Kerajaan yang Bapa akan berikan kepada Tuhan Yesus, dan kepada orang percaya yang akan bersama-sama mewarisinya. Ini adalah janji yang Bapa berikan kepada Yesus, Putra Tunggal-Nya, juga kepada orang percaya yang menderita bersama-sama dengan Yesus. Hati Bapa puas kalau suatu hari Bapa melantik Putra Tunggal-Nya di dalam Kerajaan kekal dengan memahkotai-Nya sebagai Raja Kekekalan, dan orang percaya bersama-sama dengan Putra Bapa dalam kemuliaan yang sudah disediakan.

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.