08. KUASA SUPAYA BERKODRAT ILAHI

Isi keselamatan adalah dibangunnya kodrat Ilahi dalam kehidupan manusia. Ini adalah usaha Tuhan mengembalikan manusia kepada rancangan semula. Tetapi bukan berarti proses ini bisa terwujud atau berlangsung hanya dari pihak Tuhan saja. Manusia juga dituntut untuk memberi diri dibentuk, agar dapat diubah demi mencapai target atau tujuan, yaitu menjadi manusia yang berkodrat Ilahi. Dalam hal ini, selain Allah harus aktif, manusia juga harus aktif. Untuk mewujudkan dibangunnya kodrat Ilahi atas manusia, Allah memberikan kuasa kepada orang percaya, supaya berkodrat Ilahi, yang sama dengan menjadi anak-anak Allah (Yoh. 1:12). Kata “kuasa” dalam teks ini adalah exousia (ἐξουσία), yang lebih tepat atau lebih dekat artinya bila diterjemahkan “hak” (Ing. right) atau sebuah hak istimewa (Ing. priviledge).

Perubahan kodrat tidak terjadi secara otomatis.Itulah sebabnya kuasa atau hak tersebut harus dimanfaatkan atau yang sama dengan mewujudkan proses dibangunnya kodrat Ilahi. Isi kuasa atau hak itu antara lain:

Pertama adalah penebusan. Dengan penebusan, seseorang dapat menjadi milik Tuhan (1Kor. 6:19-20). Tuhan Yesus berhak memuridkan orang percaya yang menjadi milik-Nya (Mat. 2:18-20). Setelah segala kuasa ada di tangan Tuhan Yesus, maka Tuhan memberikan Amanat Agung-Nya. Kuasa kegelapan tidak berhak lagi membelenggu orang yang ditebus, dengan demikian mereka yang menerima Yesus memiliki kemungkinan untuk dimuridkan guna tujuan keselamatan, yaitu berkodrat Ilahi.

Penebusan membuat orang percaya tidak berhak sama sekali atas dirinya.

Oleh sebab itu harus memberi diri untuk diubah sesuka hati Tuhan sesuai dengan rencana-Nya.

Kedua adalah Roh Kudus atau Roh Allah. Pada dasarnya keselamatan adalah usaha Tuhan mengembalikan manusia kepada rancangan-Nya yang semula, yaitu berkodrat Ilahi. Untuk dapat berkeadaan sebagai berkodrat Ilahi, orang percaya harus mengalami pencerahan pikiran sehingga seseorang dapat mengerti kehendak Allah secara sempurna. Roh Kudus adalah satu-satunya pribadi utusan Bapa yang dapat memberikan kemampuan kepada orang percaya untuk mengerti kehendak Allah, apa yang baik, yang berkenan dan yang sempurna (Yoh. 16:13; Rm. 12:2). Dengan demikian manusia dapat melakukan segala sesuatu tepat seperti yang dikehendaki oleh Bapa. Roh Kudus sebagai pendamping (Yun. Parakletos; παράκλητος) menuntun orang percaya kepada seluruh kebenaran Allah.

Tanpa Roh Kudus, perubahan ke arah berkodrat Ilahi
tidak akan terwujud dalam kehidupan orang percaya.

Ketiga adalah Injil. Injil adalah kuasa Allah yang menyelamatkan. Iman yang merupakan landasan keselamatan timbul dari mendengar Firman Kristus. Jadi, iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus (Yun. Rhematos Christou; ῥήματος Χριστου; Rm. 10:17). Firman Kristus itulah kebenaran Injil yang disuarakan Roh Kudus di dalam pikiran orang percaya. Jadi sangat jelas dan harus ditegaskan bahwa Injil adalah sarana keselamatan (Rm. 1:16-17). Terkait dengan hal ini, sebenarnya perubahan seseorang sehingga berkodrat Ilahi adalah bentuk Kelahiran Baru. Hal ini pada dasarnya sama dengan pencerahan pikiran terus menerus oleh Firman sehingga mengubah kodrat seseorang. Dalam hal tersebut kebenaran Injil adalah satu-satunya sarananya. Injil memuat pengenalan akan Allah atau kebenaran-Nya.

Orang yang memahami Injil dengan benar,
pasti memiliki Tuhan Yesus dan keselamatan-Nya.

Jadi, kalau seseorang tidak memahami Injil dengan benar, maka pastilah tidak akan pernah dimiliki dan memiliki Tuhan Yesus, serta tidak akan pernah mengalami keselamatan.

Keempat adalah penggarapan Allah. Penggarapan ini suatu anugerah yang luar biasa. Sarana keselamatan yaitu Roh Kudus dan Injil tidak berdaya guna tanpa penggarapan Allah. Alkitab menyatakan bahwa Allah bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah (Rm. 8:28).

Dalam hal ini semua pengalaman hidup adalah sekolah kehidupan
yang memroses seseorang untuk menjalani proses keselamatannya.

Perlu ditambahkan di sini bahwa dalam teks aslinya tidak ada kata “turut” seperti yang terdapat dalam teks Bahasa Indonesia.

Empat butir di atas adalah fasilitas keselamatan untuk dapat mewujudkan kodrat Ilahi.Tetapi itu jadi tidak berdaya guna kalau orang percaya tidak memanfaatkannya. Memanfaatkan fasilitas keselamatan berarti mengerjakan keselamatan. Dalam hal ini, Tuhan tidak memaksa seseorang giat mengerjakan keselamatannya. Dengan demikian, apakah kasih karunia atau anugerah yang Allah sediakan dialami atau diterima seseorang juga tergantung individu. Tetapi hal ini hendaknya tidak dipahami bahwa manusia menentukan keselamatan. Keselamatan datang dari Allah, manusia hanya sebagai pihak atau obyek penerima.

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.