08. HUKUM TAURAT YANG DISEMPURNAKAN

Dalam Roma 2:17-29 ini dinyatakan dengan sangat jelas, bahwa hukuman Allah berlaku atas semua orang yang melakukan pelanggaran, siapa pun mereka, di dalamnya termasuk umat pilihan Perjanjian Baru atau orang Kristen. Oleh sebab itu hendaknya orang Kristen tidak berpikir bahwa setelah menjadi orang Kristen tidak mungkin dihukum Tuhan sampai binasa. Seakan-akan korban Tuhan Yesus di kayu salib diyakini sudah membuat seseorang bebas dari semua tuntutan hukum dan hukuman. Sehingga mereka dapat meyakini masuk surga dengan mudah, seperti masuk jalan tol, di mana Tuhan Yesus telah membayar uang tolnya. Mereka lupa bahwa masuk jalan tol bukan berarti sudah sampai tujuan, tetapi harus menempuh perjalanan panjang untuk sampai tujuan.

Harus dimengerti bahwa siapa pun yang tidak hidup menurut Taurat, berarti melanggar kehendak Allah yang diwakilinya (hukum Taurat), orang tersebut pasti dihukum. Hukuman itu adalah kebinasaan. Betapa berbahayanya teologi yang mengesankan bahwa manusia tidak akan menghadap pengadilan Allah karena sudah ada penebusan. Betapa berbahayanya pandangan yang mengatakan bahwa korban Tuhan Yesus meniadakan pengadilan atas orang-orang tertentu dan sekaligus meniadakan Taurat. Harus selalu diingat bahwa Tuhan Yesus tidak meniadakan Taurat. Taurat dalam kehidupan bangsa Israel memuat tiga komponen: Pertama, Dekalog yang menjadi sumber perundang-undangan; kedua, Undang-undang Sipil dan ketiga, Undang-Undang Ibadah. Dari tiga komponen tersebut dapat diringkas menjadi dua hukum terutama yaitu mengasihi Allah dengan segenap hati, jiwa dan akal budi, dan mengasihi sesama manusia seperti mengasihi diri sendiri.

Pengajaran yang salah tersebut membuat manusia tidak waspada, sehingga mereka hidup ceroboh tanpa mereka sadari. Berbekal doktrin yang menyatakan bahwa keselamatan bukan karena perbuatan baik plus bahwa Allah sudah menentukan keselamatan individu secara sepihak, maka banyak orang Kristen tidak menjalani hidupnya dengan benar. Oleh sebab itu demi terhindar dari kebinasaan, yaitu terpisahnya manusia dari Allah yang hidup, manusia harus bertobat dan kembali kepada kebenaran Alkitab yang murni, bukan pada suatu doktrin produk zaman tertentu yang tidak lengkap atau belum utuh.

Seruan pertobatan dalam surat Roma tentu juga ditujukan kepada semua manusia, khususnya umat pilihan baik orang Yahudi maupun orang non Yahudi yang mendengar Injil, termasuk jemaat Roma sebagai penerima surat Roma. Seruan pertobatan tertulis dalam Roma 2:4-5: Maukah engkau menganggap sepi kekayaan kemurahan-Nya, kesabaran-Nya dan kelapangan hati-Nya? Tidakkah engkau tahu, bahwa maksud kemurahan Allah ialah menuntun engkau kepada pertobatan? Tetapi oleh kekerasan hatimu yang tidak mau bertobat, engkau menimbun murka atas dirimu sendiri pada hari waktu mana murka dan hukuman Allah yang adil akan dinyatakan.

Tuhan memberi kesempatan kepada semua manusia yang masa lalunya telah menerima pengaruh yang jahat sehingga nuraninya rusak. Nurani yang rusak adalah nurani yang tidak sesuai dengan standar kesucian Allah. Inilah yang dimaksud kehilangan kemuliaan Allah. Pertobatan dimaksudkan agar manusia dikembalikan ke rancangan Alllah semula untuk memperoleh atau mencapai kemuliaan Allah. Pertobatan dalam konteks orang percaya harus sampai pada perbaikan nurani, sehingga memiliki pikiran dan perasaan Kristus (Flp. 2:5-7). Jika tidak, maka pertobatannya tidak membawa pembenaran dan keselamatan yang benar. Tetapi kalau seseorang mengeraskan hati tidak mau bertobat, maka murka dan hukuman Allah yang adil akan dinyatakan kepada mereka.

Pada dasarnya menemukan kemuliaan Allah yang hilang sama dengan memiliki keberadaan karakter yang agung, sesuai dengan standar Allah, yaitu sempurna seperti Bapa atau serupa dengan Yesus. Standar kesucian Allah dimulai dari melakukan kebenaran sesuai dengan hukum (Taurat) yang Allah berikan. Selanjutnya, setelah mengenal kebenaran Injil, maka ditingkatkan dengan melakukan Taurat yang disempurnakan (Mat. 5:17). Hukum Taurat yang disempurnakan adalah kehendak Allah itu sendiri yang bersifat batiniah. Dalam hal ini Allah menilai apakah orang percaya umat Perjanjian baru sudah menjadi pelaku Firman atau tidak, tidak cukup diukur dengan ukuran lahiriah. Tetapi diukur dari keberadaan manusia batiniahnya. Manusia batiniah yang dikuduskan atau disempurnakan pasti membuat seseorang menampilkan kehidupan Ilahi yang luar biasa.

Dalam Roma 2 ini juga dimuat peringatan kepada mereka yang sudah menjadi pengajar Taurat atau pengajar Firman Tuhan. Seorang pengajar Taurat yang sama dengan mengajar Firman (Rm. 2:17-23), bukan berarti sudah menjadi pelakunya. Tidak sedikit orang yang tanpa sadar berpikir bahwa dirinya yang mengajar Taurat atau mengajar Firman Tuhan sudah menjadi pelaku Taurat atau Firman Tuhan yang diajarkannya. Perasaan yang salah tersebut menyesatkan. Hal ini memicu kemunafikan, bila hal ini berlangsung dalam waktu lama, sampai orang itu tidak pernah menyadari keadaannya yang sebenarnya.

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.