08. HUKUM ALLAH DALAM BATIN

Di mata manusia banyak orang sudah mendapat penilaian sebagai orang baik, mereka tidak dapat dituduh sebagai pelanggar hukum, tetapi di hadapan Allah sebenarnya mereka bukan orang-orang yang berkenan. Semua kita bisaberkeadaan seperti ini. Tetapi ketika sudah belajar kebenaran dalam tuntunan Roh Kudus, maka kita mulai memiliki suara di dalam hati kita mengenai kenyataan adanya sesuatu yang “jahat” di dalam diri kita. Sesuatu yang jahat tersebut-walau di mata manusia bisa dipandang bukan suatu kejahatan- tetapi membuat Roh Kudus atau perasaan Tuhan tidak nyaman. Hal itu sudah merupakan sesuatu yang menggelisahkan. Fenomena ini hanya terjadi pada orang yang sedang bergumul untuk sungguh-sungguh menyenangkan hati Tuhan, atau mau hidup tidak bercacat dan tidak bercela menurut ukuran Tuhan.

Terkait dengan hal di atas ini Paulus mengatakan:Sebab di dalam batinku aku suka akan hukum Allah, tetapi di dalam anggota-anggota tubuhku aku melihat hukum lain yang berjuang melawan hukum akal budiku dan membuat aku menjadi tawanan hukum dosa yang ada di dalam anggota-anggota tubuhku (Rm. 7:22-23). Paulus menyatakan bahwa ia menyukai hukum Allah. Teks aslinya berbunyi: sunedomai gar to nomo tou theou kata ton eso anthropon (συνήδομαι γὰρ τῷ νόμῳ τοῦ θεοῦ κατὰ τὸν ἔσω ἄνθρωπον). Sunedomai artinya I rejoice atau I delight (aku bersukacita atau aku menyukai). Gar artinya for (sebab). To nomo artinya in the law (kepada atau di dalam hukum). Tou theou artinya of God (Allah). Kata artinya down from, through out, according to, toward, along(preposisi yang memiliki beberapa pengertian). Terjemahan King James menterjemahkan sebagai “after”. Ton adalah definite article. Dalam bahasa Inggris diterjemahkan the. Eso artinya to within, into, inner, inward (kedalam manusia atau batinnya). Dengan demikian Roma 7:21 sebenarnya lebih tepat diterjemahkan: Aku menyukai hukum Allah yang ada di dalam batin atau di kedalaman hati manusia.

Dengan hal tersebut, maka apa yang dikemukakan di atas benar adanya, bahwa yang dipersoalkan bukanlah hukum secara umum, tetapi kebenaran dalam batin. Hal ini menyangkut kesucian Allah, yaitu apa yang berkenan di hadapan-Nya. Jadi, kalau dalam 2 Korintus 5:9-10, Paulus menyatakan bahwa ia berusaha untuk berkenan kepada Allah, inilah ukuran keberkenanan tersebut, yaitu kesucian Allah atau apa yang sesuai dengan selera Allah. Kalau hanya mengenai hukum Allah yang tertulis di atas kertas, Paulus sudah sangat ahli dan terbiasa “bermain” atau berada di wilayah tersebut; tetapi yang dimaksud Paulus adalah hukum Allah di dalam kedalaman batin atau hati manusia. Inilah hukum kesucian Allah atauhukum keberkenanan di hadapan Allah.

Hukum Allah di dalam batin manusia sebagai lawannya adalah “hukum lain” di dalam anggota tubuh. Dalam Roma 7:23 tertulis: …tetapi di dalam anggota-anggota tubuhku aku melihat hukum lain yang berjuang melawan hukum akal budiku dan membuat aku menjadi tawanan hukum dosa yang ada di dalam anggota-anggota tubuhku. Apa yang dimaksud dengan “hukum lain” di dalam anggota tubuh di sini? Harus dicatat di sini, bahwa kata tubuh dalam arti daging tidak ada dalam teks ini. Kalau ada, maka ada kata sarkikos (σαρκικός), tetapi yang ada dalam Roma 7:22 adalah kata melos (μέλος). Kata melos memang juga bisa bertalian dengan sarkikos, tetapi juga bisa berarti atau menunjuk suatu gairah yang bertentangan dengan kehendak Allah yang kudus di dalam diri seseorang, bisa dalam daging dan jiwa. Hal ini akibat dari pengalaman hidup masa lalu yang telah menggores dan membangun karakter.

Sebelum Paulus bertobat dan mengenal kebenaran Injil, ia tidak memiliki pergumulan ini. Ia menyaksikan bahwa ia tidak bercela dalam melakukan hukum Taurat. Paulus merasa bahwa dirinya adalah umat Allah yang benar, sehingga yang menjadi fokus hidupnya adalah membela agamanya dengan mendatangkan kesukaran bagi orang Kristen pada waktu itu. Paulus tidak perlu merasa menggumuli masalah batin, sebab ia merasa sudah tidak bercela. Fokusnya diarahkan bagaimana menganiaya orang Kristen dan memunahkan ajaran yang dipandangnya sesat.

Setelah mengenal Injil, mata hatinya terbuka melihat standar kesucian Allah yang luar biasa. Dari sinilah terjadi konflik di dalam batinnya, sampai ia berseru: Aku, manusia celaka! Siapakah yang akan melepaskan aku dari tubuh maut ini? (Rm. 7:24). Kata melepaskan dalam teks aslinya adalah rusetai (ῥύσεται) dari akar kata rhuomai (ῥύομαι), Kata ini selain berarti melepaskan, jugaberarti mengeluarkan atau menarik (to draw). Kata ini mengesankan kuat, bahwa Paulus seperti terpenjara oleh sesuatu dan ia membutuhkan kelepasan atau ditarik keluar dari penjara tersebut. Dari hal ini, kita dapat mengerti mengapa Paulus mengatakan dalam 2 Korintus 5:14-6 sebagai berikut: Sebab selama masih diam di dalam kemah ini, kita mengeluh oleh beratnya tekanan, karena kita mau mengenakan pakaian yang baru itu tanpa menanggalkan yang lama, supaya yang fana itu ditelan oleh hidup. Tetapi Allahlah yang justru mempersiapkan kita untuk hal itu dan yang mengaruniakan Roh, kepada kita sebagai jaminan segala sesuatu yang telah disediakan bagi kita. Maka oleh karena itu hati kami senantiasa tabah, meskipun kami sadar, bahwa selama kami mendiami tubuh ini, kami masih jauh dari Tuhan. Jelas dalam tulisannya ini ia merasa terpenjara.

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.