8. MASIH MEMILIKI KEMANUSIAAN

Dengan kesediaan menanggalkan segala keinginan, bukan berarti kemanusiaan kita hilang. Kemanusiaan kita tidak pernah akan hilang. Kita tetap manusia dengan segala unsur kemanusiaan yang tidak pernah lenyap. Tuhan tidak pernah berkehendak menjadikan manusia sebagai makhluk yang berbeda dengan rancangan semula. Makhluk yang sesuai dengan rancangan semula adalah makhluk yang memiliki pikiran dan perasaan sehingga memiliki kehendak atau keinginan. Kehendak atau keinginan ini melekat dalam diri manusia bukan hanya sementara, yaitu ketika mengenakan tubuh jasmani di bumi. Tetapi di kekekalan, pikiran dan perasaan tetap dimiliki manusia. Di kekekalan, manusia juga memiliki kehendak atau keinginan. Dengan demikian di surga ada dinamisitas kehidupan yang sempurna.

Sebagai makhluk manusia, tentu saja Tuhan mengijinkan dan menghendaki kita menikmati kesenangan-kesenangan sebagai manusia dengan berkat-berkat yang Tuhan sediakan. Baik berkat jasmani maupun berkat rohani. Berkat-berkat tersebut antara lain: seks dengan pasangan hidup, makan dan minum, wisata, kebersamaan dengan keluarga dan sahabat, menikmati seni dan lain sebagainya. Sementara kita melakukan segala sesuatu yang dikehendaki oleh Tuhan, kita tetap menjadi manusia dengan menikmati segala kesenangan yang Tuhan berikan. Tentu saja dalam menikmati segala kesenangan hidup yang Tuhan sediakan, kita menikmatinya dalam persekutuan dengan Tuhan. Dalam hidup orang percaya yang dewasa, sementara menikmati semua hal yang patut dinikmati, kita tetap terikat dengan Tuhan. Terikat dengan Tuhan artinya memiliki hubungan yang eksklusif dengan Tuhan. Sehingga tidak ada satu pun kesenangan hidup yang dapat mengikat atau membelenggunya. Prinsip “asal ada makanan dan pakaian cukup” tetap menjadi prinsip hidup yang melandasi perjalanan hidup ini.

Di atas segala kesenangan hidup yang dapat dinikmati -orang percaya yang hidup dalam iman yang benar- kesukaannya adalah melakukan kehendak Bapa. Baginya itu adalah kesenangan hidup yang melampaui segalanya. Orang percaya seperti ini tidak lagi memiliki keinginan-keinginan seperti yang dimiliki oleh anak-anak dunia. Kalaupun ada keinginan memiliki sesuatu, maka dasarnya adalah karena hendak menggunakannya bagi Tuhan. Ini berbeda dengan manusia pada umumnya. Anak-anak dunia mengingini atau mau mencapai sesuatu yang tujuannya adalah untuk kepuasan dan kesenangan diri sendiri. Tentulah sesuatu yang diingini tersebut menjadi sarana memberi nilai diri lebih atau suatu kebanggaan bagi diri sendiri. Kebanggaan-kebanggaan inilah yang menjerat manusia menjadi gila hormat.

Dalam kehidupan ini, kalau kita hanya mau melakukan keinginan Tuhan, alasan atau dasarnya bukan karena kita harus berbuat demikian atau karena peraturan atau takut dihukum, tetapi karena kita mau membahagiakan dan menyenangkan hati-Nya. Tuhan sebenarnya bisa tidak membutuhkan kesenangan dari kita. Tuhan sudah bahagia, tetapi kalau kita boleh menyenangkan hati-Nya, ini adalah suatu anugerah yang luar biasa. Orang percaya yang agenda hidupnya hanya untuk menyenangkan Tuhan, tidak mengingini “macam-macam”. Hidupnya sederhana, tidak rumit dan tentu tidak berusaha menunjukkan kemewahan, walaupun kaya materi.

Bagaimanakah kita dapat tidak lagi memiliki keinginan dari diri sendiri? Hal ini tergantung dari diri kita masing-masing. Kita yang harus dengan sengaja dan sadar menanggalkan keinginan-keinginan dari diri sendiri. Dengan kerelaan menanggalkan keinginan dari diri sendiri, maka apa pun yang Tuhan berikan untuk dinikmati, terasa lebih membahagiakan dan benar-benar menyenangkan. Kita tidak akan pernah menjadi serakah lagi, tetapi bisa memenuhi prinsip yang diajarkan Paulus “asal ada makanan dan pakaian, cukuplah” (1Tim. 6:8). Kita juga dapat menyelenggarakan hidup sesuai dengan prinsip hidup Tuhan Yesus: Makanan-Ku adalah melakukan kehendak Bapa dan menyelesaikan pekerjaan-Nya (Yoh. 4:34).

Oleh sebab untuk melakukan keinginan Tuhan, kita harus terlebih dahulu menanggalkan keinginan kita sendiri, maka kita harus berjuang untuk menanggalkan keinginan diri sendiri tersebut. Perjuangan seperti ini sebenarnya perjuangan mengosongkan diri seperti yang Tuhan Yesus lakukan (Flp. 2:5-7). Perjuangan ini tidak dialami oleh semua orang. Ini hanya dialami oleh mereka yang memiliki anugerah atau yang menjadi umat pilihan. Mari kita melakukannya dengan rela dan sukacita. Orang yang mau melakukan keinginan-keinginan Tuhan adalah orang-orang yang menjadikan Tuhan sebagai kesukaan atau kegembiraan hidupnya. Orang yang tidak menjadikan Tuhan kegembiraan, pasti hidupnya tidak berkenan kepada Tuhan. Mereka tidak pernah menjadi anggota keluarga Kerajaan Surga.

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.