08. KEADILAN SOSIAL EKONOMI

Harus dicatat bahwa perpuluhan yang dipraktikkan di Israel adalah praktik yang diselenggarakan pada masyarakat “teokrasi”. Teos berarti Allah, krasi atau kratos artinya pemerintahan. Teokrasi artinya pemerintahan Allah. Dalam Teokrasi Israel, hukum Taurat yang ketat diselenggarakan dalam hidup umat Israel. Hukum Taurat mengatur hidup semua orang, bukan hanya umat, tetapi juga para imam. Penyelenggaraan atau pengelolaan persembahan perpuluhan dan berbagai persembahan lain dilaksanakan dengan aturan yang jelas, dan tentu transparan. Semua pengelolaan perpuluhan dan persembahan lain diselenggarakan demi kesejahteraan bersama.

Ketika bangsa Israel menaklukkan Kanaan, Tuhan membagi tanah-tanah taklukkan itu untuk semua suku Israel, kecuali suku Lewi (Ul. 14:27-29; Bil. 18:24; Ibr. 7:5). Suku ini diperuntukkan bagi Tuhan. Mereka adalah menjadi pelayan-pelayan di Bait Allah dan yang menyelenggarakan ibadah dalam kemah suci atau Bait Allah. Kehidupan mereka ditopang oleh perpuluhan yang diberikan suku-suku Israel lainnya yang memperoleh pembagian tanah garapan. Ini adalah wujud “keadilan sosial” bagi seluruh masyarakat atau bangsa Israel. Tuhan sangat bijaksana mengatur keadilan sosial tersebut.

Harus diakui tidak ada bangsa di dunia ini yang memiliki pengaturan sosial ekonomi seperti bangsa tersebut. Sampai hari ini, di Israel,peraturan tersebut tetap dijalankan oleh komunitas-komunitas yang disebut kibbutz. Kibbutz adalah komunitas Yahudi yang hidup bersama di suatu lokasi; setiap anggotanya disebut khawer. Masing-masing khawer dengan rela bekerja bersama dan mengakui bahwa semua harta mereka milik bersama. Mereka memiliki tanah pertanian dan pabrik-pabrik serta mengelola bersama-sama demi kepentingan bersama pula. Tentu saja jiwa atau nafas filosofi kibbutzberasal dari nenek moyang mereka yang menegakkan keadilan sosial secara merata.

Persoalannya kemudian untuk kita yang hidup di zaman Perjanjian Baruadalah apakah pola persembahan perpuluhanseperti yang diselenggarakan di Israel tersebut bisa dikenakan? Tentu perpuluhantidak bisa dikenakan dengan jiwa dan nafas yang sama dengan umat Perjanjian Lama. Secara teknis bisa dilakukan, tetapi esensinya berbeda. Sebab keadaan bangsa Israel dengan keadaan kita sangat jauh berbeda. Kedudukan bangsa Israel dengan orang percaya berbeda. Demikian pula dengan kapasitas rohani atau standar moral atau etikanya pun juga berbeda. Maksud pernyataan ini bukan melarang memberi perpuluhan, tetapi jiwa atau nafas dalam memberikan persembahan harus sesuai dengan kebenaran batiniah oleh tuntunan Roh Kudus.

Di Israel, salah satu suku -yaitu suku Lewi- tidak mendapat bagian tanah taklukan di Kanaan, oleh sebab itu 11 suku lain harus membagi hasil bumi dan ternak mereka untuk saudara-saudara mereka dari suku Lewi tersebut. Tentu saja perhitungan ini tidak selalu sejajar dengan jumlah jemaat dengan satu keluarga pendeta. Kalau jumlah jemaat hanya 11 keluarga dan semua memberi perpuluhan untuk pendeta dan keluarganya, bisa jadi atau barangkali seimbang. Tetapi kalau 100 apalagi 1000 keluarga dalam jemaat, semua memberi perpuluhan untuk pendeta dan keluarganya, maka pendeta dan keluarganya menjadi berlimpah harta. Jika, persembahan uang jemaat tersebut digunakan oleh pendeta dan keluarganya untuk kepentingan pribadi, maka hal ini melanggar prinsip keadilan. Keluarga pendeta menjadi lebih kaya dari jemaat pada umumnya.

Di beberapa gereja tidak ada peraturan yang jelas dalam pengelolaan persembahan perpuluhan ini.Yang mereka pahami adalahperpuluhan untuk para imam dan keluarganya, dan mereka yang menjadi pendeta atau pemimpin jemaat merasa diri sebagai imam. Sehingga mereka merasa berhak menggunakan semua persembahan perpuluhan untuk diri mereka sendiri. Sebenarnya ini tidaklah salah, kalau jumlah jemaat masih sedikit dan jumlah uang perpuluhannya juga kecil, semua perpuluhan diberikan kepada pendeta tersebut. Pendeta dan keluarganya berhak menggunakan semua uang persembahan sesuai dengan kebutuhan pendeta dan keluarganya tersebut. Memang faktanya, tidak sedikit pendeta-pendeta yang berkekurangan secara ekonomi, karena jumlah perpuluhannya sangat sedikit, sehingga mereka harus mencari nafkah dari sumber lain. Tetapi kalau jumlah jemaat suatu gereja besar, dan jumlah perpuluhannya pun juga banyak, maka seorang pendeta seharusnya mengambil uang persembahan secukupnya.

Menjadi masalah yang rumit adalah berapa “secukupnya” itu? Tentu kebutuhan di kota berbeda dengan di desa atau di kampung pedalaman. Kebutuhan di kota besar berbeda dengan kebutuhan di kota kecil. Jumlah keluarga dan gaya hidup pendeta dan keluarganya juga sangat menentukan berapa nominal kebutuhan hidup mereka. Dalam hal ini kalau seorang pendeta atau pemimpin jemaat belum “mengalami kematian bagi dunia”, maka bisanya mereka dengan semena-mena menggunakan uang perpuluhan dan persembahan yang lain berdasarkan naluri duniawinya. Dalam situasi tersebut, keluarga pendeta tergoda untuk menggunakan perpuluhan dan persembahan lain secara sembarangan. Seharusnya atau idealnya, penggunaan perpuluhan harus dalam kontrol beberapa hamba Tuhan yang dapat dipercayai.

Kalau kita berbicara mengenai perpuluhan secara benar dan jujur sesuai dengan Alkitab, sehingga Alkitabiah bukan ayatiah, maka sulit untuk tidak menyimpulkan bahwa perpuluhan seharusnya tidak menjadi hukum dalam gereja Tuhan Perjanjian Baru. Tetapi hendaknya kita tidak mengatakan dan menunjuk bahwa mereka yang melaksanakan perpuluhan adalah gereja yang sesat. Kesalahan memahami perpuluhan dapat mengganggu pertumbuhan rohani untuk bisa menjadi orang Kristen yang menyerahkan seluruh harta dan uangnya bagi Tuhan.Di pihak lain, perpuluhan dapat dipakai oleh pendeta-pendeta yang tidak takut akan Allah untuk memperkaya diri tanpa batas. Mereka menggunakan otoritas ayat Alkitab guna kepentingan diri sendiri.

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.