08. MENUNTUN SEMUA BANGSA

Harus dipahami dengan benar bahwa orang-orang yang dipilih untuk mendengar Injil dan ditentukan hidup dengan standar menjadi kudus, tidak bercacat dan tidak bercela sebagai anak-anak Allah, tidak otomatis dapat hidup kudus dan tidak bercacat serta tidak bercela. Mereka yang ditentukan mendengar Injil dan diberi standar kekudusan tersebut tidak otomatis dapat mencapai standar kesucian tersebut. Respon individu sangat menentukan apakah seseorang benar-benar memenuhi panggilannya untuk dimuridkan atau mengerjakan keselamatan yang sama dengan menjadi umat pilihan yang terpilih. Respon itu adalah kesediaan untuk percaya dan taat kepada Tuhan Yesus. Hal ini sangat jelas tertulis dalam Roma 1:5, dengan perantaraan-Nya kami menerima kasih karunia dan jabatan rasul untuk menuntun semua bangsa, supaya mereka percaya dan taat kepada nama-Nya.

Dalam teks aslinya kalimat dalam Roma 1:5 adalah di ou elabomen kharin kai apostolen eis hupakoen pisteos en pasin tois ethnesin huper tou onomatos autou (δι᾽ οὗ ἐλάβομεν χάριν καὶ ἀποστολὴν εἰς ὑπακοὴν πίστεως ἐν πᾶσιν τοῖς ἔθνεσιν, ὑπὲρ τοῦ ὀνόματος αὐτοῦ). Jika kalimat ini diterjemahkan bebas bisa tertulis demikian: melalui kami yang memperoleh anugerah dan pelayanan kerasulan (menuntun) untuk (supaya) taat kepada iman dalam nama-Nya. Kata menuntun dalam terjemahan Bahasa Indonesia sebenarnya tidak ada dalam teks aslinya. Tetapi tidaklah keliru mencantumkan kalimat ini sebab pelayanan kerasulan yang dipercayakan Tuhan kepada Paulus memang untuk menuntun orang (bangsa-bangsa) agar taat kepada iman dalam nama Tuhan Yesus. Hal ini menunjukkan bahwa untuk menjadi umat yang taat, tidak bisa terjadi secara otomatis atau dengan mudah. Dalam hal ini Paulus dan semua para rasul harus berjuang untuk menuntun mereka. Hal ini sesungguhnya sesuai dengan Amanat Agung Tuhan Yesus, yaitu untuk menjadikan semua bangsa murid Tuhan Yesus (Mat. 28:18-20).

Pernyataan Paulus dalam ayat di atas (Rm. 1:5), bahwa Paulus menjadi rasul untuk “menuntun semua bangsa supaya percaya dan taat kepada Tuhan”, menunjukkan bahwa iman bukan sesuatu yang otomatis hinggap di dalam pikiran seseorang. Sekaligus kalimat tersebut mengisyaratkan bahwa iman bukan hanya diyakini dalam pikiran atau nalar, tetapi juga tindakan untuk menuruti (isi) iman itu. Itulah sebabnya harus ada tuntunan.

Kalimat “dalam nama-Nya” artinya memahami apa yang dikehendaki oleh Tuhan terkait dengan kesediaan percaya kepada Tuhan Yesus. Kata “dalam” (nama-Nya) teks aslinya adalah huper (ὑπέρ), yang selain berarti di dalam (Ing. In), berarti bagi (Ing. for), juga berarti atas nama atau demi (in behalf of, for the sake of). Betapa salahnya kalau seseorang merasa memiliki iman hanya karena dalam aktivitas nalar saja, yaitu dengan pikiran setuju bahwa Yesus adalah Tuhan dan Juruselamat, padahal itu hanya meyakini atau menerima status-Nya. Mengakui status Yesus sebagai Juruselamat bukanlah berarti sudah memercayai Pribadi-Nya. Mengakui status hanya ada di dalam pikiran, tetapi memercayai Pribadi seseorang harus dalam tindakan konkret. Untuk memahami dan memiliki tindakan dari percayanya kepada Tuhan Yesus dibutuhkan tuntunan. Paulus sebagai rasul memiliki panggilan ini.

Alkitab tidak mengajarkan bahwa Tuhan yang membuat sekelompok orang pasti bisa menerima Injil, sedangkan yang lain tidak dibuat untuk bisa menerimanya, berarti menolaknya. Hal ini sama dengan sekelompok manusia dibuat untuk tidak bisa menolak anugerah, sedangkan yang lain dibuat untuk tidak bisa menerima anugerah. Kalimat “supaya mereka percaya dan taat kepada nama-Nya” mengindikasikan bahwa percaya atau tidaknya mereka tergantung dari mereka sendiri, bukan ditentukan oleh Tuhan. Inilah yang dimaksud Lukas dalam Kisah Rasul 13:48 – Mendengar itu bergembiralah semua orang yang tidak mengenal Allah dan mereka memuliakan firman Tuhan; dan semua orang yang ditentukan Allah untuk hidup yang kekal, menjadi percaya. Orang yang ditentukan Allah untuk hidup kekal bukan hanya bangsa Yahudi, tetapi juga bangsa-bangsa kafir. Mereka yang bukan dari bangsa Yahudi pun bisa percaya. Tentu dalam hal ini bukan Tuhan yang membuat mereka percaya, tetapi dengan kehendak bebas mereka, mereka percaya.

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.