07. MENUNJUKKAN KEMURAHAN

Dalam Roma 11:32 Paulus menyampaikan sesuatu yang jika salah dimahami dapat membangun pemikiran yang salah. Dalam ayat itu Paulus mengatakan: “Sebab Allah telah mengurung semua orang dalam ketidaktaatan, supaya Ia dapat menunjukkan kemurahan-Nya atas mereka semua.” Kalimat dari tulisan Paulus ini bukan bermaksud hendak menyatakan bahwa Allah secara sepihak dari kehendak bebas-Nya yang absolut dan mutlak, menentukan segala sesuatu, termasuk membelenggu orang-orang tertentu untuk tetap dalam cengkeraman dosa. Ada teolog-teolog yang berpandangan bahwa Allah sengaja membelenggu manusia dalam cengkeraman dosa, hal itu dimaksudkan agar Dia bisa menunjukkan kemurahan-Nya. Jika benar demikian, betapa miskin dan tidak agungnya allah seperti itu. Sesungguhnya, maksud tulisan Paulus tidaklah demikian.

Dalam teks aslinya, ayat tersebut bisa diartikan sebagai berikut: Pada waktu lampau Allah membiarkan semua (maksudnya adalah bangsa Israel) hidup dalam ketidaktaatan. Kata “ketidaktaatan” dalam teks ini adalah sugkleio (συγκλείω) yang memiliki beberapa pengertian antara lain: conclude, inclose, shut up (keputusan yang diambil setelah membuat pertimbangan, membungkus, membungkam). Ketidaktaatan di sini harus dipahami dengan tepat. Ketidaktataan di sini juga bisa berarti kebutaan mengenali sesuatu karena kebodohan, sehingga tidak memiliki pertimbangan yang benar, sebagai akibatnya akan terjadi kesalahan dalam mengambil keputusan. Jadi, sangatlah jelas maksudnya bahwa Allah tidak menentukan secara sepihak keinginan mengeraskan hati sehingga ada orang-orang yang tidak bisa taat, sebaliknya ada orang-orang yang dibuat bisa taat.

Hal di atas ini terkait dengan sikap bangsa Israel terhadap kebenaran atau kesucian Tuhan. Selama ribuan tahun mereka hidup dalam kebodohan. Setelah hadir keselamatan dalam Yesus Kristus, Allah menunjukkan kemurahan-Nya, yaitu kebenaran atau jalan kehidupan di mana bangsa Israel -tentu juga sama seperti semua orang percaya- dapat mencapai kesucian atau kesempurnaan. Kata “menunjukkan kemurahan” dalam teks aslinya adalah eleoo (ἐλεέω), yang lebih berarti to compassionate (berbelaskasihan). Ini berarti bahwa Allah membelaskasihani manusia pada waktunya, dengan menunjukkan keselamatan dalam Yesus Kristus.

Akhirnya Paulus menambahkan tulisannya dengan pernyataan ini: “O, alangkah dalamnya kekayaan, hikmat dan pengetahuan Allah! Sungguh tak terselidiki keputusan-keputusan-Nya dan sungguh tak terselami jalan-jalan-Nya! Sebab, siapakah yang mengetahui pikiran Tuhan? Atau siapakah yang pernah menjadi penasihat-Nya? Atau siapakah yang pernah memberikan sesuatu kepada-Nya, sehingga Ia harus menggantikannya?” (Rm. 11:33-35). Selama ratusan bahkan ribuan tahun, Allah membiarkan bangsa Israel dalam kebodohan, tidak mengenal kebenaran. Kemudian, Allah menetapkan suatu saat, di mana Allah Bapa mengutus Putra Tunggal-Nya datang ke bumi membawa dan mengajarkan kebenaran.

Pertanyaan yang bisa muncul adalah: Mengapa kedatangan Putra-Nya tidak pada abad sebelum Masehi? Mengapa baru pada zaman kekaisaran Roma menguasai Palestina? Pada saat mana bangsa Israel sedang tertindas oleh bangsa kafir tersebut. Tentu saja semua itu dilakukan Tuhan tanpa pertimbangan siapa pun, tidak berdasarkan masukan siapa pun, Ia berdaulat dalam bertindak dan mengambil keputusan. Allah adalah Pribadi yang independen dari siapa pun atau apa pun. Pikiran-Nya tidak terselami dan tidak terjajaki oleh siapa pun. Dalam kesempurnaan hikmat-Nya, Ia mengambil keputusan dan bertindak.

Kebenaran yang Tuhan berikan adalah kebenaran yang melampaui segala kekayaan, hikmat dan pengetahuan manapun juga. Kata “kekayaan” dalam konteks ini secara figuratif menunjuk kepada kekayaan rohani. Kebenaran itu ada di dalam Injil-Nya, yang dirindukan untuk didengar para nabi dan orang-orang benar di zaman Perjanjian Lama. Sebagai pujian kepada Allah dan pengakuan terhadap keberadaan Allah, Paulus menyatakan: “Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!” Ketika Paulus berbicara mengenai segala sesuatu dari Dia, dan oleh Dia dan bagi Dia, konteksnya bukan mengenai apa pun, tetapi mengenai kekayaan, hikmat dan pengetahuan Allah. Dengan pernyataan ini, Paulus hendak menunjukkan semua harus mengarah kepada kepentingan dan kemuliaan Tuhan Yesus Kristus.

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.