08. MENCARI TUHAN

Kalau Tuhan adalah Pribadi yang hidup, semestinya orang percaya dapat benar-benar berinteraksi dengan Dia secara konkret dan nyata. Kalau orang-orang tertentu yang memburu pengalaman supranatural dengan makhluk-makhluk halus, roh-roh jahat, atau kekuatan-kekuatan gaib dapat berhubungan dengan entitas-entitas ajaib tersebut, tentu saja orang percaya dapat berhubungan dengan Tuhannya. Orang-orang yang menginginkan dapat memiliki pengalaman supranatural dengan makhluk-makhluk halus, roh-roh jahat, atau kekuatan-kekuatan gaib, bersedia bersemedi berhari-hari, berbulan-bulan, atau bahkan bertahun-tahun. Mereka meninggalkan kehidupan dalam kewajaran, pergi ke tempat-tempat keramat, hutan-hutan, dan gua-gua gelap demi dapat menemui entitas-entitas supranatural. Sebagai hasilnya mereka memperoleh kesaktian, menjadi “orang pinter”, memiliki kekuatan-kekuatan supranatural, dan lain sebagainya. Mereka berani membayar harga sehingga mereka memperoleh apa yang mereka idam-idamkan.

Bagaimana dengan orang percaya? Bagaimanapun harus ada usahauntuk mencari Tuhan. Banyak ayat Firman Tuhan yang berbicara mengenai hal ini, seperti misalnya dalam Yesaya 55:6 tertulis: Carilah TUHAN selama Ia berkenan ditemui; berserulah kepada-Nya selama Ia dekat! Dari ayat ini jelas menunjukkan bahwa hal mencari Tuhan adalah usaha yang harus dilakukan orang percaya dengan sungguh-sungguh. Orang percaya harus berani membayar harga untuk dapat benar-benar menemukan Tuhan dan hidup berinteraksi dengan Dia. Apa dan berapa harga yang harus dibayar untuk itu?

Pertama, tidak bisa tidak seseorang yang mau menemukan Tuhan harus meninggalkan dosa, yang sama dengan hidup dalam kekudusan. Dalam 2 Korintus 6:17-18 Firman Tuhan mengatakan: Sebab itu: Keluarlah kamu dari antara mereka, dan pisahkanlah dirimu dari mereka, firman Tuhan, dan janganlah menjamah apa yang najis, maka Aku akan menerima kamu. Dan Aku akan menjadi Bapamu, dan kamu akan menjadi anak-anak-Ku laki-laki dan anak-anak-Ku perempuan demikianlah firman Tuhan, Yang Mahakuasa.” Dalam suratnya Petrus menulis bahwa sebagaimana Allah Bapa (Theos) adalah Pribadi yang kudus, maka umat juga harus kudus. Bahkan kalau orang percaya memanggil Bapa sebagai Allah, maka ia harus hidup dalam ketakutan, artinya dengan kehidupan yang berkenan.

Kedua, orang percaya harus memiliki tujuan hidup sesuai dengan rencana-Nya. Tuhan tidak akan berjalan dengan orang yang hidup di luar rencana dan kehendak-Nya. Dalam hal ini banyak orang Kristen yang sebenarnya tidak pernah berjalan dengan Tuhan. Mereka memiliki kesibukan sendiri, tanpa memperhatikan maksud Tuhan memanggil mereka menjadi umat pilihan. Umat pilihan dipanggil untuk mengalami perubahan kodrat, agar kehidupan Yesus dihidupkan di dalam diri mereka. Umat pilihan harus sempurna seperti Bapa dan serupa dengan Yesus. Selanjutnya, untuk semakin serupa dengan Yesus, orang percaya harus mengambil bagian dalan penderitaan Tuhan Yesus, artinya ikut serta dalam perjuangan mengubah orang lain. Itulah sesungguhnya pelayanan yang dikehendaki oleh Allah. Pelayanan bukan sekadar menjadi aktivis gereja atau pendeta, pelayanan adalah menyenangkan hati Tuhan dengan membawa jiwa-jiwa kepada pertobatan yang sejati.

Ketika Tuhan Yesus menyatakan bahwa Ia akan menyertai orang percaya, konteksnya adalah ketika Tuhan memberi Amanat Agung untuk ditunaikan setiap orang percaya (Mat. 28:18-20). Ini berarti Tuhan menyertai orang yang melakukan kehendak-Nya atau menunaikan tugas yang dipercayakan kepada mereka. Tuhan tidak menyertai orang yang hidup untuk dirinya sendiri. Orang yang hidup untuk dirinya sendiri pasti berurusan dengan Tuhan hanya untuk dapat memanfaatkan Tuhan untuk kepentingannya sendiri, bukan bagaimana hidup untuk kepentingan-Nya. Mereka adalah orang-orang yang oportunis, orang-orang yang hanya selalau memperhatikan kepentingan sendiri. Tidak jarang mereka tidak memedulikan kebutuhan orang lain. Orang-orang seperti ini berusaha memanfaatkan Tuhan, tetapi tidak membuka diri untuk dimanfaatkan oleh Tuhan. Mereka adalah hamba bagi diri sendiri, bukan hamba Tuhan.

Ketiga, untuk menemukan Tuhan orang percaya harus berani menginvestasikan waktunya untuk duduk diam di kaki Tuhan. “Duduk diam di kaki Tuhan” sebenarnya bukan pekerjaan yang mudah. Tidak heran kalau tidak banyak orang yang tekun dan setia dalam hal ini. Banyak orang hanya bertahan beberapa menit, tidak sampai lebih dari 30 menit.Duduk diam di kaki Tuhan bukan hanya sekadar menyampaikan permintaan atau menyanyikan lagu-lagu rohani dan menyembah dengan kata-kata. Tetapi berdiam diri untuk dapat menghayati kehadiran Tuhan secara konkret dan nyata. Latihan untuk ini dibutuhkan waktu bertahun-tahun, melalui jam-jam yang panjang.

Keempat, orang percaya harus teliti memperhatikan setiap peristiwa yang terjadi di sekelilingnya; baik yang didengar, dilihat, apalagi yang dialami secara langsung. Semua kejadian tersebut pasti dapat menunjukkan kehadiran Tuhan atau manuver Tuhan yang sangat cerdas, yang memberi pelajaran rohani dan verifikasi bahwa Dia Mahahadir. Dalam hal ini, orang dapat mengalami Tuhan secara konkret. Orang percaya yang mengalami perjumpaan dengan Tuhan dan bergaul dengan Dia, pasti memiliki buah-buah hidup yang tidak dimiliki oleh orang kebanyakan.

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.