07. PEMBARINGAN TERAKHIR

Perjalanan waktu pasti akan membawa semua orang kepada tempat dan suasana yang disebut sebagai pembaringan terakhir. Pembaringan terakhir adalah tempat di mana tubuh direbahkan sebelum maut menjemput. Tidak seorang pun tahu di mana dan kapan pembaringan terakhir masing-masing individu akan mengalaminya. Ada orang yang tidur pada malam hari, tetapi esok paginya sudah terbujur kaku. Ternyata tempat tidur di rumah itulah pembaringan terakhirnya. Tidak sedikit orang yang pembaringan terakhirnya adalah jalan aspal, yaitu ketika ia tergeletak di jalan raya oleh karena suatu kecelakaan. Ada pula yang pembaringan terakhirnya adalah kursi pesawat, kursi bis, dan tempat duduk di kapal atau di dalam perjalanan. Mereka ada di sana ketika terjadi kecelakaan. Kursi-kursi itulah pembaringan terakhir sebab di situlah ia menghembuskan nafas terakhir, dan akhirnya kematian menjemput.

Kita harus benar-benar serius memikirkan realitas ini. Sangat langka -bahkan hampir tidak ada- orang yang dapat mengetahui tempat dan waktu dirinya menghadapi pembaringan terakhir. Tuhan pun sangat jarang menunjukkan tempat dan waktu pembaringan terakhir seseorang. Kalau seseorang tahu tempat dan waktu pembaringan terakhirnya, pasti akan memilih tempat pembaringan dan waktu yang menurutnya menyenangkan. Selain itu, dengan mengetahui waktu pembaringan terakhirnya, seseorang tidak bertobat secara natural. Kalau seseorang tidak tahu waktu pembaringan terakhirnya, sejatinya ia akan berjaga-jaga setiap saat. Dengan demikian ia membangun kehidupan yang berkenan kepada-Nya.

Sebenarnya tempat dan waktu pembaringan terakhir bukanlah masalah sama sekali. Juga bukan masalah sama sekali di mana seseorang akan dikuburkan. Juga bukan sesuatu yang patut dipersoalkan, peti mati macam apakah yang harus dipersiapkan seseorang untuk jasadnya. Yang menjadi masalah adalah di mana roh dan jiwa seseorang berada setelah tubuh fananya dikubur. Sungguh malang sekali, banyak orang mempersiapkan peti mati dan tanah pekuburan sebelum meninggal, tetapi tidak mempersiapkan kepastian kediaman roh dan jiwa di mana akan dibaringkan setelah tubuh dikubur dan hancur bersama dengan tanah.

Harus dipertimbangkan, bukan tidak mungkin tempat tidur yang sekarang seseorang gunakan tidur setiap malam adalah pembaringan terakhirnya. Dengan merenungkan hal ini, maka kita dapat lebih berjaga-jaga untuk bertemu dengan Tuhan yang akan menghakimi semua orang secara adil. Tidak ada orang yang lolos dari pengadilan-Nya. Setiap orang harus mempertanggungjawabkan semua perbuatannya. Itulah sebabnya dalam suratnya Paulus mengatakan: “Sebab itu juga kami berusaha, baik kami diam di dalam tubuh ini, maupun kami diam di luarnya, supaya kami berkenan kepada-Nya” (2Kor. 5:9).

Di pembaringan terakhir sebelum seseorang melepaskan ajal, itulah situasi di mana tidak seorang pun dapat menemani. Pasangan hidup, orang tua, teman terdekat, atau siapa pun tidak bisa mendampingi. Ruangan hidup akan terasa begitu sepi. Sepi sekali. Ruangan hati pun juga terasa kosong, kosong sekali. Diharapkan di sana ada Tuhan Yesus yang selama menjalani hidup memang sudah menempatinya dengan nyaman. Dengan nyaman artinya tidak ada yang lain selain Dia. Sebab kita tidak bisa mengabdi kepada dua tuan. Kalau tidak, berarti Dia tidak ada di sana. Tuhan Yesus menginginkan ruangan idup kita menjadi ruangan pribadi-Nya. Jika tidak, maka Tuhan tidak ada di sana. Faktanya, sebagian besar orang tidak melakukan apa yang dikehendaki Tuhan. Mereka lebih mengutamakan apa yang diingininya sendiri (Yak. 4:1-4). Sehingga mereka tidak memiliki Tuhan Yesus dalam hidupnya.

Di pembaringan terakhir, kekayaan, gelar, pangkat, popularitas, kecantikan dan penampilan menarik, kekuatan fisik pun tidak bisa menolong atau menopang. Pada waktu itu ia tidak akan merasa membutuhkan apa pun, makan minum, perhiasan, rumah, mobil, dan lain sebagainya. Barulah disadari apa yang dikatakan Tuhan Yesus bahwa hidup manusia tidaklah tergantung dari kekayaan (Luk. 12:15). Barulah disadari pula bahwa memang semua yang selama ini dikejar adalah mamon yang tidak jujur, artinya tidak bisa dipercayai. Pada saat seperti itu barulah ia menyadari sepenuhnya bahwa materi atau kekayaan -yang selama ini dianggap sebagai penopang hidup yang utama- tidak berdaya sama sekali.

Itulah mamon yang tidak jujur, kekuatan yang ternyata menipu. Pada waktu itu seseorang tidak ingin mengenakan cincin yang selama ini menjadi kebanggaan, tidak ingin mengendarai mobil yang selama ini menjadi nilai diri, dan rumah yang selama ini menjadi istana keagungan. Pada waktu itu seseorang sudah berhenti menghitung jumlah deposito atau pemasukan keuntungan per bulan dan per hari. Pada waktu itu pula seseorang yang bergantung kepada mamon yang tidak jujur atau menipu bisa merasakan pengkhianatannya.

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.